VIVA – Industri digital global tengah memasuki fase baru yang didorong oleh perkembangan pesat kecerdasan buatan AI (Artificial Intelligence). Jika sebelumnya transformasi digital identik dengan komputasi awan, aplikasi seluler, dan big data, kini AI menjadi pusat perubahan yang mengubah cara perusahaan beroperasi, berinovasi, hingga berinteraksi dengan pelanggan.
- Freepik
Laporan terbaru dari World Economic Forum (WEF), dikutip VIVA Rabu, 24 Juni 2026, menunjukkan bahwa AI tidak lagi sekadar teknologi eksperimental. Pada 2026, banyak organisasi mulai mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis inti mereka dan memperoleh manfaat yang terukur dari penerapannya.
Namun, tantangan terbesar kini bukan lagi mengadopsi AI, melainkan mengubah cara kerja perusahaan agar mampu memaksimalkan potensinya.
AI Menjadi Mesin Baru Produktivitas
Para ekonom yang tergabung dalam World Economic Forum memprediksi bahwa dampak terbesar AI akan terasa pada sektor yang mengandalkan pengetahuan dan pengolahan informasi, seperti teknologi, keuangan, konsultasi, hukum, dan akuntansi. AI mampu mempercepat proses riset, analisis data, penyusunan dokumen, hingga pengambilan keputusan.
Di sektor pengembangan perangkat lunak, perubahan bahkan terlihat lebih nyata. Berbagai studi menunjukkan bahwa AI generatif telah membantu programmer menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, mulai dari menulis kode, menguji aplikasi, hingga memperbaiki kesalahan sistem.
Produktivitas pengembang perangkat lunak dilaporkan mengalami peningkatan signifikan berkat penggunaan asisten AI.
Dari Otomatisasi ke Transformasi
Perusahaan-perusahaan besar kini tidak lagi menggunakan AI hanya untuk mengotomatisasi tugas sederhana. Mereka mulai memanfaatkannya untuk menciptakan model bisnis baru dan meningkatkan daya saing.
WEF menyebutkan bahwa keunggulan kompetitif masa depan tidak hanya bergantung pada kepemilikan teknologi AI, tetapi pada kemampuan menggabungkan AI dengan teknologi lain seperti cloud computing, Internet of Things (IoT), analitik data, dan sistem operasional perusahaan. Fenomena ini dikenal sebagai technology convergence atau konvergensi teknologi.
Contohnya terlihat pada industri layanan teknologi informasi dan komunikasi serta telekomunikasi digital. Seperti PT Telkom dengan dividen yang dicapai pada 2026 menyentuh 22 persen, terdiri dari 11,46 persen untuk pemerintah dan 10,54 pemegang saham.
Angka itu naik dari capaian 2025, di mana dividen menyentuh 21,05 persen. Angka itu terdiri dari 10,96 untuk pemerintah dan 10,08 untuk pemegang saham.





