JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi tajam pada perdagangan Rabu (24/6/2026). Kabar terbaru dari lembaga penyedia indeks saham global MSCI dan pelemahan nilai tukar rupiah dinilai meningkatkan kekhawatiran investor pada pasar saham RI.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dibuka di level 6.128, terus tertekan sepanjang hari perdagangan. Setelah ditutup melemah signifikan sebesar -99 poin atau -1,62 persen ke level 6.002 di penutupan perdagangan sesi pertama, IHSG terus merosot hingga menyentuh level 5.900 jelang penutupan pasar. Nilai kapitalisasi pasar pun menyusut hingga Rp 10.400 triliun dari nilai di pembukaan pasar sebesar Rp 10.600 triliun.
Seluruh sektor saham mengalami pelemahan dengan sektor bahan baku dan energi paling dalam turun sekitar 5 persen sampai sekitar pukul 15.00 WIB.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto, kepada Kompas, menilai, pelemahan ini dipicu oleh faktor psikologis pasar terhadap stabilitas mata uang dan minimnya daya tarik baru investor asing untuk masuk ke pasar modal.
"Kondisi ini ada hubungannya dengan respons pasar terhadap kembali melemahnya rupiah yang mendekati level 18.000, yang dinilai sebagai indikator kegagalan menjaga stabilitas nilai tukar," ujarnya.
Sepanjang hari ini, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali mendekati Rp 18.000. Posisi ini melawan penguatan rupiah seminggu terakhir akibat kebijakan stabilitasi moneter. Bank Indonesia dalam sebulan telah menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin ke level 5,25 persen.
Pelemahan rupiah ini, menurut William, mengaburkan kabar cukup positif yang datang dari pengumuman MSCI hari ini. MSCI mengumumkan Market Classification Review yang memutuskan pasar saham Indonesia tetap dalam status Emerging Market. Ini berlaku selama MSCI memperpanjang peninjauan terhadap transparansi pasar saham Indonesia sampai November 2026.
William mengatakan, pasar membaca ini sebagai peringatan. Jika pemangku kepentingan gagal mengeksekusi reformasi pasar modal, Indonesia berisiko terkena reklasifikasi (downgrade) dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
"Di luar kabar ini belum ada stimulus baru untuk membuat pasar kembali menarik sehingga aksi jual meningkat," kata William menambahkan.
Sementara itu, Tim Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai, pengumuman MSCI ikut jadi biang kerok pelemahan IHSG. "MSCI kembali menyoroti isu transparansi kepemilikan saham, validitas free float, dan dugaan coordinated trading di pasar domestik," kata mereka.
Pasar juga menangkap MSCI sedang memberikan peringatan terkait implementasi reformasi pasar. Jika tidak menunjukkan kemajuan memadai hingga November 2026, Indonesia berpotensi menghadapi konsultasi terkait penurunan status menjadi Frontier Market.
Pada perdagangan hari ini, BRI Danareksa Sekuritas menangkap investor ramai-ramai menjual saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Persero Tbk (BMRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA). Pelemahan saham-saham tersebut menjadi pemberat utama indeks.
Laporan Pilarmas Investindo Sekuritas menyampaikan, Rabu siang ini, ada beberapa kejadian di pasar global yang positif untuk pasar. Pertama, deeskalasi konflik Timur Tengah setelah senat AS mendukung rancangan undang-undang untuk menghentikan aksi militer terhadap Iran.
"Kemajuan perdamaian ini meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global, sehingga harga minyak dunia melandai dan mengurangi kecemasan inflasi," kata mereka.
Selanjutnya, sikap wait-and-see pasar global menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index pada hari Kamis waktu setempat. Pasar juga mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga pada September mendatang, menyusul pernyataan Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, yang menegaskan komitmennya pada stabilitas harga.
Pergerakan bursa regional Asia sendiri, menurut Pilarmas, cenderung bergerak variatif yang dipengaruhi oleh dua sentimen utama dari Amerika Serikat.





