Rencana restrukturisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak akan memberikan tekanan besar terhadap industri unggas (poultry).
IDXChannel - Rencana restrukturisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak akan memberikan tekanan besar terhadap industri unggas (poultry).
Bahana Sekuritas menilai perubahan skema program tersebut justru dapat membuat penyaluran lebih tepat sasaran tanpa menghilangkan dukungan terhadap permintaan ayam.
Analis Bahana Sekuritas Abdusshomad Cakra Buana dalam risetnya yang terbit pada 22 Juni 2026 mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor unggas.
Menurut dia, dampak restrukturisasi MBG terhadap permintaan ayam masih tergolong terkendali, sementara harga ayam masih memiliki prospek positif meski saat ini berada dekat level impas akibat siklus pelemahan musiman Suro.
Bahana Sekuritas memperkirakan risiko penurunan laba emiten unggas masih dapat dikelola, bahkan dalam kondisi biaya yang lebih tinggi pada paruh kedua 2026.
Dia mengatakan, pilihan utama Bahana Sekuritas di sektor ini tetap mengarah kepada PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).
Restrukturisasi MBG dilakukan pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memperbaiki tata kelola, akurasi penerima manfaat, serta menjaga keberlanjutan anggaran program.
Salah satu perubahan utama adalah penyesuaian kelompok penerima yang akan lebih difokuskan kepada ibu hamil, balita, dan siswa usia dini.
Dengan perubahan tersebut, Bahana memperkirakan sekitar 8 juta penerima, terutama dari kelompok siswa sekolah menengah atas, berpotensi tidak lagi masuk dalam program MBG.
Selain itu, jumlah dapur operasional MBG akan dibatasi maksimal 27.820 unit, dengan sumber daya dialihkan ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Menurut Bahana, arah kebijakan ini menunjukkan pergeseran MBG dari fase ekspansi menuju peningkatan efisiensi dan dampak gizi.
Bahana memperkirakan target penerima harian MBG sebesar 82,9 juta orang pada 2026 kemungkinan tidak tercapai.
Berdasarkan skenario yang dihitung, jumlah penerima harian dapat bertahan di sekitar 63,1 juta orang atau turun menjadi 54,4 juta orang apabila segmen pelajar SMA benar-benar dikeluarkan.
Meski demikian, dampaknya terhadap total permintaan ayam diperkirakan relatif terbatas.
Bahana memperkirakan total permintaan hanya turun sekitar 4 persen hingga 5 persen dibandingkan proyeksi sebelumnya, meskipun penyerapan ayam khusus dari program MBG dapat turun lebih besar, yakni sekitar 29 persen hingga 34 persen.
Menurut Abdusshomad, tekanan harga ayam yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh siklus musiman Suro dibandingkan perubahan kebijakan MBG.
Harga ayam hidup di Pulau Jawa telah turun sekitar 10 persen secara kuartalan, sedangkan harga day old chick (DOC) terkoreksi sekitar 20 persen secara kuartalan.
"Penurunan harga saat ini terutama disebabkan oleh siklus Suro, dengan harga yang sudah mendekati level impas," ujar dia.
Bahana melihat harga ayam masih berpeluang membaik dalam beberapa kuartal ke depan.
Dukungan pemerintah serta pertumbuhan pasokan yang lebih rendah pada 2026 akibat berkurangnya impor indukan ayam (GPS) pada 2024 diperkirakan membantu keseimbangan pasar.
Bahana mempertahankan asumsi harga rata-rata ayam hidup pada 2026 sebesar Rp20.000-Rp21.000 per kilogram dan harga DOC sebesar Rp6.000-Rp7.000 per ekor.
Dari sisi kinerja keuangan, Bahana memperkirakan emiten unggas menghadapi tekanan pada kuartal II-2026 akibat siklus Suro. Laba inti JPFA dan CPIN diproyeksikan turun sekitar 50 persen secara kuartalan.
Namun, kondisi tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara. Bahana memperkirakan kinerja kembali pulih pada kuartal-kuartal berikutnya seiring normalisasi permintaan, sementara kontribusi MBG tetap menjadi penopang penting bagi industri unggas.
Sementara, risiko utama yang perlu diperhatikan investor adalah kenaikan biaya pakan yang lebih tinggi dari perkiraan serta penurunan permintaan akibat restrukturisasi MBG yang lebih besar dari ekspektasi. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





