Tahun Ajaran Baru, Solidaritas Orangtua di Kupang Berbagi Seragam Bekas

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Kemiskinan menyebabkan banyak orangtua di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, kesulitan menyediakan perlengkapan sekolah bagi anak mereka. Banyak yang berutang dan banyak pula yang mencari seragam bekas dari murid terdahulu. Solidaritas pun tumbuh di tengah keterbatasan.

"Di tempat kami, warga berusaha saling bantu dengan seragam layak pakai. Yang punya mau memberi kepada mereka yang memintanya. Di tengah kondisi ekonomi yang sedang susah, sesama warga harus saling bantu," kata Petrus Bere, Ketua RT 11, RW 5, Kelurahan Sikumana, Kota Kupang.

Demi menjaga perasaan orangtua atau murid yang meminta seragam layak pakai, Petrus tidak membuka identitas mereka. Alasannya, hal itu bisa jadi bahan perundungan di sekolah. Sebagai ketua RT, ia berusaha menjembatani. Pemberi tidak merasa dermawan sementara penerima pun tidak merasa rendah diri.

Menurut Petrus, orangtua yang kesulitan membeli seragam baru umumnya pekerja serabutan. Mereka mendapat upah paling tinggi Rp 75.000 per hari. Itu pun tidak selalu ada setiap hari. Kerja serabutan dimaksud seperti menggali lubang jamban atau mengali parit dan jalur kabel di jalanan.

Dengan penghasilan minim, kebutuhan harian sering kali tidak terpenuhi. Oleh karena itu, pengadaan seragam baru sangat memberatkan. Harga satu pasang seragam SMA misalnya, antara Rp 150.000 hingga Rp 200.000.

Di sekolah, siswa memerlukan minimal dua pasang seragam, di luar kostum olahraga, sepatu, kaos kaki dan kebutuhan lain. Menurut perkiraan Petrus, paling sedikit butuh Rp 1,5 juta untuk membeli berbagai jenis seragam. Banyak orangtua miskin tidak sanggup karena mereka tidak punya uang. Ada yang terpaksa berhutang.

Kendati masuk kategori miskin, banyak keluarga tidak terdata sebagai penerima bantuan pemerintah. "Sebagai Ketua RT, kami sudah usulkan kepada pemerintah namun tidak pernah diakomodasi. Padahal mereka layak untuk dibantu," kata Petrus.

Aleks Nenobais (40), warga lain, menuturkan, ia mengambil pinjaman dari koperasi harian untuk membeli seragam bagi anaknya yang masuk SMA. Dengan pinjaman Rp 1 juta, ia membayar pokok serta bunga hingga 24 persen. Ia tak punya pilihan.

Penjual ikan keliling itu menambahkan, banyak sesama penjual ikan memanfaatkan pinjaman daring untuk membayarkan pendidikan anak mereka di tahun ajaran baru. "Kami mau anak kami sekolah. Kami akan pinjam, apapun risikonya," kata Aleks.

Pemerhati pendidikan di NTT Polikarpus Do mengatakan, masalah ekonomi sering kali menjadi hambatan bagi anak dari keluarga miskin untuk mengenyam pendidikan. Fakta miris itu tidak hanya terjadi di Kota Kupang, melainkan di hampir seluruh wilayah NTT.

Serial Artikel

Perdebatan Kemiskinan di NTT, BPS Tak Miliki Identitas Penduduk Miskin

Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) bersifat estimasi. BPS tidak menyediakan data berdasarkan nama dan alamat warga miskin.

Baca Artikel

Slogan mengenai pendidikan gratis tidak sepenuhnya dirasakan masyarakat miskin. Akibatnya, lanjut Polikarpus, kualitas sumber daya manusia di NTT dalam berbagai hasil riset masih sering tertinggal. Ia mendorong agar pendidikan gratis benar-benar diwujudkan.

Polikarpus kini mengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Bintang Flobamora. Di situ itu melayani pendidikan informal Paket A, Paket B, dan Paket C. "Di sini gratis. Peserta membayar dengan cara rajin datang ke sekolah," katanya. Kebanyakan siswa dari keluarga miskin.

Seperti diberitakan sebelumnya, kondisi ekonomi yang memukul masyarakat terutama kalangan menengah ke bawah sangat terasa menjelang tahun ajaran baru. Orangtua berjuang mencari uang untuk biaya pendidikan anak yang jumlahnya tidak sedikit.

Ada Yus Mboeik (51), orangtua tunggal yang masuk kategori ekonomi lemah. Ia mencari penghidupan sebagai buruh serabutan dengan penghasilan tidak menentu. Untuk mendaftarkan anak ke jenjang SLTA, ia menyiapkan biaya sekitar Rp 2 juta yang ditabung sejak tahun lalu.

Kondisi serupa juga dialami Soni (30), warga lainnya. Saat ini ia tidak lagi menjadi sopir keluarga. Majikan yang ia layani sudah menggunakan sepeda motor dengan alasan harga bahan bakar minyak jenis Pertamax naik beberapa waktu lalu. Harga naik dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter.

"Saya bingung karena tahun ini anak saya harus masuk sekolah dasar. Saya cari uang dari mana? Istri juga hanya di rumah saja. Kami rencana pinjam online untuk beli seragam anak," katanya.

Sebelumnya, Soni tidak digaji bulanan. Dia dibayar upah harian dengan tarif mulai Rp 50.000 sampai Rp 100.000, tergantung beban kerja setiap hari. Ia mengantar majikannya ke tempat kerja dan pasar atau supermarket untuk berbelanja. Hampir tiga tahun terakhir, ia bergantung pada pekerjaan itu.

Kini, ia kebingungan mencari pekerjaan yang sesuai dengan skil sopir. Ada peluang yang bisa diambil, yakni melamar menjadi sopir taksi daring. Ia berencana menyewa mobil dari majikan mobil di daerah itu.

Di berbagai obrolan grup percakapan, banyak orangtua mengeluh dengan tingginya biaya masuk sekolah. Di sekolah negeri untuk jenjang SLTA, orangtua membayar hingga Rp 2 juta. Sekolah mematok sejumlah item termasuk uang seragam dan uang pembangunan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT Ambrosius Kodo menegaskan, sekolah harus menggratiskan biaya pendidikan bagi anak-anak miskin. Pemberlakuan uang komite dibatasi paling tinggi Rp 100.000 per siswa per bulan. "Jika ada sekolah yang melanggar, laporkan kepada kami," katanya.

Kondisi yang dialami masyarakat hari ini menunjukkan pendidikan gratis bagi masyarakat miskin belum sepenuhnya terwujud. Jika program Makan Bergizi Gratis dialihkan menjadi pendidikan gratis, manfaatnya akan lebih dirasakan.

Serial Artikel

Tahun Ajaran Baru, Orangtua Tak Hanya Pusing Biaya, tetapi Juga Susah Cari Sekolah

Masyarakat kelompok rentan yang terimpit secara ekonomi berjibaku mencari sekolah bagi anak mereka.

Baca Artikel


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hasil Inggris vs Ghana: Dominasi 88 Persen Bola, The Three Lions Tetap Gagal Menang
• 9 jam lalumedcom.id
thumb
Prabowo Tahu Siapa yang Danai Demo, Singgung Dibayar Rp 200 Ribu
• 3 jam laluliputan6.com
thumb
Kota yang Terlalu Mengandalkan Suara
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
MotoGP Larang Perangkat Holeshot Mulai GP Belanda Akhir Pekan Ini
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jakarta Selatan Career Fest 2026 Dibuka, Ada Job Fair Online dan Offline Gratis untuk Pencari Kerja
• 1 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.