Bembenx Ora Turu, Orang Indonesia Pertama yang Menamatkan Transcontinental Race

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Ketika Bambang Anggoro Jati berdiri di garis finis Transcontinental Race 2024 di Kadikoy, Turki, ia tidak hanya menyelesaikan balap sepeda sejauh 4.416 kilometer melintasi Eropa.

Ia juga mencatatkan namanya sebagai orang Indonesia pertama yang berhasil menamatkan salah satu ajang ultra-cycling paling berat di dunia.

Namun kisah Bambang tidak dimulai dari panggung olahraga internasional.

Ia bukan atlet nasional. Ia bukan pula pesepeda profesional yang hidup dari kontrak sponsor besar. Bambang lahir dan besar di Yogyakarta sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya merupakan pensiunan TNI, sementara ibunya pensiunan guru taman kanak-kanak.

Sepeda telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil. Ia terbiasa berangkat sekolah dengan sepeda, jauh sebelum mengenal balapan jarak jauh atau istilah ultra-cycling.

Setelah lulus SMA, Bambang melanjutkan pendidikan di Universitas AMIKOM Yogyakarta. Di masa kuliah, kehidupannya justru lebih dekat dengan dunia komputer dibanding olahraga.

Ia berjualan perangkat keras komputer, menjadi asisten dosen, mengembangkan aplikasi Android, hingga mengikuti kompetisi overclocking komputer yang membawanya ke luar negeri.

"Overclocking itu seperti balapan motor, tapi di komputer," ujarnya sambil tertawa.

Dunia sepeda baru menjadi bagian serius dalam hidupnya beberapa tahun kemudian.

Pada 2017, ia sempat masuk tim balap sepeda Kabupaten Sleman untuk ajang Pekan Olahraga Daerah (Porda). Namun Bambang segera menyadari bahwa dirinya tidak cocok menjadi atlet balap konvensional.

Balap sepeda membutuhkan ledakan kecepatan. Sementara dirinya lebih menikmati perjalanan panjang yang menguji ketahanan fisik dan mental.

"Ternyata aku enggak cocok di atlet. Kalau endurance itu yang paling ngaruh justru mental," katanya.

Ia kemudian aktif mengikuti Audax, format bersepeda jarak jauh yang menuntut peserta menyelesaikan rute ratusan hingga ribuan kilometer dalam batas waktu tertentu. Dari situlah namanya mulai dikenal di kalangan pesepeda jarak jauh Indonesia.

Pada Audax 600 kilometer tahun 2022, Bambang menjadi peserta tercepat tanpa tidur sepanjang perjalanan. Pada tahun yang sama, ia mengikuti Bentang Jawa, balap ultra-cycling sejauh sekitar 1.500 kilometer dari Banten menuju Banyuwangi.

Di ajang itulah lahir julukan yang kemudian melekat pada dirinya: Bembenx Ora Turu.

Selama hampir tiga hari ia memimpin lomba tanpa tidur. Tubuhnya terus bergerak, tetapi pikirannya mulai kehilangan orientasi. Ia sempat lupa sedang mengikuti balapan, tersesat di pikirannya sendiri, hingga akhirnya tertidur selama empat jam di pinggir jalan dan dicari oleh peserta serta panitia di seluruh Indonesia.

Pengalaman itu menjadi titik balik.

Bambang mulai memahami bahwa ultra-cycling bukan sekadar soal kekuatan kaki atau kemampuan mengayuh sepeda lebih cepat. Yang diuji adalah kemampuan manusia mengenali batas dirinya sendiri.

Sejak saat itu, berbagai tantangan yang lebih besar mulai ia datangi. Ia mengikuti sejumlah ajang ultra-cycling di Indonesia, termasuk Lintang Flores, sebelum akhirnya memutuskan mendaftar Transcontinental Race 2024.

Keputusan itu bukan tanpa risiko.

Biaya yang dibutuhkan mendekati Rp90 juta. Sebagian besar dana berasal dari dukungan komunitas pesepeda dan orang-orang yang percaya bahwa Indonesia harus memiliki seorang finisher Transcontinental Race.

Dukungan itulah yang terus ia ingat sepanjang perjalanan melintasi Eropa.

Saat kelelahan, saat sakit, saat tidur di halte, pom bensin, atau pinggir jalan, ia terus mengingat satu hal: belum pernah ada orang Indonesia yang berhasil menamatkan balapan ini.

"Aku pokoknya harus finish. Ini orang Indonesia pertama yang finish," kenangnya.

Empat belas hari kemudian, Bambang tiba di Turki dengan catatan waktu 14 hari 15 jam 10 menit. Ia finis di peringkat ke-71 dan menorehkan sejarah baru bagi ultra-cycling Indonesia.

Meski demikian, kehidupannya tidak banyak berubah.

Hingga hari ini ia masih tinggal di Yogyakarta dan masih menggunakan motor Vario keluaran 2015 yang kilometernya bahkan lebih rendah dibanding jarak tempuh sepedanya setiap tahun.

"Motorku sekarang baru 75 ribu kilometer. Kalau sepeda setahun bisa 16 ribu sampai 20 ribu kilometer," katanya.

Bagi Bambang, Transcontinental Race bukan garis akhir.

Pada Juli 2026, ia akan kembali ke Eropa untuk mengikuti Transcontinental Race edisi ke-12 yang menempuh rute dari Norwegia hingga Yunani sejauh sekitar 5.000 kilometer.

Tujuannya sederhana. Bukan menjadi terkenal. Bukan pula mengejar hadiah. Ia hanya ingin terus mengayuh lebih jauh dari sebelumnya.

"Impian ku sih bisa sepedaan ke mana saja," ucap Bambang.

Tentang Mitra Liputan

Liputan ini didukung oleh Nutriflakes, sereal umbi garut pilihan keluarga Indonesia. Melalui kolaborasi ini, Nutriflakes dan Pandangan Jogja mengangkat kisah-kisah tentang gaya hidup aktif, ketahanan fisik, serta pentingnya menjaga pola makan dan kesehatan pencernaan dalam aktivitas sehari-hari.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Taufik Hidayat Penyekap Pacar Sembunyi di Rumah Kerabat Saat Diringkus
• 20 jam laludetik.com
thumb
Cristiano Ronaldo Bikin Rekor Gila, Tak Ada yang Pernah Melakukannya di Piala Dunia
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Respons Review MSCI, OJK Janji Kebut Reformasi Pasar Modal
• 12 jam lalukatadata.co.id
thumb
Warga Jakarta Ambil Peran Wujudkan Udara Bersih
• 23 jam laluliputan6.com
thumb
Pemerintah Pertimbangkan Reaktor Nuklir Modular untuk Pasok Energi Pusat Data
• 4 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.