Lifting Minyak Kehilangan Momentum

bisnis.com
11 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia sepanjang semester I/2026 menghadapi tantangan berat. 

Investasi memang mulai menunjukkan tren pemulihan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, realisasi produksi minyak nasional masih di bawah target APBN 2026. Hal itu tak lepas dari gangguan operasional di sejumlah lapangan utama serta persoalan struktural yang telah berlangsung selama lebih dari 1 dekade.

Data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) menunjukkan realisasi produksi minyak nasional baru mencapai 576.200 barel per hari (bph) hingga 31 Mei 2026. Angka tersebut masih terpaut sekitar 33.800 bph dari target produksi minyak dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar 610.000 bph.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan capaian tersebut terdiri atas produksi minyak mentah sebesar 491.300 bph, kondensat 55.800 bph, dan natural gas liquids (NGL) sebesar 29.100 bph.

Menurut Djoko, pencapaian produksi pada awal tahun sempat tertekan akibat insiden kebocoran pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) di jalur Grissik–Duri, Riau. Gangguan tersebut berdampak pada operasi tujuh kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di wilayah Terminal Dumai serta dua pemasok gas.

"Setelah teratasi kembali naik. Namun demikian, setelah itu ada masalah kelistrikan di PHR [Pertamina Hulu Rokan] dan penurunan produksi di Banyu Urip, di mana dua blok migas ini penopang terbesar produksi nasional kita," kata Djoko beberapa waktu lalu.

Baca Juga

  • SKK Migas Setujui POD Lapangan Ronggolawe, Target Onstream Akhir 2029
  • Taruhan Besar di Balik Aturan Baru Impor Migas Prabowo
  • Investor Migas Butuh Kepastian Regulasi dan Arah Kebijakan Ekonomi

Berbeda dengan minyak, kinerja gas bumi menunjukkan perkembangan yang lebih positif. SKK Migas mencatat realisasi produksi gas bumi mencapai 6.550 juta kaki kubik per hari (MMscfd) hingga akhir Mei 2026. Sementara itu, realisasi penyaluran gas mencapai 5.207 MMscfd.

Meski masih di bawah target APBN 2026 yang masing-masing sebesar 6.787 MMscfd untuk produksi dan 5.400 MMscfd untuk salur gas, tingkat pencapaiannya sudah mendekati 95% dari target.

Kinerja gas yang relatif lebih baik tidak terlepas dari dominasi temuan-temuan migas baru yang sebagian besar berupa gas dibandingkan minyak.

Namun demikian, kondisi tersebut juga mencerminkan tantangan yang lebih besar pada subsektor minyak, terutama terkait minimnya penemuan cadangan baru dalam 1 dekade terakhir.

Hilang Momentum

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) Elan Biantoro menilai sebenarnya sektor hulu migas memasuki 2026 dengan optimisme yang cukup tinggi. Pasalnya, pada tahun sebelumnya lifting minyak berhasil melampaui target APBN sebesar 605.000 bph, mengakhiri tren penurunan produksi yang berlangsung bertahun-tahun.

"Momentum tahun lalu sudah bagus. Setelah lebih dari 10 tahun umumnya mengalami decline, kita berhasil mencatat kenaikan produksi atau lifting di atas target APBN," kata Elan kepada Bisnis, Selasa (23/6/2026).

Atas dasar capaian tersebut, pemerintah kemudian menaikkan target lifting minyak tahun ini menjadi 610.000 bph. Namun, berbagai gangguan operasional yang muncul sejak awal tahun membuat tren kenaikan tersebut terganggu.

Elan menyoroti gangguan pipa TGI dan masalah pembangkit listrik yang memasok kebutuhan operasional PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) sebagai faktor utama yang menghambat produksi nasional.

Menurutnya, dampak gangguan tersebut sangat signifikan mengingat PHR dan Blok Cepu merupakan dua tulang punggung produksi minyak nasional.

"Dua [lapangan] itu saja kalau dijumlahkan dalam kondisi optimal itu bisa 320.000 barel lebih ya kan," ucap Elan.

Memasuki paruh kedua tahun ini, tantangan utama pemerintah dan KKKS adalah menutup selisih produksi terhadap target APBN.

Elan menilai seluruh program peningkatan produksi yang telah direncanakan dalam work program and budget (WP&B) harus dijalankan secara maksimal, mulai dari workover, well service hingga pengeboran sumur baru.

Menurutnya, salah satu persoalan terbesar dalam industri hulu migas adalah keterlambatan proyek yang menyebabkan hilangnya potensi produksi.

"Kalau pengeboran yang direncanakan Juni mundur menjadi Agustus karena rig tidak tersedia, itu sudah menjadi kerugian. Ada produksi yang seharusnya bisa masuk lebih awal tetapi hilang karena keterlambatan," katanya.

Oleh karena itu, percepatan pengadaan barang dan jasa, penyederhanaan perizinan, serta percepatan proses persetujuan teknis menjadi faktor krusial untuk mengejar target produksi pada semester II/2026.

Di sisi lain, sejumlah program yang selama ini diharapkan menjadi sumber tambahan produksi juga belum menunjukkan hasil signifikan. Implementasi enhanced oil recovery (EOR) yang telah didorong lebih dari satu dekade misalnya, dinilai belum memberikan tambahan produksi yang berarti. Sementara itu, pengembangan migas nonkonvensional (MNK) masih berada pada tahap awal menuju keekonomian proyek.

Investasi Naik, Produksi Belum Mengikuti

Ironisnya, perlambatan produksi terjadi ketika investasi hulu migas justru mulai menunjukkan tren meningkat. Berdasarkan Statistik Migas 2025 Kementerian ESDM, investasi hulu migas Indonesia sempat mencapai sekitar US$15 miliar pada 2014-2015 sebelum turun hingga kisaran US$10,5 miliar pada masa pandemi 2020. 

Setelah itu, investasi kembali meningkat secara bertahap menjadi US$14 miliar pada 2024 dan diperkirakan mencapai US$16,5 miliar-US$16,9 miliar pada 2025, level tertinggi dalam 1 dekade terakhir. Namun, kenaikan investasi tersebut belum mampu membalikkan tren penurunan produksi minyak secara signifikan.

Data ESDM menunjukkan produksi minyak nasional telah turun dari 824.000 bph pada 2010 menjadi hanya sekitar 605.000 bph pada 2025. Sebaliknya, produksi gas turun lebih moderat dari 8.857 MMscfd menjadi 6.820 MMscfd pada periode yang sama.

Praktisi migas sekaligus mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo mengatakan, persoalan mendasar industri migas nasional terletak pada struktur lapangan yang semakin tua atau mature.

Menurutnya, sebagian besar lapangan migas nasional saat ini menghadapi tingkat penurunan produksi alami yang tinggi akibat meningkatnya gas-oil ratio (GOR) dan water cut.

"Sehingga decline rate sangat tinggi sekitar 15% hingga 20%. Sementara kegiatan infill well wellwork, pengembangan lapangan baru, in total belum mampu mengimbangi penurunan produksi," ujar Hadi kepada Bisnis, Selasa (23/6/2026).

Hadi menilai, target produksi minyak sebesar 610.000 bph tahun ini akan sulit dicapai apabila tidak ada tambahan produksi yang signifikan dari lapangan-lapangan utama. Dia berpendapat, akar masalah saat ini sebenarnya berasal dari minimnya aktivitas eksplorasi dalam 5 hingga 10 tahun terakhir.

"Penemuan baru sebagian besar gas. Tidak ada penemuan minyak yang signifikan. Produksi yang menurun sekarang merupakan konsekuensi dari eksplorasi yang lambat pada masa lalu," katanya.

Dia mencatat investasi sektor hulu selama satu dekade terakhir cenderung stagnan di kisaran US$10 miliar hingga US$16 miliar per tahun. Dari jumlah tersebut, porsi anggaran eksplorasi hanya sekitar 10%.

"Tanpa eksplorasi yang masif, kita tidak akan mampu mempertahankan produksi dalam jangka panjang," ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Unpatti Gandeng Perusahaan Teknologi AS untuk Kembangkan AI di Bidang Pendidikan dan Riset
• 6 jam lalupantau.com
thumb
Kemarin, CATL kembangkan baterai tipis hingga Honda Vario Evo 160
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
bank bjb Gandeng Whuush Ojol, KADIN Jabar, dan MUJ untuk Akselerasi Ekonomi Jawa Barat
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
YATS Colony Yogyakarta Jadi Panggung Fashion Berbasis Lukisan
• 12 jam laluherstory.co.id
thumb
Penderita TBC Diusulkan Dapat MBG, Legislator PDIP: Mudah-mudahan Pak Menkes Hanya Bercanda
• 23 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.