Liputan6.com, Jakarta - Mengayuh sepeda puluhan kilometer sambil membawa ikan segar untuk dijual menjadi rutinitas Muhammad Risky Pratama (12) setahun lalu. Bocah asal Bagan Deli, Kota Medan, itu melakukan pekerjaan tersebut demi membantu orang tuanya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
"Kadang (sehari) Rp 30 ribu dapatnya. Paling banyak dikasih Rp 90 ribu kalau habis semua," kata dia saat menceritakan pengalamannya berjualan ikan di Medan, seperti dikutip Rabu (24/6/2026).
Advertisement
Sebagai anak sulung dari empat bersaudara, Risky diasuh oleh kakeknya, Salamuddin, dan neneknya, Masitah sejak kelas 4 SD. Ia tinggal di sana karena sang ibu merantau untuk bekerja di luar daerah, sementara ayahnya telah berkeluarga lagi dan menetap cukup jauh sehingga jarang bertemu dengannya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, keluarga itu mengandalkan penghasilan Salamuddin yang bekerja mencari kerang di laut. Namun, pendapatannya tidak menentu, berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu per hari, tergantung kondisi cuaca saat melaut.
Dengan penghasilan tersebut, kakek Salamuddin kesulitan memenuhi kebutuhan 13 anggota keluarga yang menjadi tanggungannya, termasuk untuk biaya sekolah Risky.
Kondisi ekonomi yang serba terbatas itu mendorong Risky untuk ikut membantu mencari tambahan penghasilan dengan berjualan ikan sejak duduk di bangku kelas 6.
Risky mengaku keputusan untuk berjualan ikan merupakan keinginannya sendiri. Ia ingin membantu meringankan beban keluarga sekaligus tetap melanjutkan pendidikannya.
"Hasil jualan dibagi nenek, habis itu nenek beli beras dan pampers adik," cerita dia.
Kini hidupnya sudah berubah. Melalui Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan, Risky bukan hanya bisa mengenyam bangku pendidikan, tapi menemukan harapan baru demi mewujudkan mimpinya.
Masitah (55) mengaku sangat bersyukur dengan hadirnya program Sekolah Rakyat gagasan Presiden Prabowo Subianto. Karena tanpanya, Risky mungkin tidak akan mampu melanjutkan pendidikan.
"Dulu saya menangis, kenapa? Karena saya tak akan mampu menyekolahkan dia. Karena dia bilang, cita-cita awak ini nek, apa bisa awak sekolah, nah itu saya menangis memang. Tapi kalau sekarang ini saya menangis, tapi menangis bahagia," ungkap dia.




