Suara kendang dan gong memeriahkan suasana malam saat ratusan warga berkumpul di halaman kantor desa. Anak-anak duduk berbaur dengan orangtua, sementara para penari bersiap memasuki gelanggang. Malam itu, mereka berkumpul bukan sekadar untuk hiburan, melainkan sebagai cara masyarakat Desa Soligi, Pulau Obi, Maluku Utara, menjaga ingatan tentang tradisi dan asal usul mereka.
Pulau Obi, yang masuk dalam wilayah Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, berjarak sekitar 240 kilometer garis lurus di selatan Ternate. Sementara itu, dari Labuha, ibu kota Halmahera Selatan di Pulau Bacan, jaraknya sekitar 120 kilometer. Transportasi laut menjadi satu-satunya akses menuju Obi karena layanan penerbangan komersial hanya sampai di Labuha, dengan waktu tempuh pelayaran sekitar 3-4 jam.
Pulau seluas kurang lebih 2.500 kilometer persegi ini terbagi menjadi lima wilayah, yakni Kecamatan Obi, Obi Utara, Obi Barat, Obi Timur, dan Obi Selatan. Meskipun luasnya hampir empat kali lipat wilayah Jakarta, secara historis Obi tidak memiliki penduduk asli.
Sebagian besar populasi di pulau ini adalah pendatang dari berbagai wilayah yang telah lama menetap. Awalnya, kelompok masyarakat yang mendiami kawasan ini berasal dari suku Tobelo-Galela, yang kemudian disusul oleh suku-suku lain, seperti Buton, Ternate, Tidore, dan Bugis.
Kehadiran masyarakat luar yang menetap di Obi tidak hanya membawa kehidupan baru, tetapi juga tradisi budaya dari tanah asal. Salah satunya adalah kesenian ngibi yang masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Soligi di Kecamatan Obi Selatan. Desa ini merupakan salah satu wilayah terdekat dengan kawasan industri nikel yang dioperasikan oleh Harita Nickel.
Warga menikmati pementasan Kesenian Ngibi di Desa Soligi. (ARSIP HARITA NICKEL)
Tetua adat membuka gelanggang dengan gerakan silat. (ARSIP HARITA NICKEL)
(ARSIP HARITA NICKEL)
Kesenian ngibi merupakan tradisi asal Buton, Sulawesi Tenggara, yang dibawa secara turun-temurun oleh leluhur masyarakat Desa Soligi. Selain di Soligi, keturunan Buton juga banyak bermukim di desa-desa lain di Obi. Sebagian besar warga di sana bermata pencarian sebagai nelayan atau petani.
Tari ngibi tidak sekadar menjadi wujud syukur setelah panen raya, tetapi juga bertransformasi mewarnai dinamika kehidupan sosial warga. Kesenian ini kerap ditampilkan dalam penyambutan tamu, perayaan hari besar, hingga Idul Adha.
Pada akhir Mei 2026, tepatnya dua hari pasca-Idul Adha, pergelaran kesenian ngibi diadakan di halaman Kantor Desa Soligi. Ratusan warga, baik anak-anak maupun orangtua, memadati lokasi tersebut sejak sore hingga malam hari. Di tengah suara kendang dan alunan gong yang memeriahkan suasana, warga tampak larut dalam kegembiraan.
Setelah diawali dengan doa, tokoh adat membuka gelanggang lewat entakan atraksi pencak silat. Selain orangtua, anak-anak turut unjuk kebolehan membawakan bela diri tersebut. Pergelaran malam itu juga menampilkan tari cungka oleh penari perempuan, yang membawa pesan tentang siklus awal kehidupan manusia.
Pesan ini kemudian disambung dengan tari ngibi, sebuah tarian berpasangan yang merepresentasikan rasa syukur atas ditiupkannya roh ke dalam raga. Dalam gerakannya, penari laki-laki pantang menyentuh penari perempuan. Hal ini melambangkan penghormatan tertinggi bagi perempuan sebagai perawat kehidupan.
Senyum gembira saat merayakan tradisi. (ARSIP HARITA NICKEL)
Generasi muda sebagai penerus tradisi. (ARSIP HARITA NICKEL)
(ARSIP HARITA NICKEL)
Kepala Adat Desa Soligi, Nurwydi, menjelaskan, kesenian ngibi memang rutin digelar setiap tahun usai perayaan Idul Adha. ”Ngibi dan tari cungka itu termasuk tarian adat Desa Soligi. Bedanya, cungka hanya dibawakan perempuan, sedangkan ngibi adalah tarian berpasangan laki-laki dan perempuan. Jadi, ngibi adalah simbol rasa syukur manusia atas kehidupan yang diberikan Tuhan,” ujarnya.
Pergelaran kesenian ngibi malam itu tidak hanya melibatkan orangtua, tetapi juga generasi muda dan anak-anak. Sebagai upaya pelestarian, generasi muda Desa Soligi tidak sebatas dikenalkan, melainkan dilibatkan langsung dalam setiap kegiatan seni maupun acara tradisi. Salah satunya adalah Desmita Musli, siswi kelas XI SMAN 35 Halmahera Selatan yang setahun terakhir bergabung dengan sanggar seni di sekolahnya. Desmita yang rutin membawakan tari cungka mengakui, keterlibatannya di sanggar tidak sekadar membantunya melestarikan tradisi, tetapi juga melatih kepercayaan diri.
Sanggar tari yang berbasis di SMAN 35 Halmahera Selatan itu memiliki 15 anggota. Musliha, guru Sejarah Indonesia sekaligus pembina sanggar, mengungkapkan bahwa sekolahnya sebenarnya tidak memiliki guru kesenian khusus.
Ia pun berinisiatif menjadi pembina dengan belajar tari secara otodidak melalui berbagai referensi, termasuk Youtube. Tarian yang ia ajarkan berakar pada tradisi Buton, seperti tari linda yang menggambarkan penghormatan bagi perempuan yang sedang dipingit, tari cungka, serta tari ngibi.
Di tengah arus perubahan Pulau Obi yang didorong oleh pertumbuhan industri nikel, masyarakat Desa Soligi terbukti masih tangguh menjaga warisan leluhur. Keberadaan sanggar dan pergelaran seni yang rutin diadakan diharapkan terus berkontribusi dalam mempertahankan adat, budaya, dan tradisi masyarakat pada masa mendatang.
Pagelaran Kesenian Ngibi di Desa Soligi. (ARSIP HARITA NICKEL)
Sejumlah kelompok siswa dari SD hingga SMA turut berpartisipasi. (ARSIP HARITA NICKEL)
(ARSIP HARITA NICKEL)





