Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (24/6/2026). Tekanan terjadi di tengah tren penguatan dolar AS di pasar global.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.24 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak sembilan mata uang melemah terhadap dolar AS, sementara hanya satu mata uang yang menguat.
Rupiah menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pada pagi ini. Mata uang Garuda melemah 0,64% ke posisi Rp17.955/US$. Posisi ini membuat rupiah semakin dekat ke level psikologis Rp18.000/US$.
Tekanan besar juga dialami peso Filipina yang melemah 0,60% ke posisi PHP 61,430/US$, disusul baht Thailand yang terkoreksi 0,57% ke THB 33,38/US$.
Won Korea Selatan ikut masuk zona merah setelah melemah 0,29% ke posisi KRW 1.536,95/US$. Dong Vietnam juga turun 0,24% ke VND 26.329/US$.
Pelemahan lebih tipis terlihat pada ringgit Malaysia yang terkoreksi 0,10% ke MYR 4,142/US$. Dolar Taiwan dan dolar Singapura sama-sama melemah 0,03%, masing-masing ke posisi TWD 31,672/US$ dan SGD 1,296/US$.
Yuan China juga tertekan tipis 0,02% ke posisi CNY6,791/US$.
Di tengah tekanan mayoritas mata uang Asia, yen Jepang menjadi satu-satunya mata uang yang mampu menguat. Yen naik tipis 0,02% ke posisi JPY161,53/US$.
Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pagi ini terpantau melemah tipis 0,01% ke posisi 101,401. Meski pagi ini cenderung stabil, posisi dolar AS masih sangat kuat.
Pada penutupan perdagangan Selasa (23/6/2026), DXY menguat 0,38% ke level 101,408. Posisi tersebut sekaligus menjadi level tertinggi indeks dolar AS dalam 13 bulan terakhir.
Penguatan dolar AS masih ditopang oleh meningkatnya permintaan terhadap aset aman atau safe haven. Investor kembali mencari perlindungan setelah pasar saham global tertekan oleh aksi jual pada saham teknologi dan semikonduktor.
Sektor teknologi sebelumnya menjadi salah satu motor penguatan pasar saham global.Namun, reli panjang yang sudah terjadi membuat investor mulai melakukan aksi ambil untung. Ketika saham-saham teknologi dan semikonduktor terkoreksi, sentimen risiko ikut memburuk. Kondisi ini membuat aliran dana kembali bergerak ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS dan obligasi pemerintah AS.
Di saat yang sama, ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), juga kembali meningkat. Sejumlah pejabat The Fed belakangan memberi sinyal yang makin hawkish, seiring ekonomi AS yang masih terlihat kuat. Kondisi ekonomi yang solid membuat pasar menilai ruang The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga masih terbuka.
Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada rapat Juli sebesar 37%. Angka ini naik tajam dibandingkan pekan sebelumnya yang hanya 8,5%. Untuk rapat September, peluang kenaikan suku bunga bahkan mencapai 70%, melonjak dari 29,1% pada pekan sebelumnya.
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi membuat dolar AS semakin menarik. Sebab, ketika suku bunga AS berpotensi naik, imbal hasil aset berbasis dolar juga ikut terdorong. Pada akhirnya, kondisi ini memperlebar selisih daya tarik antara dolar AS dan mata uang negara lain, termasuk mata uang Asia.
Ray Attrill, head of FX strategy National Australia Bank, menilai dolar AS masih menjadi pilihan utama aset aman bagi pelaku pasar.
"Dolar AS masih menjadi safe haven pilihan," ujar Attrill dikutip dari Reuters.
Dia menambahkan, momentum dolar AS saat ini masih kuat. Namun, menurutnya banyak sentimen positif sudah tercermin dalam harga.
Dolar AS membutuhkan tekanan risiko yang lebih luas, bukan hanya dari sektor teknologi, atau ekspektasi kenaikan suku bunga yang kembali meningkat agar bisa melaju lebih jauh dari level saat ini.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw/evw) Add as a preferredsource on Google



