JAKARTA, KOMPAS.TV - Peneliti Poshdem Universitas Andalas, Feri Amsari, merasa bersyukur adanya pengakuan dari Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum (FH) Universitas Bung Karno (UBK) yang menerima uang jelang aksi demonstrasi.
Menurut Feri, hal itu membuka mata publik karena menunjukkan adanya perbedaan terkait aksi unjuk rasa yang pro terhadap kepentingan publik tanpa bayaran dengan aksi demo berbayar yang berpihak kepada kekuasaan.
Demikian hal itu disampaikan Feri menjawab pertanyaan tentang apa dampak dari adanya pengakuan mahasiswa tersebut.
Menurutnya, dampak dari pengakuan tersebut cukup luas, karena hal itu merupakan upaya mengendalikan demonstrasi untuk kepentingan tertentu.
“Saya pikir tentu dampaknya cukup luas ya. Karena bagaimanapun ini kan upaya mengendalikan demonstrasi untuk kepentingan-kepentingan pihak-pihak tertentu,” kata Feri dalam dialog Kompas Petang, Kompas TV, Selasa (23/6/2026).
Feri menegaskan aksi unjuk rasa yang berpihak kepada kepentingan publik ternyata murni dan tidak berbayar.
Baca Juga: Ketua BEM FH UBK Terima Uang, Wakil Rektor Tegaskan Sikap Etik
“Sementara aksi-aksi yang memperlihatkan keberpihakan kepada kekuasaan, ternyata terbukti dalam waktu yang cukup singkat, adalah aksi-aksi yang punya kepentingan di baliknya,” tuturnya.
“Oleh karena itu, ini adalah sesuatu yang bisa memurnikan apa yang betul-betul pro kepada publik, apa yang tidak.”
Dengan adanya pengakuan mahasiswa yang menerima bayaran itu, kata dia, maka akan membuka mata publik tentang mana aksi yang tidak berbayar dan memperjuangkan kehendak publik, serta mana aksi yang terlihat sekali sebenarnya ada kepentingan.
Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- feri amsari
- ketua bem fh ubk
- universitas bung karno
- ubk
- aksi mahasiswa





