KFI: Keterjangkauan Harga Jadi Kunci Beras Fortifikasi Masuk Pasar Massal

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku industri menilai perluasan konsumsi beras fortifikasi di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait keterjangkauan harga, distribusi, dan rendahnya pemahaman masyarakat mengenai manfaat produk tersebut.

Direktur Koalisi Fortifikasi Indonesia (KFI) Nina Sardjunani mengatakan keberhasilan pengembangan beras fortifikasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan produksi, tetapi juga oleh akses masyarakat terhadap produk tersebut.

Menurutnya, keterjangkauan harus dipahami secara lebih luas, mencakup aspek harga maupun kemudahan memperoleh produk di berbagai wilayah.

“Untuk supaya harga ini masuk dan lebih terjangkau, karena keterjangkauan ada beberapa hal yang paling pokok dalam ketahanan pangan meliputi jarak dan kemampuan ekonomi,” ujarnya dalam forum Miller for Nutrition di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Nina menjelaskan KFI mendorong pengembangan penggilingan padi di berbagai daerah agar dapat memproduksi beras fortifikasi secara lokal. Upaya tersebut diharapkan mampu memangkas biaya distribusi sekaligus memperluas jangkauan produk hingga ke masyarakat di berbagai wilayah.

Selain memperkuat jaringan produksi dan distribusi, KFI juga berupaya menjaga harga beras fortifikasi tetap terjangkau. Menurut Nina, tujuan utama program fortifikasi adalah membantu mengatasi persoalan kekurangan gizi, sehingga produk tidak boleh menjadi komoditas yang hanya dapat diakses kelompok tertentu.

Baca Juga

  • Amran Klaim Stok Beras Aman Sampai Mei 2027 Meski Ada El Nino
  • Indramayu Terlalu Dominan, Pasokan Beras Jabar Jadi Rentan
  • Harga Beras RI Mahal Meski Stok Melimpah, Apa Penyebabnya?

“Karena niat kita adalah beras fortifikasi ini untuk mengentaskan kekurangan gizi masyarakat kecil,” katanya.

Beras fortifikasi merupakan beras yang diperkaya dengan berbagai mikronutrien penting seperti zat besi, zinc, asam folat, vitamin B1, dan B2.

Produk tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung perbaikan gizi masyarakat karena beras merupakan makanan pokok yang dikonsumsi hampir seluruh penduduk Indonesia.

“Beras sebagai makanan pokok bisa menjadi kendaraan membawa zat-zat penting tersebut untuk meningkatkan angka anemia dan defisiensi vitamin A,” ujar Nina.

KFI memperkirakan biaya fortifikasi relatif rendah, yakni sekitar Rp1.000 per kilogram beras atau setara tambahan biaya sekitar Rp15.900 per orang setiap tahun.

Meski demikian, Nina menilai tantangan terbesar bukan berada pada biaya tambahan tersebut, melainkan pada rendahnya tingkat pemahaman masyarakat mengenai manfaat beras fortifikasi.

Menurutnya, tanpa edukasi yang memadai, masyarakat belum tentu bersedia membeli produk tersebut meskipun harganya dibuat lebih terjangkau.

“Kalau rakyatnya tidak paham manfaatnya, meskipun harganya dimurahkan tidak akan beli juga,” katanya.

Karena itu, KFI mendorong peningkatan sosialisasi mengenai manfaat beras fortifikasi sebagai bagian dari strategi perbaikan kualitas gizi dan sumber daya manusia Indonesia.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Dasep Suryanto menilai strategi pemasaran juga perlu disesuaikan agar produk lebih mudah diterima konsumen.

Menurutnya, beras fortifikasi dapat dipasarkan dalam kemasan yang lebih kecil, seperti 1 kilogram atau 2,5 kilogram, sehingga harga pembelian awal menjadi lebih ringan bagi masyarakat.

Langkah tersebut dinilai dapat memperluas akses sekaligus mengurangi persepsi bahwa beras fortifikasi merupakan produk premium.

“Kalau yang khusus itu jangan sampai menjangkau ke angka Rp90.000, di bawah Rp90.000,” ujar Dasep mengenai harga kemasan 5 kilogram yang dinilai masih berada dalam jangkauan konsumen.

Pelaku industri berharap kombinasi antara edukasi masyarakat, penguatan distribusi, serta strategi harga dan kemasan yang lebih sesuai dengan daya beli konsumen dapat mempercepat adopsi beras fortifikasi di Indonesia.

Dengan semakin luasnya konsumsi beras fortifikasi, program tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen untuk membantu mengurangi masalah kekurangan mikronutrien dan meningkatkan kualitas gizi masyarakat secara berkelanjutan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Allo Bank (BBHI) Gelar RUPS Besok (25/6), Simak Agenda Lengkapnya!
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Prabowo Bidik Indonesia Jadi Lumbung Padi Dunia, Produktivitas Petani Disebut Melonjak 100 Persen
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Pembalap Muda Menuju Panggung Dunia, Ini Juara Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Rd 2
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Cara Pengembalian Dana PT Syaftraco
• 3 jam laluptsyaftraco.co
thumb
Bupati Sumenep Mutasi Empat Kepala OPD, Ini Daftarnya
• 21 jam laluberitajatim.com
Berhasil disimpan.