Restrukturisasi MBG Dinilai Tak Ganggu Prospek Saham Poultry

idxchannel.com
8 jam lalu
Cover Berita

Rencana restrukturisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak akan memberikan tekanan besar terhadap industri unggas (poultry).

Restrukturisasi MBG Dinilai Tak Ganggu Prospek Saham Poultry. (Foto: iStock)

IDXChannel - Rencana restrukturisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak akan memberikan tekanan besar terhadap industri unggas (poultry).

Bahana Sekuritas menilai perubahan skema program tersebut justru dapat membuat penyaluran lebih tepat sasaran tanpa menghilangkan dukungan terhadap permintaan ayam.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Melemah Akibat Aksi Jual Besar-besaran di Sektor Semikonduktor 

Analis Bahana Sekuritas Abdusshomad Cakra Buana dalam risetnya yang terbit pada 22 Juni 2026 mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor unggas.

Menurut dia, dampak restrukturisasi MBG terhadap permintaan ayam masih tergolong terkendali, sementara harga ayam masih memiliki prospek positif meski saat ini berada dekat level impas akibat siklus pelemahan musiman Suro.

Baca Juga:
Terus Lakukan Evaluasi, MSCI Apresiasi Transparansi Baru yang Diumumkan Otoritas Bursa

Bahana Sekuritas memperkirakan risiko penurunan laba emiten unggas masih dapat dikelola, bahkan dalam kondisi biaya yang lebih tinggi pada paruh kedua 2026.

Dia mengatakan, pilihan utama Bahana Sekuritas di sektor ini tetap mengarah kepada PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).

Baca Juga:
Indonesia Tetap Emerging Market, MSCI Terus Evaluasi hingga November 2026

Restrukturisasi MBG dilakukan pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memperbaiki tata kelola, akurasi penerima manfaat, serta menjaga keberlanjutan anggaran program.

Salah satu perubahan utama adalah penyesuaian kelompok penerima yang akan lebih difokuskan kepada ibu hamil, balita, dan siswa usia dini.

Dengan perubahan tersebut, Bahana memperkirakan sekitar 8 juta penerima, terutama dari kelompok siswa sekolah menengah atas, berpotensi tidak lagi masuk dalam program MBG.

Selain itu, jumlah dapur operasional MBG akan dibatasi maksimal 27.820 unit, dengan sumber daya dialihkan ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Menurut Bahana, arah kebijakan ini menunjukkan pergeseran MBG dari fase ekspansi menuju peningkatan efisiensi dan dampak gizi.

Bahana memperkirakan target penerima harian MBG sebesar 82,9 juta orang pada 2026 kemungkinan tidak tercapai.

Berdasarkan skenario yang dihitung, jumlah penerima harian dapat bertahan di sekitar 63,1 juta orang atau turun menjadi 54,4 juta orang apabila segmen pelajar SMA benar-benar dikeluarkan.

Meski demikian, dampaknya terhadap total permintaan ayam diperkirakan relatif terbatas.

Bahana memperkirakan total permintaan hanya turun sekitar 4 persen hingga 5 persen dibandingkan proyeksi sebelumnya, meskipun penyerapan ayam khusus dari program MBG dapat turun lebih besar, yakni sekitar 29 persen hingga 34 persen.

Menurut Abdusshomad, tekanan harga ayam yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh siklus musiman Suro dibandingkan perubahan kebijakan MBG.

Harga ayam hidup di Pulau Jawa telah turun sekitar 10 persen secara kuartalan, sedangkan harga day old chick (DOC) terkoreksi sekitar 20 persen secara kuartalan.

"Penurunan harga saat ini terutama disebabkan oleh siklus Suro, dengan harga yang sudah mendekati level impas," ujar dia.

Bahana melihat harga ayam masih berpeluang membaik dalam beberapa kuartal ke depan.

Dukungan pemerintah serta pertumbuhan pasokan yang lebih rendah pada 2026 akibat berkurangnya impor indukan ayam (GPS) pada 2024 diperkirakan membantu keseimbangan pasar.

Bahana mempertahankan asumsi harga rata-rata ayam hidup pada 2026 sebesar Rp20.000-Rp21.000 per kilogram dan harga DOC sebesar Rp6.000-Rp7.000 per ekor.

Dari sisi kinerja keuangan, Bahana memperkirakan emiten unggas menghadapi tekanan pada kuartal II-2026 akibat siklus Suro. Laba inti JPFA dan CPIN diproyeksikan turun sekitar 50 persen secara kuartalan.

Namun, kondisi tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara. Bahana memperkirakan kinerja kembali pulih pada kuartal-kuartal berikutnya seiring normalisasi permintaan, sementara kontribusi MBG tetap menjadi penopang penting bagi industri unggas.

Sementara, risiko utama yang perlu diperhatikan investor adalah kenaikan biaya pakan yang lebih tinggi dari perkiraan serta penurunan permintaan akibat restrukturisasi MBG yang lebih besar dari ekspektasi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Siap Jadi Volunteer kumparanMOM Festival Hari Anak 2026? Daftar Sekarang!
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Padma Championship 2026 Hadirkan Ragam Aktivitas & Hadiah Menarik di Tiga Kota
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Ketua BEM FH UBK yang Bertemu Gibran Ngaku Terima Uang Rp20 Juta, Wamensesneg: Nanti Saya Monitor Dulu
• 23 jam lalurctiplus.com
thumb
KAI Daop 7 Edukasi 566 Siswa dan Guru di Madiun-Kediri, Tanamkan Kesadaran Keselamatan Jalur Kereta Api Sejak Dini
• 18 jam laluberitajatim.com
thumb
Harga Oli di Bengkel Resmi Naik Rp 13 Ribu, Ojol: Ngaruh Gede Banget
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.