REPUBLIKA.CO.ID, GAZA— Hari demi hari, Israel dinilai semakin menunjukkan niatnya untuk membatalkan kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza, bahkan berpotensi kembali melancarkan perang apabila mendapat lampu hijau dari Amerika Serikat.
Para pengamat menilai hal itu terlihat dari upaya Israel yang memusatkan seluruh rencana Presiden Donald Trump pada satu isu, yakni pelucutan senjata kelompok perlawanan Palestina.
Baca Juga
Gagalnya Kemenangan Mutlak Netanyahu yang Merugikan Militer Israel
Ilusi Perang Irak, Suriah, Lebanon, dan Iran: Hentikan Segera Israel Raya Jika Ingin Dunia Damai
Hubungan Memanas, AS Waspadai Spionase Intelijen Israel hingga Level Membahayakan
Sejak kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada Oktober 2025, Israel tidak pernah berhenti melanggar berbagai ketentuannya dan menolak menjalankan kewajiban yang menjadi bagiannya.
Bahkan, Israel terus memperluas keberadaan militernya di Jalur Gaza dan baru-baru ini menyatakan niat untuk melanjutkan ekspansi tersebut.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Selama berbulan-bulan setelah kesepakatan diumumkan, Israel telah menewaskan ratusan warga Palestina dan melancarkan ratusan serangan ke berbagai wilayah di Gaza.
Kondisi ini mendorong komite independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa terus berlanjutnya pembunuhan terhadap anak-anak di Gaza secara sengaja memperkuat dugaan adanya niat genosida dari pihak Israel.
Tidak hanya terus melanjutkan operasi pembunuhan, Dewan Keamanan Nasional Israel juga kembali membahas rencana pemindahan penduduk Gaza dengan istilah migrasi sukarela.
Sementara itu, Aljazeera pada Rabu (24/6/2026), melansir surat kabar Haaretz dengan mengutip sejumlah sumber yang menyebut bahwa langkah tersebut kemungkinan berkaitan dengan kesepakatan rahasia antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.