Bisnis.com, JAKARTA — Presiden RI Prabowo Subianto menyebut bahwa banyak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang rugi dan menjadi beban negara. Prabowo pun jengkel, para direksi di BUMN itu malah meminta bonus.
Hal tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri Penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) 2026 pada Selasa (23/6/2026) di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Bangkalan, Jawa Timur.
Prabowo menjelaskan bahwa sejak pertama dilantik menjadi Presiden RI, dirinya kaget dengan banyaknya jumlah BUMN di Indonesia.
"Jumlahnya luar biasa waktu saya jadi Presiden, saya baru tahu. Saya kira perusahaan BUMN itu jumlahnya 300. Waktu saya jadi Presiden baru saya tahu. Jumlahnya 1.000 lebih," kata Prabowo.
Di samping itu, menurutnya banyak BUMN yang membukukan kerugian sehingga menjadi beban negara.
Prabowo pun menyinggung mengenai beban gaji bagi para jajaran direksi serta komisaris di BUMN-BUMN yang merugi. Bahkan, tak hanya membebani negara, para direksi di BUMN itu malah meminta bonus.
Baca Juga
- Presiden Prabowo Klaim Telah Rebut Kembali Kebun Sawit dan Tambang Ilegal
- Presiden Prabowo Ungkap Jumlah Penduduk Miskin Terus Bertambah
- Prabowo Ungkap 240 BUMN Ditutup Imbas Rugi
"Anda bisa bayangkan itu kalau dihitung 4 direksi sama 4 komisaris. 8 kali 200, 1.600. Kalau gajinya masing-masing Rp50 juta per bulan, berapa itu? Ada gajinya yang bisa di atas itu. Sudah rugi, minta bonus lagi," tuturnya.
Oleh karena itu, Prabowo mengambil kebijakan untuk memangkas jumlah BUMN. Terdapat 240 BUMN telah ditutup karena mengalami kerugian.
"Sekarang kita tutup 240 BUMN, ditutup. Tidak ada yang untung. Rugi terus. Ini perusahaan negara, milik rakyat," ujar Prabowo.
Prabowo mengungkapkan targetnya menutup sekitar 800 BUMN. Dalam upaya menutup ratusan BUMN itu, Prabowo mengatakan bahwa pemerintah telah menghemat dana triliunan rupiah.





