REPUBLIKA.CO.ID, GAZA— Perundingan gencatan senjata di Mesir antara faksi-faksi Palestina dan para mediator menghadapi ujian serius setelah Nickolay Mladenov, perwakilan tinggi Board of Peace, menuntut agar tidak ada lagi sebutir peluru PUN yang tersisa di Gaza.
Di antara tuntutan maksimal yang diajukan badan pengawas Gaza bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump adalah pelucutan total Hamas, penyerahan peta jaringan terowongan yang dioperasikan kelompok tersebut, bahkan penyitaan senjata pribadi milik warga Palestina di wilayah kantong itu.
Baca Juga
Gagalnya Kemenangan Mutlak Netanyahu yang Merugikan Militer Israel
Hubungan Memanas, AS Waspadai Spionase Intelijen Israel hingga Level Membahayakan
Ilusi Perang Irak, Suriah, Lebanon, dan Iran: Hentikan Segera Israel Raya Jika Ingin Dunia Damai
Menurut sejumlah sumber yang terlibat dalam pembicaraan di Kairo, persoalan penyerahan senjata Palestina menjadi hambatan utama untuk mengakhiri sepenuhnya perang yang oleh Palestina disebut sebagai perang genosida Israel di Gaza.
Para pejabat Palestina berpendapat bahwa syarat pelucutan senjata secara menyeluruh menunjukkan bahwa Mladenov pada dasarnya hanya memfasilitasi tuntutan maksimal Israel.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Kebuntuan saat ini berpusat pada "Klausul 8", bagian penting dari rencana gencatan senjata Oktober 2025 yang dimediasi Amerika Serikat.
Klausul ini mengatur secara rinci syarat pelucutan senjata, pengelolaan infrastruktur militer di Gaza pascaperang, serta pengalihan tanggung jawab keamanan kepada badan Palestina yang bersatu.
Sumber yang mengetahui dinamika internal perundingan mengatakan kepada Aljazeera bahwa Hamas pada awalnya menunjukkan sikap yang sangat positif terhadap klausul tersebut.
Untuk pertama kalinya, Hamas bersedia menyerahkan inventaris dan penyimpanan senjata berat, yakni persenjataan berupa roket, rudal, dan rudal antitank Kornet yang diyakini dimiliki kelompok itu.
Kerabat menangis di samping jenazah Julie Al-Balawi (8 tahun) di dalam Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis, di Jalur Gaza selatan, pada 21 Juni 2026. Ia syahid akibat serangan Israel yang menargetkan pantai di Khan Yunis. - ( EPA/HAITHAM IMAD)