Di tangannya tergenggam tiga rapor. Susiati Rahayu (47) membuka satu per satu rapor tersebut di halaman Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 19 Sonosewu Bantul, Sabtu (20/6/2026).
Di sampingnya duduk Nurbaiti, Nurlaili, dan Nuraini, tiga anak bungsu dari enam putri yang dibesarkannya. Siang itu, ketiganya baru saja menyelesaikan tahun pertama di Sekolah Rakyat.
Di antara sekitar 200 siswa yang menempuh pendidikan di SRMA 19 Sonosewu Bantul, mereka menjadi satu-satunya saudari kembar tiga. Ketiganya lahir melalui operasi sesar pada 14 April 2009 dengan jeda waktu hanya lima menit.
“Alhamdulillah, nggak nyangka juga. Sudah SMA aja, sudah mau kelas dua,” ujar Susi kepada Pandangan Jogja.
Seorang Diri Membesarkan Enam Putri
Bagi sebagian orang, tiga rapor itu mungkin hanya menandai berakhirnya satu tahun ajaran. Namun bagi Susi, rapor tersebut menyimpan perjalanan panjang yang tidak mudah.
Sejak berpisah dengan suaminya pada 2016, sebagian besar tanggung jawab keluarga berada di pundaknya. Anak sulungnya tinggal bersama sang nenek di kawasan Lempuyangan, sementara lima anak lainnya tumbuh bersamanya di Dusun Senowo, Kalurahan Argorejo, Kapanewon Sedayu, Bantul.
Susi masih mengingat masa ketika beberapa anaknya duduk di bangku SD sementara yang lain sudah SMP. Saat itu, keluarga hanya memiliki satu sepeda motor yang digunakan untuk mengantar dan menjemput anak-anaknya setiap hari.
“Yang satu ikut neneknya di Lempuyangan, yang lima ikut saya di Sedayu. Jadi berlima antar jemput, motor cuma satu waktu itu,” kenangnya.
Hari-harinya diisi dengan bekerja sekaligus mengurus keluarga. Ia pernah membantu berjualan di kios keluarga di kawasan Stasiun Lempuyangan, menerima berbagai pekerjaan serabutan, hingga kini menjadi pengemudi ShopeeFood.
“Apa saja dikerjain yang penting halal,” katanya.
Di tengah berbagai keterbatasan, pendidikan anak-anak menjadi hal yang paling sering ia pikirkan. Hampir setiap pembagian rapor, ia mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) atau mencari bantuan ke berbagai lembaga agar anak-anaknya tetap bisa bersekolah.
Meski demikian, Susi berusaha menjalani hidup dengan keyakinan bahwa setiap persoalan akan menemukan jalan keluarnya.
“Allah yang maha kaya kan, jadi Allah tuh yang kasih rezeki. Biarpun mungkin menurut pandangan manusia nggak mampu, tapi karena sama Allah dimampukan. Alhamdulillah bisa seperti sekarang.”
Ketika Tiga Anak Harus Masuk SMA Bersamaan
Keyakinan itu membantunya melewati berbagai kesulitan selama bertahun-tahun. Namun ketika Nurbaiti, Nurlaili, dan Nuraini bersiap lulus SMP pada 2025, Susi mengaku sempat berada pada titik paling berat dalam hidupnya sebagai orang tua.
“Saya sudah hampir putus asa mungkin (putri kembar saya) nggak bisa lanjut sekolah,” katanya.
Kekhawatiran itu muncul karena ketiga putrinya harus masuk SMA pada waktu yang bersamaan. Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, ia belum mengetahui bagaimana biaya pendidikan mereka akan dipenuhi.
Harapan itu muncul ketika seorang pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) datang untuk memperbarui data keluarga sekaligus mengenalkan program Sekolah Rakyat.
“Saya bilang, Pak, minta tolong kalau bisa dibantu buat sekolah. Karena ini tiga langsung mau masuk SMA,” kenang Susi.
Tak lama setelah proses seleksi dan pendataan berlangsung, ketiga putrinya dinyatakan diterima sebagai siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas 19 Sonosewu Bantul.
Bagi Susi, kabar tersebut tidak hanya berarti anak-anaknya memperoleh tempat belajar. Kabar itu juga mengakhiri kecemasan yang selama berbulan-bulan membayanginya tentang masa depan pendidikan ketiga putrinya.
Belajar Hidup Mandiri di Asrama
Bagi Nurbaiti, Nurlaili, dan Nuraini, diterima di Sekolah Rakyat bukan hanya berarti melanjutkan pendidikan. Mereka juga harus meninggalkan rutinitas yang selama bertahun-tahun dijalani di rumah sederhana mereka di Sedayu.
Sejak 14 Juli 2025, ketiganya tinggal di asrama SRMA 19 Sonosewu Bantul bersama siswa dari berbagai daerah di DIY. Untuk pertama kalinya, mereka belajar hidup jauh dari keluarga.
Meski berada dalam satu sekolah, masing-masing mulai memiliki teman, kebiasaan, dan pengalaman sendiri. Status mereka sebagai kembar tiga juga kerap menarik perhatian teman-teman baru yang sempat kesulitan membedakan satu sama lain.
“Awalnya kangen rumah, tapi lama-lama senang karena punya banyak teman baru,” ujar Nurbaiti.
Selain beradaptasi dengan lingkungan baru, mereka juga mulai terbiasa menjalani kehidupan yang lebih teratur. Waktu belajar, waktu istirahat, hingga kebutuhan sehari-hari mengikuti jadwal yang telah ditetapkan sekolah.
“Kalau di rumah kan masih sering dibantu. Di sini jadi belajar lebih mandiri,” kata Nurlaili.
Perubahan itu turut dirasakan Susi. Menurutnya, ketiga putrinya tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri dibanding sebelumnya. Banyak hal yang kini bisa mereka lakukan sendiri tanpa bergantung pada keluarga di rumah.
Ia juga melihat perubahan pada kondisi fisik anak-anaknya. Pola hidup yang lebih teratur dan kebutuhan makan yang tercukupi membuat mereka tumbuh lebih sehat dibanding sebelumnya.
Jika dahulu pembicaraan keluarga sering berkisar pada kebutuhan yang harus dipenuhi, kini topik percakapan mereka mulai berubah. Yang dibahas bukan lagi bagaimana cara melanjutkan sekolah, melainkan pelajaran yang disukai, kegiatan di asrama, hingga rencana masa depan.
“Yang paling senang bisa sekolah dan ketemu teman-teman setiap hari,” tutur Nuraini.
Mulai Menyusun Mimpi
Perubahan itu terlihat saat ketiganya ditanya mengenai cita-cita mereka setelah menyelesaikan tahun pertama di Sekolah Rakyat.
Nurbaiti ingin menjadi pengusaha. Nurlaili bercita-cita menjadi dokter. Sementara Nuraini ingin menjadi pramugari.
Jawaban itu disampaikan bergantian tanpa ragu.
Selama dua pekan masa libur sekolah, mereka akan menghabiskan waktu di rumah sebelum kembali ke asrama di Sonosewu untuk memulai tahun ajaran baru.
Setahun lalu, Susi disibukkan oleh pertanyaan tentang bagaimana ketiga putrinya bisa tetap bersekolah setelah lulus SMP.
Kini, yang dibicarakan anak-anaknya bukan lagi soal biaya pendidikan, melainkan mimpi dan rencana yang ingin mereka capai di masa depan.





