MSCI Perpanjang Evaluasi Status Pasar Saham Indonesia hingga November

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – MSCI memutuskan untuk memperpanjang evaluasi peninjauan indeks saham Indonesia sekaligus reklasifikasi status pasar saham RI di jajaran Emerging Market hingga November 2026. MSCI mengapresiasi upaya otoritas bursa dalam mereformasi pasar modal. Namun, mereka masih menanti perbaikan signifikan terkait isu transparansi perdagangan saham.

Pada Selasa (23/6/2026) waktu New York atau Rabu (24/6/2026) dini hari waktu Jakarta, MSCI merilis hasil MSCI 2026 Market Classification Review. Rilis sepanjang enam halaman itu mengevaluasi status aksesibilitas dan kemudahan investasi (investability) dari berbagai pasar saham di dunia untuk memastikan kesesuaiannya dengan standar investor institusional global.

Sejumlah pasar saham dunia selain Indonesia menjadi sorotan, seperti Bulgari, Bangladesh, Yunani, Turki, hingga Korea Selatan. MSCI melakukan perubahan spesifik seperti menaikkan kelas pasar Bulgaria dari Standalone Market menjadi Frontier Market per Mei 2027. Ini setelah merampungkan transisi penuh ke mata uang Euro pada awal 2026.

Di sisi lain, Bangladesh mendapatkan peringatan keras agar tidak kembali menerapkan batas bawah harga saham jika tidak ingin diturunkan statusnya menjadi Standalone Market. Sementara itu, proses pemantauan terhadap aksesibilitas pasar Korea Selatan terus berjalan, dan Yunani diingatkan akan transisinya menuju status lebih tinggi ke Developed Market pada Mei 2027 mendatang.

Catatan keras dan apresiasi

Seperti pasar ekuitas Turki, MSCI masih memberikan catatan keras mengenai potensi penurunan kelas (downgrade) bagi pasar saham Indonesia akibat isu transparansi kepemilikan saham dan dugaan perdagangan yang terkoordinasi.

MSCI menyampaikan, investor institusional internasional seringkali menyampaikan kekhawatiran kepada mereka soal masalah transparansi yang berkelanjutan dalam struktur kepemilikan saham. Ini sebagaimana kekhawatiran investor mengenai perilaku perdagangan terkoordinasi.

Kedua kekhawatiran tersebut dinilai membatasi kemampuan investor untuk menilai kepemilikan saham publik atau free float yang sebenarnya. Isu ini juga mengganggu pengamatan harga saham untuk kebutuhan konstruksi portofolio investasi dan replikasi indeks.

Keduanya berhubungan langsung dengan pilar Aliran Informasi (Information Flow) dan Infrastruktur Pasar dari kerangka Aksesibilitas Pasar MSCI. "Bagi Indonesia, pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran mendalam tentang kemampuan investasi yang berasal dari masalah ini," kata mereka.

Peringatan MSCI soal isu telah disampaikan sejak akhir Januari 2026. Peringatan berlanjut saat MSCI menunda peninjauan kocok ulang (rebalancing) saham-saham Indonesia hingga saat ini.

Peringatan tersebut berusaha diperbaiki oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) seperti Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

MSCI mengakui mereka mengapresiasi langkah reformasi transparansi yang baru-baru ini diumumkan oleh tiga lembaga tersebut. Apresiasi itu diberikan pada kebijakan peningkatan pengungkapan pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen.

Apresiasi juga diberikan untuk klasifikasi investor yang lebih terperinci, dan pengumuman saham dengan Konsentrasi Kepemilikan Saham Tinggi (High Shareholding Concentration / HSC). Peta jalan (roadmap) untuk menaikkan batas minimum free float menjadi 15 persen juga diapresiasi.

Serial Artikel

Investor Diminta Waspadai Efek Pengumuman Status Saham Terkonsentrasi Tinggi

Data konsentrasi kepemilikan saham tinggi (HSC) akan mendorong pelaku pasar lebih cermat membaca likuiditas riil, ”free float”, dan potensi volatilitas harga emiten.

Baca Artikel

Meski memuji langkah tersebut sebagai arah yang benar, MSCI menekankan, bagi investor institusional internasional yang terpenting adalah konsistensi implementasi serta dampak nyata yang berkelanjutan dari kebijakan tersebut di pasar.

Status Emerging Market masih dievaluasi

Saat ini, MSCI masih akan mempertahankan status pasar Indonesia di kelas Emerging Market atau Pasar Berkembang yang telah disandang Indonesia sejak pertama kali meluncur di MSCI pada 1989. Namun, status ini masih akan dievaluasi kembali pada November mendatang.

"Jika kemajuan yang cukup tidak terlihat pada saat Tinjauan Indeks MSCI November 2026, MSCI akan mempertimbangkan berbagai opsi untuk perlakuan yang tepat bagi pasar Indonesia, termasuk kemungkinan konsultasi tentang reklasifikasi Indonesia dari Pasar Berkembang menjadi Pasar Perbatasan (Frontier Market)," kata MSCI.

Sebelumnya, lembaga penyedia indeks saham global asal Inggris seperti FTSE Russell telah lebih dulu mengumumkan hasil tinjauan Equity Country Classification. Pada Selasa (7/4/2026), Indonesia diumumkan berhasil mempertahankan posisinya dalam klasifikasi Secondary Emerging Market.

Baca JugaFTSE Russell Pertahankan Status Saham Indonesia

Secondary Emerging Market menjadi satu dari empat kategori pasar dari tinggi ke rendah, yakni Developed, Advanced Emerging, dan Frontier. FTSE setiap tahun menyusun "Watch List" yang berisi pasar-pasar yang sedang dipertimbangkan untuk perubahan klasifikasi.

Pengklasifikasian bertujuan agar indeks FTSE mencerminkan kondisi pasar yang paling relevan dan akurat, sekaligus membantu investor dalam mengelola risiko terkait regulasi dan praktik perdagangan di berbagai pasar.

FTSE Russell menilai tingkat aksesibilitas dan stabilitas pasar modal Indonesia masih berada dalam batas yang memadai bagi investor institusi global. Lembaga ini pun menyatakan tidak sedang mempertimbangkan Indonesia untuk masuk ke dalam daftar pantauan untuk penurunan status.

Menanggapi rilis MSCI tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif Dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, Rabu pagi, menyampaikan, OJK menyambut positif hasil asesmen tahunan MSCI tersebut.

Bagi mereka, pengumuman MSCI ini menjadi momentum untuk terus melanjutkan, memperkuat, dan mengakselerasi agenda-agenda reformasi pasar modal yang telah mereka canangkan sejak awal tahun ini.

"Mereka meng-acknowledge berbagai inisiatif dan progress program reformasi yang terus kita perkuat ke depan. Mereka telah memanfaatkan data yang semakin transparan yang dihasilkan dari reformasi pasar modal kita, sebagai sumber baru dalam asesmen mereka,” ujar Hasan melalui rilis.

Hal ini menunjukkan capaian reformasi yang dilakukan otoritas pasar saham di Indonesia mendapat pengakuan yang berarti, sehingga makin mengukuhkan kredibilitas dan investability pasar modal dalam negeri.

OJK juga optimistis dengan hasil MSCI Global Market Accessibility Review 2026 yang dirilis pada 18 Juni lalu. Dalam hasil asesmen MSCI terkait aksesibilitas pasar, secara umum Indonesia menjadi salah satu yang mendapat penilaian terbaik di antara Emerging Markets di kawasan Asia-Pasifik, setelah Tiongkok dan Malaysia.

Hasan melanjutkan, OJK juga mengapresiasi MSCI yang kembali mengonfirmasi pasar modal RI dalam kategori Emerging Markets. Ini serupa dengan FTSE Russell yang mempertahankan status Indonesia dalam kategori Secondary Emerging Markets, setara dengan beberapa negara utama seperti Tiongkok dan India.

"Ke depan, OJK dan SRO pasar modal, akan terus melanjutkan komunikasi dan engagement yang konstruktif dengan lembaga-lembaga global index providers dan juga para investor, untuk memastikan bahwa berbagai reformasi yang telah dan sedang digulirkan dapat dipahami secara komprehensif oleh komunitas investasi global," tutur Hasan.

Selanjutnya, OJK juga akan berkomunikasi secara berkala dengan kalangan investor institusi global, antara lain difasilitasi oleh World Bank, IFC, dan ASIFMA. Komunikasi ini guna menyampaikan dan menjelaskan progres capaian reformasi yang mereka kerjakan.

Baca JugaMSCI Beri Catatan Merah soal Transparansi, Status Emerging Market Bakal Bertahan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dulu Mengayuh Sepeda Jual Ikan, Kini Risky Merajut Mimpi di Sekolah Rakyat
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Pasar Modal Indonesia Tetap di Emerging Market, Ini Respons OJK
• 10 jam laluidxchannel.com
thumb
Tiongkok Usulkan Sinergi Indonesia Emas 2045 dengan Rencana Pembangunan 2026–2030
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Purbaya Dapat Gelar Profesor Kehormatan dari Universitas Nankai China
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Bobby Nasution Hadiri Peresmian 1.151 Km Jalan Inpres, 4 Ruas di Sumut Rampung
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.