Bisnis.com, JAKARTA — Mayoritas ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 akan tetap stabil dan resilien di kisaran 5,2% secara tahunan (year-on-year/YoY), meskipun dibayangi oleh tren suku bunga tinggi dan ketidakpastian global yang masih persisten.
Temuan tersebut terekam dalam laporan BIG Consensus Insights yang dirilis oleh DataIndonesia.id, bagian dari Bisnis Indonesia Group (BIG). Laporan ini menghimpun pandangan dari 20 ahli ekonomi dari berbagai kelompok pemangku kepentingan pada Juni 2026.
Presiden Komisaris Bisnis Indonesia Group Hariyadi Sukamdani menjelaskan BIG Consensus Insights 2026 merupakan laporan yang ditujukan untuk memotret kondisi perekonomian Indonesia secara mendalam.
Hariyadi memaparkan bahwa ekonomi Tanah Air masih melaju kencang, dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61% pada kuartal I/2026—pencapaian tertinggi kedua dalam 5 tahun terakhir. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan akselerasi belanja strategis pemerintah.
Kendati demikian, belakangan perekonomian harus dihadapkan pada berbagai ketidakpastian global. Mantan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (2014-2023) ini mencontohkan eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang terjadi sejak akhir Februari lalu berdampak pada kenaikan harga minyak dunia yang akhirnya memberi tekanan fiskal akibat pembengkakan subsidi energi.
Kondisi tersebut juga berdampak pada pasar keuangan, dinamika nilai tukar rupiah, serta berbagai tantangan di pasar modal, termasuk isu transparansi yang sempat memengaruhi proses rebalancing indeks MSCI Indonesia.
Baca Juga
- Potensi Sensus Ekonomi Melahirkan Ribuan Keputusan
- Konsensus Ekonom Ramal Inflasi Mei 2026 Merangkak Naik
- Konsensus Ekonom Proyeksi BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75% di RDG Maret 2026
"Kita tidak bisa menutup mata bahwa kita sedang menjalani era ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya," jelas Hariyadi dalam forum BIG Economic Insights 2026, Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Oleh sebab itu, Bisnis Indonesia Group meminta pendapat 20 ekonom dan analis terkemuka untuk memberikan proyeksi dan arah indikator makroekonomi nasional pada tahun ini.
Pertumbuhan StabilBerdasarkan hasil konsensus, median proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II/2026 dan keseluruhan tahun 2026 dipatok pada level yang sama, yakni sebesar 5,20% YoY. Adapun rentang proyeksi ekonomi untuk keseluruhan tahun 2026 berada pada kisaran 5,00% hingga 5,40%.
"Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun tekanan eksternal dan suku bunga tinggi masih membayangi, ekonomi domestik masih diperkirakan mampu bertahan di sekitar level 5%," tulis laporan yang dirilis pada Rabu (24/6/2026).
Optimisme terhadap ketahanan ekonomi tersebut ditopang oleh kuatnya permintaan domestik. Pada kuartal II/2026, konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah tangga masing-masing menyumbang porsi terbesar sebagai motor utama pertumbuhan sebesar 35,71%, disusul oleh investasi sebesar 25%.
Dari sisi sektoral, sektor perdagangan menjadi penyumbang paling dominan dengan porsi 19,61%, diikuti oleh sektor akomodasi dan makan minum sebesar 17,65%, serta transportasi dan pergudangan sebesar 13,73%.
Untuk prospek keseluruhan tahun 2026, konsumsi pemerintah diproyeksikan tetap menjadi faktor penopang yang paling dominan (33,33%), diikuti oleh konsumsi rumah tangga (30,30%), investasi (27,27%), dan ekspor yang berkontribusi paling minim (9,09%).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pemaparan saat acara BIG Economic Insights 2026 di Jakarta, Rabu (24/6/2026). Acara ini meluncurkan dua riset utama, yaitu Indonesia Strategic Economic Report 2026 dan Consensus Report sebagai basis data makro bagi para pelaku usaha. JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Sikap Moneter KetatDi sisi kebijakan moneter, konsensus menunjukkan dinamika ekspektasi yang cukup agresif menyusul langkah Bank Indonesia (BI) yang mengerek suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 100 basis poin pada Mei—Juni 2026 menjadi 5,75%.
Langkah BI ini berlangsung lebih cepat dari perkiraan sebagian besar panelis yang sebelumnya memproyeksikan perubahan suku bunga baru akan dieksekusi pada kuartal III/2026.
Ke depan, mayoritas ekonom meyakini bank sentral akan tetap mempertahankan sikap (stance) kebijakan yang ketat: sebanyak 80% panelis (12 dari 15 ekonom) memperkirakan arah kebijakan BI masih cenderung hawkish hingga akhir 2026; hanya 20% ekonom yang melihat arah kebijakan akan bergeser menjadi netral.
Sikap ketat ini diperkirakan akan terus dipertahankan guna memitigasi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, mengelola dinamika arus modal asing, serta merespons ketidakpastian eksternal yang masih tinggi.
Risiko Inflasi MengintaiTerkait dengan pergerakan harga, inflasi domestik dinilai cenderung terkendali, di mana hingga Mei 2026 inflasi tercatat sebesar 3,08% YoY.
Untuk proyeksi hingga tutup tahun 2026, pandangan ekonom tampak terbelah. Sebanyak 53,33% ekonom memperkirakan tingkat inflasi akan tetap sejalan dengan target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yaitu di kisaran 2,5±1%.
Sementara itu, 46,67% dari panelis lainnya memproyeksikan bahwa inflasi berisiko melampaui target proyeksi APBN.
Para ekonom menggarisbawahi bahwa ruang kenaikan inflasi pada paruh kedua tahun ini perlu diantisipasi secara cermat. Risiko utama yang berpotensi memicu lonjakan inflasi bersumber dari gejolak harga energi atau komoditas global, yang disoroti oleh 57,10% panelis.
Faktor risiko lainnya secara berurutan mencakup gejolak harga pangan atau volatile food (21,40%), pelemahan nilai tukar rupiah (14,30%), dan penyesuaian harga yang diatur oleh pemerintah atau administered prices (7,10%).
Berikut 20 ekonom dan Analis yang tergabung dalam panelis BIG Consensus Insights1. Andry Asmoro – Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
2. Ahmad Mikail Zaini – Kepala Ekonom PT Sucor Sekuritas
3. Enrico Tanuwidjaja – Ekonom UOB Indonesia
4. Dipo Satria Ramli – Ekonom Core Indonesia
5. Leo Putra – Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
6. Myrdal Gunarto – Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
7. Winang Budoyo – Kepala Ekonom Perbanas
8. Radhika Rao – Ekonom Eurozone, India & Indonesia DBS
9. Anton Hendranata – Chief Economist PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. dan Direktur Utama BRI Research Institute
10. Hosianna E. Situmorang – Ekonom PT Bank Danamon Tbk.
11. William Simadiputra – Indonesia's Head of Research, DBS Group Research
12. Sunarsip – Ekonom Senior The Indonesia Economic Intelligence (IEI)
13. Fakhrul Fulvian – Kepala Ekonom PT Trimegah Sekuritas Tbk.
14. Fikri C. Permana – Head of Equity Research KB Valbury Sekuritas
15. Lintang N. – Ekonom PT Bahana Sekuritas
16. Rully Arya Wisnubroto – Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia
17. Josua Pardede – Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk.
18. M. Rizal Taufikurahman – Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef)
19. Piter Abdullah – Ekonom Prasasti
20. David Sumual – Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk.





