Anggota DPR Usul PTN Beri Kuota Khusus untuk Mahasiswa dari Daerah 3T

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Komisi X DPR RI My Esti Wijayati mendorong perguruan tinggi negeri (PTN) menerima atau memberi kuota khusus kepada mahasiswa yang berasal dari daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Menurut Esti, langkah tersebut dapat menjadi salah satu bentuk afirmasi negara dalam mewujudkan pemerataan akses pendidikan tinggi.

“Mungkinkah setiap kampus mempunyai kewajiban menampung mahasiswa yang berasal dari daerah 3T? Berapa persen dan pada program studi apa saja yang dimungkinkan? Ini perlu kita pikirkan bersama,” kata Esti, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panja Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Esti menilai, perluasan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat di daerah 3T perlu menjadi perhatian dalam penyempurnaan sistem Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).

Baca juga: Tiru AS-Inggris, ITB Usul Peserta UTBK Ketahui Nilai Sebelum Pilih Kampus

Politikus PDI-P itu menilai, kondisi pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari realitas geografis dan sosial yang sangat beragam.

Oleh karena itu, sistem seleksi masuk perguruan tinggi perlu memberikan afirmasi bagi peserta didik yang berasal dari daerah yang punya keterbatasan fasilitas pendidikan dan infrastruktur.

Esti menilai, tidak tepat apabila PTM membuat standar seleksi secara seragam tanpa mempertimbangkan perbedaan kondisi yang dihadapi para calon mahasiswa di berbagai wilayah.

“Kita harus memberikan ruang dengan parameter yang sedikit berbeda. Tidak mungkin kita menuntut sesuatu yang sama kepada anak-anak yang berasal dari wilayah dengan keterbatasan dibandingkan mereka yang memiliki akses pendidikan yang lebih baik,” ujar dia.

Ia mencontohkan masih ada pelajar di wilayah pelosok atau perbatasan yang punya banyak keterbatasan dalam akses ke pendidikan.

Menurut Esti, tidak adil jika capaian akademik mereka dibandingkan secara langsung dengan siswa dari sekolah-sekolah unggulan yang tak ada keterbatasan dalam akses fasilitas dan dukungan pendidikan.

Baca juga: UGM Minta Pemerintah Perluas Beasiswa agar Lulusan SMA Bisa Kuliah

Selain afirmasi bagi daerah 3T, Esti juga menilai, kebijakan pendidikan tinggi harus memperhatikan kelompok masyarakat kurang mampu.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Dia berharap, hasil rapat Panja SPMB dapat melahirkan kebijakan yang lebih inklusif dan mampu membuka peluang lebih luas bagi anak-anak di daerah untuk mengakses pendidikan tinggi berkualitas.

“Memberikan ruang bagi anak-anak dari daerah 3T merupakan bagian dari upaya menghadirkan keadilan dalam pendidikan. Mereka juga memiliki potensi yang harus diberi kesempatan untuk berkembang,” pungkas dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Saat Anak Lulus SMP, Jangan Tanyakan Mau Masuk SMA atau SMK?
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Beberkan Penyebab Gaji Guru Tak Naik: Uangnya Nggak Ada
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Pertamina Catatkan Laba Bersih Rp55,2 Triliun Sepanjang 2025
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Tantangan Program Ketahanan Pangan di Lapas: Napi Sudah Untung, Investor Belum
• 21 jam laludetik.com
thumb
Kabar Gembira, Tenor KPR Rumah Subsidi Kini Bisa Sampai 40 Tahun
• 5 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.