Jakarta, VIVA – Presiden RI Prabowo Subianto mengungkit kembali perjalanan politiknya saat mengikuti Pemilihan Umum (Pemilu). Dia kalah sebanyak empat kali sebelumnya akhirnya berhasil menang Pemilu pada 2024 lalu.
Hal tersebut diceritakan Prabowo saat menghadiri acara Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Kabupaten Gorontalo, Rabu, 24 Juni 2026.
Prabowo mengatakan dirinya tetap berjuang dan bertahan di dunia politik selama puluhan tahun meskipun mengalami kekalahan beberapa kali.
"Tapi saya ingin mengatakan di sini, saya berjuang di politik selama sekian puluh tahun. Saya ikut pemilihan umum. Pemilihan saya ikut lima kali. Empat kali kalah," ucap Prabowo dalam sambutannya.
"Nggak enak kalah itu saudara-saudara, empat kali kalah yang terakhir menang saudara-saudara sekalian," sambungnya.
Dia lantas menjelaskan, kegigihannya di dunia politik ini didasari oleh pandangan terhadap arah pembangunan ekonomi Indonesia. Prabowo menilai, selama ini arah ekonomi Indonesia keliru.
"Kenapa saya masih terus? Kenapa saya masih terus? Karena saya waktu itu melihat, saya lihat arah, arah pembangunan ekonomi kita menurut saya waktu itu berada di arah yang keliru," kata Prabowo.
Dalam kesempatan itu, Prabowo pun kembali menceritakan pengalamannya saat menjabat sebagai Ketua Umum HKTI.
Saat itu Pranowo pernah menghadap Aburizal Bakrie saat masih menjabat sebagai Menko bidang Perekonomian pada 2004-2005 lalu terkait kabar pemerintah ingin impor beras.
Prabowo menjelaskan, dirinya menghadap ke Aburizal Bakrie dan memohon agar Indonesia tidak impor beras. Terlebih, pada saat itu, petani Indonesia akan panen raya.
"Saya sebagai Ketua Umum HKTI, saya menghadap dan saya mengimbau janganlah mengimpor beras. Apalagi impor beras pada saat petani mau panen raya," jelasnya.
Dia menyebut impor beras akan membuat harga beras di petani hancur. Selain itu, dia juga mengaku prihatin karena banyak pakar yang dinilai pintar namun tidak membela petani.
"Hancur harga untuk petani. Petani kita tidak bisa untung, tidak kembali modal. Waktu itu banyak pakar-pakar yang pinter-pinter, tapi sekarang masih menganggap dirinya pinter, mengatakan, untuk apa kita membela petani Indonesia?" tutur Prabowo.





