Mengintip Wajah Industri Digital di Era Kecerdasan Buatan

viva.co.id
23 jam lalu
Cover Berita

VIVA – Industri digital global tengah memasuki fase baru yang didorong oleh perkembangan pesat kecerdasan buatan AI (Artificial Intelligence). Jika sebelumnya transformasi digital identik dengan komputasi awan, aplikasi seluler, dan big data, kini AI menjadi pusat perubahan yang mengubah cara perusahaan beroperasi, berinovasi, hingga berinteraksi dengan pelanggan.

Ilustrasi digitalisasi
Photo :
  • Freepik
Baca Juga :
Masa Depan Profesi Ini di Ujung Tanduk
Mengingtip Potensi Bisnis Beras Fortifikasi Komersial, Ritel hingga Industri Didorong Ekspansi Pasar

Laporan terbaru dari World Economic Forum (WEF), dikutip VIVA Rabu, 24 Juni 2026, menunjukkan bahwa AI tidak lagi sekadar teknologi eksperimental. Pada 2026, banyak organisasi mulai mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis inti mereka dan memperoleh manfaat yang terukur dari penerapannya.

Namun, tantangan terbesar kini bukan lagi mengadopsi AI, melainkan mengubah cara kerja perusahaan agar mampu memaksimalkan potensinya.

AI Menjadi Mesin Baru Produktivitas

Para ekonom yang tergabung dalam World Economic Forum memprediksi bahwa dampak terbesar AI akan terasa pada sektor yang mengandalkan pengetahuan dan pengolahan informasi, seperti teknologi, keuangan, konsultasi, hukum, dan akuntansi. AI mampu mempercepat proses riset, analisis data, penyusunan dokumen, hingga pengambilan keputusan. 

Di sektor pengembangan perangkat lunak, perubahan bahkan terlihat lebih nyata. Berbagai studi menunjukkan bahwa AI generatif telah membantu programmer menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, mulai dari menulis kode, menguji aplikasi, hingga memperbaiki kesalahan sistem. 

Produktivitas pengembang perangkat lunak dilaporkan mengalami peningkatan signifikan berkat penggunaan asisten AI. 

Dari Otomatisasi ke Transformasi

Perusahaan-perusahaan besar kini tidak lagi menggunakan AI hanya untuk mengotomatisasi tugas sederhana. Mereka mulai memanfaatkannya untuk menciptakan model bisnis baru dan meningkatkan daya saing.

WEF menyebutkan bahwa keunggulan kompetitif masa depan tidak hanya bergantung pada kepemilikan teknologi AI, tetapi pada kemampuan menggabungkan AI dengan teknologi lain seperti cloud computing, Internet of Things (IoT), analitik data, dan sistem operasional perusahaan. Fenomena ini dikenal sebagai technology convergence atau konvergensi teknologi.

Contohnya terlihat pada industri layanan teknologi informasi dan komunikasi serta telekomunikasi digital. Seperti PT Telkom dengan dividen yang dicapai pada 2026 menyentuh 22 persen, terdiri dari 11,46 persen untuk pemerintah dan 10,54 pemegang saham. 

Angka itu naik dari capaian 2025, di mana dividen menyentuh 21,05 persen. Angka itu terdiri dari 10,96 untuk pemerintah dan 10,08 untuk pemegang saham.

Baca Juga :
Airlangga Sebut Data Center Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Mengenal Perubahan Teknologi Boeing 737-8
Platform Media dan Ruang Digital Tuntut Gaya Responsif-Humanis dari Jubir Pemerintah

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wanita ASN yang Tewas di Mobil Pelat Merah di Bandara Juanda 4 Hari Tak Ngantor
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Di Balik Perang Iran, Komoditas "Renyah" Ini Mendadak Panen Cuan
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Rocky Gerung: Gibran Dipermainkan, Mahasiswa Jadi Korban Amplop Rp20 Juta
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Viral Pria Diduga Dilecehkan Pria di Angkot Jaktim, Polisi Selidiki
• 9 jam laluokezone.com
thumb
Indonesia Paparkan Tiga Pilar Strategis Penguatan Perbatasan pada Forum DGICM 2026
• 9 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.