Jakarta, tvOnenews.com – Presiden Prabowo Subianto melontarkan pernyataan keras saat menghadiri Penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).
Di hadapan para ulama dan tokoh NU, Prabowo mengaku terkejut setelah melihat langsung data dan fakta pengelolaan kekayaan negara sejak menjabat sebagai presiden.
Prabowo menegaskan bahwa sudah saatnya bangsa Indonesia berhenti menutupi persoalan dengan retorika manis dan mulai berbicara secara terbuka mengenai berbagai penyimpangan yang terjadi selama puluhan tahun.
“Kita tidak perlu bicara manis-manis karena itu memang sering bangsa Indonesia suka bicara yang manis-manis di depan. Kita kadang-kadang tidak mau bicara apa adanya, tapi saya kira sudah saatnya kita bicara apa adanya,” kata Prabowo.
Menurut Kepala Negara, setelah mempelajari berbagai data pemerintahan, ia menemukan fakta bahwa banyak kekayaan negara yang seharusnya dinikmati rakyat justru hilang akibat berbagai penyimpangan yang dibiarkan berlangsung dalam waktu lama.
“Bahwa setelah sekian puluh tahun kita merdeka, apalagi sesudah saya menjadi presiden, saya melihat data-data, fakta-fakta, saya merasa bahwa sesungguhnya banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang kita, yang kita membiarkan,” ujarnya.
Prabowo menilai penyimpangan tersebut menjadi salah satu penyebab utama mengapa Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan meski memiliki sumber daya alam yang melimpah. Ia menyoroti besarnya kekayaan bangsa yang justru dinikmati oleh segelintir pihak.
“Penyimpangan-penyimpangan ini menurut keyakinan saya, inilah yang membuat bangsa kita dalam keadaan sekarang di mana kita harus mengakui terlalu banyak kekayaan negara yang hilang, yang diambil dari hak rakyat, hak bangsa, memperkaya segelintir orang saja,” tegasnya.
Lebih jauh, Prabowo mengungkapkan bahwa sebagian besar kekayaan tersebut bahkan tidak berputar di dalam negeri, melainkan mengalir ke luar negeri sehingga manfaatnya tidak dirasakan oleh masyarakat Indonesia.
“Bahkan kekayaan tersebut terlalu banyak mengalir ke luar negeri, tidak tinggal di bangsa Indonesia,” lanjutnya.
Dalam pidatonya, Prabowo mengingatkan bahwa bangsa Indonesia harus berani menghadapi kenyataan dan melakukan pembenahan mendasar agar kekayaan nasional dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.




