Panas Ekstrem dan Kekeringan Bisa Perlebar Kesenjangan Pendapatan di Eropa

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Studi terbaru Climate Analytics yang diterbitkan dalam jurnal Global Environmental Change mengungkap bahwa fenomena iklim berupa panas ekstrem yang bertepatan dengan kekeringan berisiko memperlebar kesenjangan pendapatan secara signifikan, dengan kelompok termiskin menanggung beban terbesar.

Laporan ini dirilis di tengah proyeksi gelombang panas yang melanda Eropa pekan ini. Studi yang menganalisis data 2004–2022 tersebut menemukan bahwa kejadian panas dan kekeringan secara bersamaan (compound events) rata-rata mengurangi pendapatan rumah tangga di Eropa hampir 3%. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan dampak masing-masing peristiwa secara terpisah.

Gelombang panas saja diestimasi mengurangi pendapatan rumah tangga rata-rata 0,7%, sementara kekeringan 1,8%. Ketika keduanya terjadi bersamaan, kerugian rata-rata melonjak ke hampir 3%.

Faktor-faktor yang mendorong penurunan pendapatan mencakup memburuknya kondisi kesehatan dan turunnya produktivitas tenaga kerja, penurunan produksi pangan, serta gangguan pada layanan kritis terkait air seperti transportasi dan pembangkitan energi.

Senior Climate Change and Development Economist Climate Analytics sekaligus penulis utama studi ini Jessie Schleypen mengatakan dampak gabungan gelombang panas dan kekeringan jauh melebihi jumlah dampak masing-masing peristiwa.

"Gelombang panas masif yang kini melanda Eropa sudah mengancam kesehatan, mata pencaharian, dan kemampuan kerja masyarakat. Di mana panas ekstrem bertepatan dengan kekeringan, kerusakannya bisa jauh lebih besar. Riset kami menunjukkan bahwa kejadian gabungan ini memperkuat kerugian ekonomi yang dialami langsung oleh rumah tangga Eropa, dan akan makin sering terjadi seiring meningkatnya pemanasan global," katanya, dikutip dari siaran pers, Rabu (24/6/2026).

Baca Juga

  • Jutaan Orang di Asia Terdampak Cuaca Ekstrem Sepanjang 2025
  • Batas Aman Pemanasan Global Terancam Terlampaui 4 Tahun Lagi
  • BMKG: Mayoritas Wilayah Indonesia Alami Puncak Musim Kemarau di Agustus 2026

Dampak gelombang panas dan kekeringan sendiri tidak merata. Kelompok 20% termiskin tercatat paling terdampak, dengan penurunan pendapatan yang 2% lebih besar dibandingkan kelompok lainnya, yakni 4% berbanding 1,1%–1,8%.

"Kelompok 20% termiskin akan paling terdampak, dengan pendapatan turun 2% lebih dari populasi lainnya yang makin memperlebar kesenjangan pendapatan," kata Schleypen.

Secara regional, wilayah yang lebih sering mengalami gelombang panas dan kekeringan mencatat penurunan pendapatan rumah tangga yang jauh lebih dalam. Madrid mencatat penurunan tertinggi hampir 10%, disusul Hungaria Tengah 9,4% dan Spanyol Tengah 8,8%.

Kondisi ke depan diperkirakan bakal makin mengkhawatirkan. Dalam skenario pemanasan global yang mencapai 2,7 derajat Celsius pada 2027, pendapatan rumah tangga Eropa berisiko turun rata-rata sebesar 27%. Membatasi pemanasan pada 1,5 derajat Celsius sesuai komitmen Perjanjian Paris akan memangkas dampak tersebut menjadi hanya 7%.

Adapun dalam skenario kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius, sekitar 60 juta orang di Eropa berisiko jatuh ke dalam kemiskinan. Angka itu melonjak menjadi 127 juta orang dalam skenario 2,7 derajat Celsius.

Dampak paling berat diperkirakan dirasakan oleh Yunani, Spanyol, Rumania, Bulgaria, dan Siprus. Pada pemanasan 2,7 derajat Celsius, pendapatan rumah tangga Spanyol akan turun lebih dari sepertiga, sementara pendapatan rumah tangga Yunani turun lebih dari separuh.

"Seiring kondisi panas dan kekeringan memburuk akibat perubahan iklim, begitu pula dampak ekonomi terhadap kelompok paling rentan di Eropa," kata Schleypen.

Di tengah ancaman ini, sebagian besar wilayah Eropa tergolong masih belum siap menghadapi dampak iklim yang mayoritas dipicu oleh emisinya sendiri. Komite Perubahan Iklim Inggris bulan lalu menyatakan rencana adaptasi pemerintah sejak 2008 masuk kategori "have not been fit for purpose" atau tidak memadai.

Sementara itu, penasihat iklim Prancis, Haut Conseil pour le Climat, juga menyatakan kesenjangan antara kebutuhan dan tindakan adaptasi terus melebar. Sementara studi Climate Analytics untuk Bank Dunia yang diterbitkan Januari 2026 menyimpulkan bahwa Jerman tidak memiliki solusi komprehensif untuk melindungi masyarakat dari dampak tekanan panas yang makin meningkat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Peringati Hari Penyu Sedunia, Ratusan Tukik Dilepasliarkan di Pantai Jolosutro Blitar
• 16 jam laluberitajatim.com
thumb
Fariz RM Sudah 3 Kali Somasi Penyanyi Syahravi Sebelum Bikin Laporan
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Adhisty Zara Rayakan Ultah ke-23, Tampilkan Baby Bump dan Kebersamaan dengan Suami
• 8 jam laluintipseleb.com
thumb
Wali Kota Parepare Tasming Hamid Yakin CR7 Bakal Bawa Portugal Juara Piala Dunia
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Mobile JKN Permudah Akses Layanan Kesehatan Generasi Muda, Pelajar Kediri Rasakan Manfaatnya
• 8 jam laluberitajatim.com
Berhasil disimpan.