Selama bertahun-tahun, KA Rajabasa relasi Tanjungkarang–Kertapati, yang menghubungkan Lampung dan Sumatera Selatan, menjadi andalan masyarakat untuk bepergian. Tarifnya hanya Rp 32.000 menempuh jarak 389 kilometer. Rajabasa menjadi pilihan strategis transportasi publik yang aman dan murah.
Kini, layanan KA Rajabasa relasi Tanjungkarang-Kertapati (PP) hadir dengan Kereta Ekonomi Premium Modifikasi yang lebih nyaman. Kereta itu akan mulai beroperasi pada 4 Juli 2026 untuk melayani penumpang.
Dari Stasiun Tanjung Karang, Lampung, KA Rajabasa berangkat pukul 08.30 WIB dan akan tiba di Stasiun Kertapati, Sumatera Selatan, pada pukul 18.15 WIB.
Pada Senin (22/6/2026), KA Rajabasa masih diparkir di Depo Lokomotif Tanjung Karang untuk kesiapan operasi. Sejumlah media di Lampung mendapat kesempatan untuk melihat langsung desain interior kereta sebelum dioperasikan untuk publik.
Kenyamanan fasilitas kereta terbaru ini langsung terasa saat memasuki gerbong penumpang. Udara sejuk dari pendingin ruangan terasa menyegarkan, kontras dengan terik matahari di luar ruangan.
Kursi penumpang yang didominasi warna cokelat berderet rapi di sepanjang gerbong. Kursi-kuri itu memberikan kesan hangat, bersih, dan nyaman.
Berbeda dengan KA Rajabasa lama, kursi penumpang pada kereta baru ini dibuat terpisah untuk setiap individu. Kursi juga dilengkapi dengan sandaran tangan dan sandangan lengan. Konfigurasi tempat duduk 2-2 membuat ruang gerak penumpang terasa lebih lega dan nyaman.
Di sisi dinding gerbong, tersedia stop kontak yang dapat digunakan untuk pengisian daya listrik. Dengan begitu, penumpang tidak perlu khawatir perangkat eketroniknya bakal kehabisan baterai selama di perjalanan.
Manager Humas KAI Divre IV Tanjungkarang Azhar Zaki Assjari, mengatakan bahwa peningkatan sarana ini merupakan bentuk komitmen KAI dalam menghadirkan layanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kehadiran KA baru ini diharapkan membuat penumpang tetap merasa nyaman saat menempuh perjalanan jarak jauh, selama 9-10 jam.
Dia menerangkan, pengadaan kereta tersebut dilakukan dengan skema Public Service Obligation (PSO). Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan memberikan dukungan subsidi sehingga masyarakat bisa tetap menikmati harga yang sangat terjangkau.
“Melalui peningkatan sarana ini, pelanggan tetap dapat menikmati tarif yang terjangkau karena KA Rajabasa merupakan kereta PSO. Namun, dengan kualitas kenyamanan yang semakin baik,” kata Zaki saat diwawancarai di Bandar Lampung.
Tarif KA Rajabasa untuk relasi terjauh Tanjungkarang-Kertapati dijual tanpa ada kenaikan harga, yakni hanya Rp 32.000 per tempat duduk. Dengan harga yang relatif murah, penumpang sudah mendapatkan fasilitas yang lebih modern dan nyaman dibandingkan kereta sebelumnya.
KA Rajabasa terdiri dari delapan rangkaian gerbong. Total kapasitas penumpang mencapai 640 tempat duduk untuk setiap perjalanan. Selain itu, terdapat gerbong kereta restoran, diperuntukkan bagi penumpang yang ingin memesan makanan atau minuman selama di perjalanan.
Jumlah tempat duduk di KA ekonomi premium modifikasi ini lebih sedikit dibandingkan dengan KA sebelumnya. Sebelumnya, jumlah kursi pada KA Rajabasa mencapai 848 tempat duduk dengan model kursi tegak lurus tanpa sekat.
Zaki menyebut, kereta terbaru ini memang didesain untuk meningkatkan kenyamanan penumpang, sehingga diperlukan penyesuaian jumlah tempat duduk. Karena alasan itu, kapasitas tempat duduk di dalam kereta pun dikurangi agar tetap ideal dan memberikan ruang yang lebih lega bagi penumpang.
Menurut dia, masyarakat yang ingin merasakan fasilitas KA Rajabasa sudah bisa melakukan pembelian tiket secara daring. Hingga saat ini, tiket KA Rajabasa relasi Tanjungkarang-Kertapati juga sudah mulai terjual. Masa libur sekolah membuat permintaan tiket kereta api mulai meningkat seiring banyaknya masyarakat yang merencanakan perjalanan.
Dia menambahkan, antusiasme masyarakat menggunakan kereta api juga tercermin dari jumlah pengguna yang terus meningkat. Sepanjang tahun 2025, KA Rajabasa melayani 686.788 penumpang. Sementara pada periode Januari-Mei 2026, jumlah pelanggan mencapai 388.190 orang. Jumlah itu meningkat 38,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kami berharap peningkatan kenyamanan ini semakin mendorong masyarakat untuk memilih kereta api sebagai moda transportasi yang aman, nyaman, tepat waktu, dan tetap terjangkau. KAI akan terus berinovasi untuk menghadirkan layanan terbaik bagi seluruh pelanggan,” tutur Zaki.
Inovasi layanan yang dihadirkan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) itu disambut baik oleh masyarakat pengguna kereta api. Ardi (26), seorang pekerja di Bandar Lampung mengatakan, Dia sering menggunakan RA Rajabasa untuk pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Way Kanan, Lampung.
Menurut dia, fasilitas kereta sangat berpengaruh dengan kenyamanan penumpang. KA Rajabasa yang mempunyai model kursi tegak lurus tanpa sekat seringkali membuat penumpang tak nyaman karena sandaran kursi tidak bisa diatur sesuai kebutuhan. Selain itu, desain kursi tanpa sekat membuat penumpang duduk berdempetan sehingga ruang gerak terbatas.
Padahal, waktu tempuh dari Bandar Lampung ke Way Kanan cukup lama, sekitar empat jam perjalanan. Ia mengaku harus menekuk lutut hampir sepanjang perjalanan karena ruang gerak untuk kaki cukup sempit.
Karena itu, Ardi mengapresiasi langkah KAI yang meningkatkan layanan KA Rajabasa untuk penumpang. Dengan begitu, penumpang akan merasa lebih nyaman saat naik transportasi kereta api.
Meski begitu, Ardi mengaku seringkali kesulitan mendapat tiket kereta saat harus pulang mendadak ke kampug halaman. Jika ingin mudik. Ardi mengaku harus “ticket war” alias bersaing membeli tiket secara daring sejak 1-2 minggu sebelum jadwal keberangkatan yang dia rencanakan.
Kalau tidak begitu, Ardi seringkali kehabisan tiket. “Tiket keretanya enggak bisa dibeli dadakan, harus dari jauh-jauh hari,” ucapnya.
Dia berharap, KAI bisa menambah frekuansi perjalanan kereta api penumpang untuk masyarakat. Pasalnya, cukup banyak pekerja di Bandar Lampung yang mengandalkan kereta api sebagai transportasi publik yang aman dan terjangkau.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Pemberdayaan Wilayah I (Barat) Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Aditya Mahatidanar Hidayat menilai, modernisasi KA Rajabasa merupakan langkah yang sangat positif dan patut diapresiasi. Selama ini KA Rajabasa yang menghubungkan Lampung dengan Sumatera Selatan menjadi salah satu moda transportasi andalan masyarakat untuk bepergian karena tarifnya terjangkau dan dapat diandalkan.
Menurut dia, peningkatan fasilitas, seperti kursi yang lebih nyaman, pendingin udara yang lebih baik, serta hadirnya kereta makan akan memberikan pengalaman perjalanan berbeda bagi penumpang. Apalagi, tarif kereta tetap dipertahankan sebesar Rp 32.000 per tempat duduk.
“Di tengah meningkatnya biaya transportasi, masyarakat memperoleh layanan yang lebih baik tanpa harus membayar lebih mahal. Ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pelayanan publik tidak selalu harus diikuti dengan kenaikan tarif. Dari sisi pengguna, tentu ini merupakan kabar baik,” kata Aditya.
Dia meyakini, kualitas layanan yang semakin baik akan membuat masyarakat semakin tertarik menggunakan moda transportasi kereta api. Masyarakat tidak hanya mempertimbangkan tarif, tetapi juga kenyamanan, keamanan, dan kepastian waktu tempuh. Untuk perjalanan Lampung-Sumatera Selatan yang membutuhkan waktu 9-10 jam, faktor kenyamanan tentu menjadi pertimbangan penting.
Tren penggunaan kereta api di wilayah Divre IV Tanjungkarang juga menunjukkan kenaikan dalam beberapa tahun terakhir. “Data tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap kereta api sebenarnya terus tumbuh. Dengan peningkatan kualitas layanan seperti yang dilakukan pada KA Rajabasa, peluang masyarakat beralih dari kendaraan pribadi maupun moda transportasi jalan raya menjadi semakin besar,” tambahnya.
Menurut dia, pengurangan kapasitas memang menjadi konsekuensi dari peningkatan kenyamanan. Ketika ruang penumpang dibuat lebih lega dan kualitas tempat duduk ditingkatkan, jumlah kursi otomatis berkurang.
Dari sisi pelayanan, kata dia, hal itu merupakan kemajuan. Namun, dari perspektif transportasi publik, pengurangan sekitar 200 kursi juga perlu dicermati dengan serius. Jangan sampai peningkatan kenyamanan justru mengurangi akses masyarakat terhadap layanan kereta api.
“Permintaan masyarakat terhadap kereta terus menunjukkan tren peningkatan. Jika tingkat okupansi tetap tinggi, kapasitas yang berkurang berpotensi menyebabkan tiket semakin sulit diperoleh pada akhir pekan, masa liburan, maupun musim mudik,” tambahnya.
Karena itu, KAI perlu melakukan evaluasi terhadap tingkat keterisian kereta secara berkala. Jika permintaan terus meningkat, maka peningkatan kualitas layanan sebaiknya diimbangi dengan penambahan frekuensi perjalanan atau penambahan rangkaian kereta agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat.
Idealnya, peningkatan kualitas layanan sejalan dengan peningkatan kapasitas, frekuensi perjalanan, dan dukungan kebijakan yang memadai. Dengan demikian, kereta api benar-benar menjadi tulang punggung transportasi massal yang aman, nyaman, terjangkau, dan berkelanjutan di Sumatera.
Persoalannya, pembangunan transportasi di Sumatera cenderung masih berorientasi pada jalan raya. Akibatnya, hampir seluruh pertumbuhan mobilitas masyarakat dibebankan pada Jalan Lintas Sumatera. Padahal, saat ini, kondisi Jalan Lintas Sumatera sudah cukup padat dengan lalu lintas kendaraan barang dan kendaraan pribadi. Beban jalan semakin berat, biaya perjalanan besar, dan risiko kecelakaan tinggi.
Dengan kondisi seperti itu, moda transportasi kereta api seharusnya memperoleh porsi pengembangan yang lebih besar demi meningkatkan kapasitas, keselamatan, efisiensi energi, dan keberlanjutan lingkungan.
“Jika pemerintah serius ingin mengurangi angka kecelakaan lalu lintas, menekan biaya transportasi, serta meningkatkan konektivitas antarwilayah, maka investasi pada layanan kereta penumpang tidak boleh dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai kebutuhan strategis,” tegas Aditya yang juga dosen Fakultas Teknik di Universitas Bandar Lampung.
Dia menilai, lonjakan permintaan yang selalu terjadi pada musim liburan maupun mudik menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya membutuhkan transportasi kereta api. Karena itu, perlu ada kajian yang lebih komprehensif mengenai tingkat okupansi dan kebutuhan masyarakat, termasuk permintaan yang belum terlayani, tserta proyeksi pertumbuhan penumpang di masa depan. Kajian itu penting untuk pengembangan layanan kereta api di Sumatera.
Selama ini, pembangunan perkeretaapian di Sumatera memang lebih banyak diarahkan untuk mendukung distribusi komoditas, khususnya batubara. Dari sisi ekonomi, hal itu memang penting dan memberikan kontribusi yang besar.
Namun, kebutuhan mobilitas masyarakat juga perlu mendapatkan perhatian yang setara. Pertumbuhan penduduk, perkembangan kawasan perkotaan, dan pesatnya aktivitas ekonomi membuat layanan kereta penumpang semakin penting.
“Pengembangan layanan kereta penumpang perlu menjadi bagian dari kebijakan transportasi jangka panjang, bukan sekadar proyek sektoral atau pelengkap pembangunan. Ke depan, perlu ada keseimbangan yang lebih baik antara fungsi logistik dan fungsi pelayanan publik agar manfaat perkeretaapian dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” katanya.
Menurut dia, modernisasi KA Rajabasa yang dilakukan saat ini perlu menjadi momentum untuk membangun kembali budaya menggunakan transportasi massal. Setelah peningkatan kenyaman, tantangan KAI bisa menambah frekuensi perjalanan sehingga masyarakat memiliki lebih banyak pilihan jadwal. “Integrasi dengan moda transportasi lain juga harus diperkuat sehingga perjalanan dari rumah menuju stasiun dan dari stasiun menuju tujuan akhir dapat berlangsung dengan mudah,” tambahnya.
Hal yang tidak kalah penting ada;ah perubahan cara pandang terhadap pembangunan transportasi. Selama ini, keberhasilan pembangunan transportasi sering diukur dari panjang jalan yang dibangun atau jumlah kendaraan yang dapat dilayani.
Ke depan, ukuran keberhasilan pembangunan transportasi harus mengacu pada seberapa banyak masyarakat yang dapat berpindah secara aman, nyaman, efisien, dan berkelanjutan menggunakan transportasi massal. Karena itu, kereta api perlu ditempatkan sebagai tulang punggung mobilitas antarkota, bukan sekadar alternatif ketika jalan raya mulai macet.





