Gajah Indra Mati di Way Kambas, Populasi Gajah Sumatera Tinggal 160-180 Ekor

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Seekor gajah jinak berusia 42 tahun yang dirawat di Pusat Latihan Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, Lampung, mati pada Senin (22/6/2026). Gajah jantan bernama Indra itu sempat mendapat perawatan setelah jatuh sakit dan ambruk seusai mandi di rawa.

Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas MHD Zaidi mengatakan, kondisi kesehatan gajah itu mulai menurun pada Minggu (21/6/2026). Saat itu, Gajah Indra menjalani aktivitas rutin bersama mahout. Gajah tersebut kemudian digiring ke area rawa untuk mandi seperti hari-hari biasanya.

Namun, saat hendak diarahkan kembali menuju kandang, Gajah Indra tiba-tiba ambruk di lereng rawa dan tidak mampu berdiri. Mahout yang mengurus gajah itu segera melakukan upaya darurat untuk menyelamatkannya. Tim penyelamat berupaya membangunkan tubuh Gajah Indra dengan bantuan gajah jinak lainnya.

Gajah Indra sempat berhasil diposisikan duduk selama beberapa menit. Namun, kondisi fisik yang sangat lemah membuat gajah itu kembali rebah di rawa. Tim kemudian memanggil dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan di lokasi. Kondisi fisik yang lemah serta medan yang berat membuat satwa dilindungi itu tidak mungkin lagi dievakuasi ke rumah sakit gajah di TNWK.

“Setelah berjuang keras selama lebih dari 20 jam untuk mempertahankan kondisi vitalnya, Gajah Indra akhirnya dinyatakan mati pada Senin, 22 Juni 2026 pukul 11.06 WIB,” kata Zaidi dalam keterangan resmi pada Kamis (25/6/2026) malam.

Menurut dia, tim medis melakukan tindakan nekropsi untuk memastikan penyebab kematian gajah jinak tersebut. Tindakan nekropsi merupakan bagian dari standar operasional prosedur (SOP) medis dan pemenuhan akuntabilitas ilmiah. Proses bedah bangkai ini dipimpin oleh Diah Esty Nggraeni selaku dokter hewan di TNWK dengan melibatkan satu dokter hewan lain dan lima tenaga kesehatan hewan dari Rumah Sakit Gajah.

Tindakan nekropsi juga disaksikan langsung oleh berbagai instansi terkait, antara lain Polres Lampung Timur, Kodim 0429/Lampung Timur, serta Polisi Kehutanan TNWK. Setelah seluruh rangkaian pemeriksaan selesai, jenazah Gajah Indra langsung dimakamkan di lokasi khusus dalam kawasan TNWK.

“Sejumlah sampel organ telah diambil untuk analisis laboratorium lebih lanjut guna mendapatkan data komprehensif mengenai faktor klinis penyebab kematian,” kata Zaidi.

Baca JugaKelahiran Gajah Sumatera di Lembah Hijau Lampung Perkuat Keberhasilan Konservasi Eksitu

Zaidi mengatakan, kematian Gajah Indra merupakan kehilangan besar bagi dunia konservasi, khususnya di TNWK. Gajah tersebut telah dirawat di TNWK sejak tahun 1995. Gajah Indra dikenal memiliki karakter yang kuat, tangguh, dan berani.

Selama ini, Gajah Indra telah banyak terlibat dalam berbagai operasi krusial di lapangan, mulai dari evakuasi gajah liar, patroli perlindungan kawasan, hingga mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar di berbagai wilayah Lampung. Dedikasi itu membuatnya sangat dihormati oleh para mahout, dokter hewan, perawat satwa, serta pegiat konservasi.

“Gajah Indra bukan hanya satwa binaan, tetapi bagian dari sejarah panjang konservasi gajah sumatera di Way Kambas. Dedikasinya dalam berbagai kegiatan lapangan dan penanganan konflik satwa liar telah memberikan kontribusi nyata. Kami menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya atas pengabdian Gajah Indra selama hidupnya,” kata Zaidi, menegaskan peran penting Gajah Indra bagi upaya konservasi dan penanganan konflik satwa di TNWK.

Kecelakaan

Dia menambahkan, Gajah Indra pernah terlibat dalam penanganan konflik satwa di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) pada 2017. Mirisnya, seusai membantu penanganan konflik, kendaraan yang mengangkut Gajah Indra mengalami kecelakaan lalu lintas di Jalan Lintas Barat Sumatera, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

Insiden itu mengakibatkan trauma fisik serius pada Gajah Indra. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan, Gajah Indra mengalami gangguan pada ruas tulang belakang atau suspect ruptur os vertebrae yang secara bertahap memengaruhi kemampuan gerak dan kesehatannya.

Sejak cedera tersebut, Gajah Indra dipensiunkan dari tugas lapangan. Tim dokter hewan dan perawat satwa TNWK memberikan perawatan intensif, terapi, serta pemantauan harian untuk menjaga kualitas hidupnya. Namun, kondisi fisiknya terus menurun seiring bertambahnya usia..

Berdasarkan catatan Kompas, selama periode 2023–2026 terjadi rentetan kasus kematian gajah di TNWK. Kematian gajah jinak maupun gajah liar di kawasan itu sebagian besar disebabkan oleh penyakit.

Pada 16 November 2025, seekor gajah jinak bernama Dona yang dirawat di kamp Elephant Response Unit (ERU) Bungur, TNWK, juga mati. Gajah betina berusia 45 tahun itu sempat dirawat selama sepuluh hari setelah didiagnosis mengalami infeksi parasit.

Gajah tersebut pertama kali diketahui sakit saat tim medis memeriksanya pada Kamis (6/11/2025). Saat itu, tim medis mendapati kondisi Dona kurang sehat. Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel darah menunjukkan kadar sel darah putih (eosinofil) pada tubuh gajah itu lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Temuan tersebut mengindikasikan adanya infeksi parasit. Gajah jinak itu kemudian dirawat dengan pemberian infus dan pemantauan intensif.

Akan tetapi, kondisi kesehatannya terus menurun. Gajah itu menunjukkan gejala tidak mau makan selama beberapa hari. Tim medis memasang infus untuk menunjang kebutuhan cairannya. Dona akhirnya dinyatakan mati pada Minggu (16/11/2025) sekitar pukul 13.00 WIB dengan kondisi lidah pucat. (Kompas.id, 17/11/2025)

Baca JugaGajah Jantan Lahir di Way Kambas, Kabar Gembira bagi Konservasi Satwa
Rentetan kematian

Sepanjang 2024, terdapat empat ekor gajah yang ditemukan mati di TNWK. Rentetan kematian tersebut menjadi pukulan besar bagi upaya peningkatan populasi satwa kunci itu.

Gajah jinak bernama Bunga yang berusia 40 tahun mati pada 29 Agustus 2024 di Pusat Latihan Gajah. Dari hasil pemeriksaan, gajah itu diketahui mati akibat suspek hepatitis dan fibroma (tumor jaringan ikat).

Sementara itu, pada 31 Agustus 2024, seekor gajah liar yang diperkirakan berusia 10–15 tahun ditemukan mati di Resort Susukan Baru, Seksi PTN Wilayah I Way Kanan. Namun, penyebab kematiannya tidak dapat diidentifikasi karena saat ditemukan jaringan tubuhnya sudah rusak dan membusuk.

Selanjutnya, pada 6 Oktober 2024, seekor gajah liar juga ditemukan mati di Resort Toto Projo, Seksi PTN Wilayah II Bungur, TNWK. Hasil pemeriksaan menunjukkan organ tubuh gajah tersebut, seperti hati, lambung, limpa, paru-paru, jantung, dan usus halus, mengalami autolisis atau proses penghancuran sel oleh enzim.

Pada 1 Desember 2024, seekor gajah jantan bernama Rubado yang berusia 5 tahun 9 bulan juga ditemukan mati di Elephant Response Unit (ERU) Braja Harjosari, TNWK. Gajah jinak tersebut ditemukan mati mendadak saat sedang digembalakan di alam liar.

Saat ini, populasi gajah liar di TNWK diperkirakan terus berkurang. Berdasarkan hasil survei terakhir yang dilakukan Wildlife Conservation Society (WCS) pada 2010, populasi gajah liar di TNWK diperkirakan mencapai 247 ekor. Adapun pada 2024 jumlahnya diperkirakan menyusut menjadi sekitar 160–180 ekor.

TNWK menjadi benteng penting dalam upaya penyelamatan populasi gajah sumatera. Dalam beberapa tahun terakhir, populasi gajah sumatera di kawasan itu sebenarnya terus bertambah melalui kelahiran individu-individu baru.

Berdasarkan data Balai TNWK, selama periode 2020 hingga Agustus 2025 terdapat enam ekor gajah yang lahir di kawasan tersebut. Tiga ekor lahir di Pusat Latihan Gajah, sedangkan tiga lainnya lahir di Elephant Response Unit. Namun, kelahiran individu baru itu masih berkejaran dengan laju kematian satwa bertubuh besar tersebut.

Selain konservasi di alam, upaya pelestarian dan peningkatan populasi gajah juga dilakukan secara eks situ di Lembaga Konservasi Lembah Hijau, Bandar Lampung. Pada Jumat (5/6/2026), seekor bayi gajah lahir di Taman Satwa Lembah Hijau.

Anak gajah betina itu lahir dari pasangan gajah induk bernama Mega (27) dan Aris (29). Kedua gajah tersebut merupakan gajah jinak dari Taman Nasional Way Kambas yang dipindahkan ke Taman Satwa Lembah Hijau sebagai bagian dari upaya konservasi eks situ.

Kelahiran itu merupakan yang kedua di Lembah Hijau. Sebelumnya, Mega juga melahirkan seekor anak gajah jantan pada 7 Agustus 2022. Anak gajah yang diberi nama Rawana itu tumbuh sehat dan kini akan menginjak usia empat tahun.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, saat berkunjung ke Lembah Hijau pada Jumat (22/5/2026), menyampaikan apresiasi atas keberhasilan upaya konservasi yang dilakukan lembaga tersebut. Selain gajah, lembaga konservasi itu juga berhasil meningkatkan populasi berbagai jenis satwa, antara lain harimau, beruang madu, dan burung.

Kematian Gajah Indra menambah catatan duka atas kepergian gajah-gajah patroli penjaga hutan Way Kambas. Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa upaya peningkatan populasi gajah terus berpacu dengan tingginya angka kematian satwa tersebut.

Baca JugaKelahiran Gajah di Way Kambas Berpacu dengan Jerat Pemburu


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Pangan Hari Ini 25 Juni: Harga Cabai dan Bawang Merah Terus Turun, Beras Relatif Stabil
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Warna Dompet Penarik Rezeki Menurut Feng Shui
• 1 jam lalubeautynesia.id
thumb
Markas Penipuan Baru Muncul di Dekat RI Setelah Kamboja Tumbang
• 8 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pertumbuhan Ekonomi dan Militerisasi Pembangunan
• 5 jam lalukatadata.co.id
thumb
Sofi dan Harapan yang Tumbuh di Sekolah Rakyat
• 6 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.