Tren Paylater Kian Diminati, Fintech Ini Tegaskan Gen Z Wajib Bijak Atur Uang

idxchannel.com
4 jam lalu
Cover Berita

Sejumlah perusahaan teknologi finansial (fintech) atau peer-to-peer (P2P) lending terus mendukung berbagai program literasi dan inklusi keuangan.

Tren Paylater Kian Diminati, Fintech Ini Tegaskan Gen Z Wajib Bijak Atur Uang. (Foto Istimewa)

IDXChannel – Sejumlah perusahaan teknologi finansial (fintech) atau peer-to-peer (P2P) lending terus mendukung berbagai program literasi dan inklusi keuangan. Hal ini dilakukan guna membantu masyarakat mengambil keputusan finansial yang lebih baik.

Direktur Pengembangan Bisnis PT Plus Ultra Abadi (UATAS) Shintya Maulida mengatakan, di tengah semakin mudahnya akses terhadap layanan keuangan digital, kemampuan mengelola keuangan menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki generasi muda.

Baca Juga:
Fintech Dekat dengan Gen Z, OVO Dorong Mahasiswa Lebih Cerdas Kelola Keuangan

Apalagi mahasiswa termasuk kalangan Gen Z, saat ini merupakan salah satu kelompok penduduk terbesar di Indonesia dengan jumlah sekitar 75 juta jiwa atau hampir 28 persen populasi Indonesia (BPS,2025). Dengan proporsi hampir sepertiga populasi Indonesia, perilaku keuangan Gen Z akan sangat menentukan kualitas literasi dan kesehatan keuangan Nasional di masa depan.

“Di tengah kemudahan digitalisasi sekarang, nyatanya juga memberi tantangan pada generasi muda kaitannya dalam pengelolaan keuangan. Salah satunya sikap gengsi dan FOMO (fear of missing out), lalu kemudahan akses transaksi digital dan impulse buying termasuk di dalamnya tren flash sale dan paylater pun turut menjadi penyebab utama masyarakat kurang bijaksana dalam menggunakan uangnya,” katanya dalam diskusi Pindar Mengajar: Cerdas Mengelola, Bijak Bertransaksi di Universitas Islam Malang (Unisma), Rabu (24/6/2026).

Baca Juga:
Cegah Risiko Pinjol Ilegal, OVO Finansial Perkuat Edukasi Mahasiswa Lewat Fintech Academy

Shintya menerangkan, ketika masyarakat sudah bijak dalam mengatur keuangan sejak dini tentu nanti akan bermanfaat pada setiap aspek masa depan. Sebab, kebebasan finansial atau financial wellness tidak hanya diukur dari besarnya penghasilan yang dimiliki seseorang, tetapi juga dari pendapatan, mengatur pengeluaran, menyusun prioritas, serta mempersiapkan kebutuhan di masa depan.

Baca Juga:
Perusahaan Fintech Intuit PHK 3.000 Karyawan di Seluruh Dunia

Shintya lantas memberikan sedikit tips dalam mengendalikan impulse buying pada generasi muda yakni dengan membuat anggaran bulanan dan batas pengeluaran. Kemudian, penting juga untuk menghindari berbelanja saat sedang emosional dan terakhir disiplin dalam melakukan evaluasi pengeluaran secara berkala.

Selanjutnya, Shintya menyebutkan keputusan dalam mengambil pinjaman hendaknya didasari dengan kebutuhan mendesak yang sesuai dengan kemampuan membayar. Selain itu, jika dana akan digunakan untuk kebutuhan produktif sebaiknya juga disesuaikan dengan tenor yang sesuai dengan target pemasukan dari bisnis yang berjalan nantinya.

UATAS dalam kesempatan ini juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga keamanan data pribadi di tengah meningkatnya aktivitas digital masyarakat. Kesadaran terhadap keamanan data dinilai menjadi salah satu aspek penting dalam membangun ekosistem keuangan digital yang sehat dan aman.

"Sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi, mahasiswa memiliki peluang besar untuk memanfaatkan berbagai layanan digital secara produktif. Namun di saat yang sama, mereka juga perlu memahami risiko yang menyertainya agar dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dan bertanggung jawab," ujarnya.

Partisipasi UATAS dalam program Pindar Mengajar merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung peningkatan literasi dan inklusi keuangan nasional. Melalui kolaborasi antara industri, dunia pendidikan, regulator, dan masyarakat, UATAS berharap semakin banyak generasi muda yang memiliki pemahaman finansial yang baik serta mampu membangun kebiasaan keuangan yang sehat sejak usia muda.

Apalagi menilik hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan oleh OJK dan BPS menunjukkan bahwa Indeks literasi keuangan masyarakat masih mencapai 66,46 persen dengan Indeks inklusi keuangan yang sebesar 80,51 persen.

Ke depan, UATAS akan terus mendorong berbagai inisiatif edukasi yang relevan dengan kebutuhan generasi muda, termasuk literasi keuangan digital, keamanan data, dan pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab. Langkah ini sejalan dengan visi perusahaan untuk berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih pintar finansial dan siap menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bangka Tengah Cetak Sejarah, Raih Opini WTP 10 Kali Berturut-turut dari BPK
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Sempat Curhat ke Mantan Bos, Taufik Hidayat Ngaku Sudah Nikah Siri hingga Beberkan Alasan Korban Tak Bisa Melihat
• 5 jam lalugrid.id
thumb
Siasat untuk memutuskan hubungan yang tidak sehat
• 49 menit laluantaranews.com
thumb
Adhisty Zara Rayakan Ultah ke-23, Tampilkan Baby Bump dan Kebersamaan dengan Suami
• 16 jam laluintipseleb.com
thumb
Stimulus Rp26,34 Triliun Digelontorkan, Apindo Optimistis Daya Beli Masyarakat Terdongkrak
• 10 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.