Jakarta: Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut negosiasi perdamaian Amerika Serikat (AS) dan Iran akan berdampak positif. Tidak hanya bagi ekonomi global, kondisi ini dinilai akan berdampak baik bagi ekonomi di dalam negeri.
Airlangga mengatakan, perdamaian selalu membuat hasil positif terhadap outlook perekonomian global. Selain itu, perdamaian AS-Iran diyakini akan memperbaiki rantai pasok (supply chain) yang selama ini terhambat akibat konflik.
"Jadi dua hal itu sangat berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia. Tetapi yang jelas perdamaian itu kontribusinya positif terhadap perekonomian," kata Airlangga dalam Top Economy Metro TV, dikutip Rabu, 24 Juni 2026.
Meski begitu, ia menilai dampak dari perdamaian itu tidak bisa langsung dirasakan. Pasalnya selama negosiasi masih berlangsung maka ketidakpastian global masih membayangi meski harga energi yang sempat melonjak mulai turun.
"Bagi Indonesia kan transmisinya akan ke harga. Sedangkan transmisi harga kita lihat kemarin harga minyak sudah turun di bawah USD80. Tentu ekspektasi harga yang turun ini harus dilanjutkan dengan kontrak barang yang kita dapat," ujar dia.
Baca Juga :
Bantuan Pangan Juli-September 2026 Siap Meluncur, Sasar 33,24 Juta KPM(Ilustrasi. Foto: Dok istimewa) Investor masih wait and see Di sisi lain, ia mengungkapkan, investor juga masih akan berhati-hati dalam menggelontorkan modal. Sebab di tengah ketidakpastian kondisi global, mereka akan mencari Kawasan yang aman dalam berinvestasi.
"Tetapi di tengah ketidakpastian itu ASEAN kita beberapa kali rapat juga, ASEAN itu menunjukkan kawasan Indo-Pasifik ini kawasan yang aman untuk investasi. Baik dari segi pertumbuhan di ASEAN masih tumbuh di atas sekitar empat persen," ungkap dia.
Di Indonesia, pemerintah meyakini pertumbuhan ekonomi masih akan sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Salah satu upaya untuk mendongkrak ekonomi tetap tumbuh, pemerintah mendorong agar daya beli masyarakat terjaga.
"Penurunan akibat perang dan eskalasi harga itu pasti ada. Dan juga pada saat seperti ini kan kebanyakan investor itu menahan diri untuk menjaga kondisi cash flow masing-masing. Nah bagi Indonesia kita ingin menjaga daya beli masyarakat," jelas Airlangga.




