”Aduh, jangan Bang, Abang yang ganteng, jangan,” teriak Muhammad Nino Aminuddin (10) saat dokter mulai melakukan operasi ke daerah vitalnya. Nino adalah salah satu anak yang mengikuti khitanan massal dalam rangka HUT Ke-499 Jakarta. Saat itu, aula Kantor Wali Kota Jakarta Timur berubah menjadi arena adu jerit para peserta.
Menutupi wajah saat operasi khitan.
(KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN)
Memegangi sang anak.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Ibu menguatkan anaknya, Nino, saat dikhitan.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Dari balik bilik nomor empat itu, Nino berusaha menahan sekuat-kuatnya sakit yang ia rasakan. Rintihan itu ditenangkan ayah dan ibunya yang mendampingi momen terpenting di hidup Nino. Berbagai celetukan lucu keluar dari mulutnya saat ia menahan perihnya saat dikhitan.
”Nak, ucap istigfar nak, ayok kamu jagoan pasti kuat,” ucap sang Ayah, Ratono (47), kepada Nino di tengah operasi.
Rasa tegang bercampur haru menyelimuti Ratono melihat anaknya tengah melewati fase hidup yang pernah ia hadapi saat masih kecil. Menurut Ratono, Nino seharusnya dikhitan pada tahun kemarin. Namun, karena berat badan Nino yang besar membuat alat vitalnya terlalu kecil sehingga belum bisa dilaksanakan khitanan.
”Ini kebeneran, alhamdulillah, ada acara khitanan massal dari Pemerintah Jakarta, jadi aja sekalian tahun ini Nino disunat,” kata Ratono.
Kaki peserta khitanan massal menegang menahan rasa sakit.
(KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN)
Seorang ayah menangkan anaknya.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Bersama-sama menahan kaki sang anak.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Melihat kerabatnya dikhitan.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Seusai operasi, tangis Nino akhirnya mereda. Ia belum bisa banyak berkata-kata. Walau begitu, saat dokter menanyakan bagaimana keadaannya setelah selesai, Nino hanya mengacungkan jempol, menandakan baik-baik saja. Tentu muka datar Nino yang masih sembab dengan air mata itu membuat decak tawa seisi bilik.
Sebanyak 175 anak yang mengikuti khitanan massal telah mendatangi Kantor Wali Kota Jakarta Timur sejak pagi. Mereka datang dengan mengenakan sarung yang telah dibawa dari rumah. Saat menunggu giliran, mereka mendengar teriakan demi teriakan anak yang sedang melakukan operasi. Rasa waswas pun tak dapat dihindarkan dari wajah mereka.
Kecemasan anak-anak itu ditenangkan para orangtua yang mendampingi. Beberapa dari peserta bahkan cuek dengan jeritan yang menggema ke seluruh aula sembari memainkan ponselnya. Walau takut, mereka tahu, cepat atau lambat giliran mereka akan datang.
Kenzo (11) keluar dari bilik tiga sembari dituntun sang ibu. Peluh keringat dan air mata bercampur di wajahnya. Sang ibu dengan segera mengelap wajah Kenzo dengan sarung yang akan ia gunakan untuk menutup bagian bawah badannya. Dengan berjalan mengangkang, Kenzo mengikuti ibunya mengambil resep obat untuk dibawa pulang.
”Pokoknya seudah ini mau beli sepeda listrik,” pinta Kenzo kepada sang ibu yang diikuti tawa sang ayah.
Jeritan demi jeritan itu menjadi warna acara khitanan massal yang diadakan PAM Jaya ini. Khitanan massal ini digelar di enam lokasi dengan peserta sebanyak 2.000 orang. Melalui khitanan massal ini, PAM Jaya berharap dapat membantu meringankan beban orangtua sekaligus memberikan manfaat kesehatan bagi anak-anak Jakarta.





