Jakarta Menatap Lima Abad

metrotvnews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta baru saja merayakan usianya yang ke-499 tahun. Tinggal setahun lagi menuju angka yang istimewa, lima abad. Usia yang sangat panjang untuk sebuah kota, tetapi belum tentu cukup untuk menuntaskan segala persoalannya.

Perayaan tahun ini suasananya terasa berbeda. Ada nuansa yang tak sama dengan beberapa tahun terakhir ketika wacana pemindahan ibu kota negara begitu dominan dan membuat banyak orang seolah sudah siap mengucapkan selamat tinggal kepada Jakarta.
 

Baca Juga :

Menuju 5 Abad, Jakarta Masih Menjadi Magnet dan Kota Impian Anak Muda

Perbedaan suasana itu berakar dari putusan Mahkamah Konstitusi pada Mei lalu yang menegaskan Jakarta tetap berstatus sebagai ibu kota negara hingga presiden secara resmi menerbitkan keputusan presiden mengenai pemindahan ibu kota. Artinya, setidaknya untuk saat ini, ada satu hal yang menjadi lebih jelas, Jakarta masih ibu kota.

Kepastian itu tentu membuat warga Jakarta lega. Bukan semata karena soal status administratif, melainkan juga karena selama beberapa tahun terakhir Jakarta hidup dalam ruang dan situasi yang menggantung. Jakarta terdekap oleh kebimbangan, belum sepenuhnya melepas peran lama, tetapi juga belum benar-benar memasuki peran baru.

Setelah kepastian mengenai status didapat, sesungguhnya pertanyaan penting saat ini bukan lagi kapan Jakarta berhenti menjadi ibu kota? Yang lebih penting ialah Jakarta mau menjadi kota seperti apa? Seperti apakah mimpi masa depan Jakarta?

Perihal masa depan, kita sering mendengar narasi tentang ambisi Jakarta yang ingin menjadi global city. Jakarta dicita-citakan menjadi sebuah kota global yang tak hanya maju, modern, dan kompetitif, tetapi juga inklusif, manusiawi, sekaligus membahagiakan warganya.

Ambisi itu tentu sah-sah saja. Bahkan perlu. Apalagi sejatinya Jakarta punya modal besar untuk mewujudkan mimpi itu. Infrastruktur yang makin lengkap, konektivitas yang terus dibangun, fasilitas publik yang semakin beragam dan fungsional, serta perputaran ekonomi yang superbesar dan tetap menjadi mesin utama negeri ini.

Namun, menjadi kota global bukan sekadar urusan gedung tinggi, transportasi modern, atau ruang publik yang estetik untuk dipotret dan diunggah ke media sosial. Kota global semestinya juga diukur dari pertanyaan yang lebih sederhana, apakah warga yang hidup di dalamnya merasa lebih tenang, lebih bahagia?


Monas saat malam pergantian tahun. Foto: Dok. Antara.

Jakarta memang terus tumbuh. Wajah Jakarta pun semakin indah dan modern. Namun, di balik pertumbuhan dan fasad modernitas itu, persoalan di dalamnya juga kian rumit. Kriminalitas masih menakutkan, kemacetan tetap ada dan menguras waktu dan energi warga, polusi masih membayangi langit dan udara, banjir juga tak kunjung bisa dijinakkan.

Belum lagi biaya hidup yang terus merangkak naik. Persaingan kerja makin keras. Harga hunian terasa semakin menjauh dari jangkauan banyak orang. Tekanan ekonomi global dan situasi politik yang belum stabil ikut memperberat ritme kehidupan kota.

Hidup di Jakarta nyatanya masih tetap keras. Terkadang terasa kejam, bahkan. Persis idiom yang sejak dulu sering kita dengar, 'Jakarta keras, Bung!'. Banyak orang mengakui itu dan merasa hidup di kota ini semakin mahal, semakin melelahkan, dan semakin menyesakkan.

Akan tetapi, ini yang menarik, semua itu tidak mengurangi daya tarik Jakarta. Megapolitan ini tetap menjadi magnet. Seberapa pun melelahkannya hidup di Jakarta, orang baru tetap datang, dari berbagai daerah, dari bermacam latar belakang, dengan beraneka macam harapan. Sebagian membawa mimpi besar, sebagian hanya ingin hidup lebih layak.

Jakarta tetap menawarkan sesuatu yang sulit ditemukan di tempat lain, yaitu kesempatan. Di kota yang dulu bernama Batavia ini, peluang dan kecemasan berjalan beriringan. Sekali waktu peluang akan lebih cepat menghampiri, tapi di waktu lain kecemasan bisa saja menyerang duluan. Berselancar di antara kedua hal itulah seni menjalani hidup di Jakarta.

Kekuatan magnet Jakarta yang begitu besar tidak lahir semata karena kantor pemerintahan berada di sini. Jakarta menjadi pusat daya tarik karena ekonomi, jaringan, modal, dan harapan sudah lama menumpuk dan berputar di tempat ini. Pada titik itulah sesungguhnya tantangan bagi pengelola Jakarta untuk membuat kota ini tidak sekadar eksis sebagai pusat kekuasaan dan ekonomi, tapi juga benar-benar nyaman dihuni.

Kalau ingin menjadi kota global, Jakarta harus mulai mengurangi kebiasaan lama; tumbuh cepat tetapi tidak selalu tumbuh adil. Jakarta tidak boleh dibiarkan tumbuh menjadi pusat bisnis yang dingin. Kita ingin Jakarta yang hangat serta ramah bagi publik dan lingkungan. Bukan hanya ramah bagi para pemilik modal.

Usia 499 tahun kiranya tepat menjadi jeda untuk merenung lebih dalam. Terlalu silau dengan wajah Jakarta yang dari kejauhan tampak indah berkilau dan lupa menyelami penjuru-penjuru kota yang selama ini tidak terlihat ialah sebuah keteledoran. Di sudut-sudut yang luput dari pandangan itulah sejatinya persoalan-persoalan pelik perkotaan bersemayam. Di situlah kekumuhan dan kemiskinan kota berkelindan.

Jakarta kini sedang menatap usia lima abad. Angka yang megah. Layak kita tunggu, apakah tahun depan di kemegahan usianya itu Jakarta akan sekadar menjadi kota yang semakin besar atau akhirnya mampu menjadi kota yang semakin membahagiakan? Bagaimana, Mas Pram dan Bang Doel?

Selamat ulang tahun, Jakarta. Semoga makin maju dan manusiawi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Sebut Sudah Tutup 240 BUMN, Bakal Terus Bertambah Jadi 800
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Lebih dari 60 persen warga Inggris setuju keputusan Starmer mundur
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Dasco Tegaskan Said Iqbal Gabung Pemerintahan Tak Bikin KSPI Jadi Lemah
• 15 jam laludetik.com
thumb
Reaksi Netizen usai Taufik Hidayat DPO Kasus Penyekapan Ditangkap Polisi: 250 Juta Gagal Euy
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Trump Sebut Iran Setuju Nuklirnya Diperiksa
• 6 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.