Washington: Gedung Putih mengajukan permintaan kepada Kongres untuk menyetujui anggaran tambahan sebesar USD87,6 miliar atau sekitar Rp1,573 triliun, yang sebagian besar akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak terkait perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran.
Permintaan tersebut diajukan sehari setelah Kongres meloloskan resolusi yang menegur aksi militer pemerintah AS terhadap Iran.
Dalam surat resmi yang dikirim Kantor Manajemen dan Anggaran Gedung Putih kepada Ketua DPR AS Mike Johnson pada Rabu, 24 Juni 2026, disebutkan bahwa sekitar USD67 miliar dialokasikan untuk Departemen Pertahanan.
Dari jumlah tersebut, USD21 miliar akan digunakan untuk pengadaan amunisi, USD17,3 miliar untuk biaya operasional, serta USD12,1 miliar bagi program-program rahasia.
Sisa anggaran dialokasikan untuk sejumlah kebutuhan lain, termasuk USD11 miliar bagi petani Amerika Serikat dan USD1,4 miliar untuk membantu penanganan wabah Ebola di Afrika Tengah.
"Sebagian besar permintaan ini akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak yang berkaitan dengan Operation Epic Fury," demikian isi surat tersebut, dikutip dari BBC, Kamis, 25 Juni 2026.
Selain itu, sekitar USD300 juta juga diminta untuk memperkuat keamanan kedutaan besar dan fasilitas diplomatik AS di Timur Tengah serta Asia Selatan setelah beberapa di antaranya menjadi sasaran serangan selama konflik. Hadapi Tantangan di Kongres Meski gencatan senjata antara Washington dan Teheran masih berlangsung, Gedung Putih menilai Pentagon perlu mengisi kembali persediaan persenjataan yang digunakan selama operasi militer.
Namun, usulan anggaran tersebut diperkirakan menghadapi tantangan di Kongres karena perang Iran tidak mendapat dukungan luas dari publik, sementara pemilu sela Amerika Serikat akan digelar pada November mendatang.
Sejumlah anggota Partai Republik juga mulai mempertanyakan rencana perdamaian yang disepakati Presiden Donald Trump dengan Iran pekan lalu.
Pada Rabu, Trump menggelar pertemuan tertutup dengan senator dari Partai Republik setelah membatalkan secara mendadak acara penandatanganan rancangan undang-undang bipartisan mengenai perumahan.
Dalam pertemuan tersebut, Trump meluapkan kekesalannya terhadap resolusi Senat yang membatasi kewenangan presiden dalam melanjutkan operasi militer.
Sebelumnya, Trump menyebut pemungutan suara terkait kewenangan perang itu sebagai langkah yang "tidak tepat waktu dan tidak berarti."
Salah satu senator Partai Republik yang mendukung resolusi tersebut, Bill Cassidy, mengaku sempat terlibat adu argumen dengan Trump.
"Saya berdiri dan mengatakan, 'Anda belum memberi tahu rakyat Amerika apa yang sebenarnya terjadi. Ini seharusnya berlangsung empat pekan, tetapi kini sudah berjalan empat bulan. Tujuan awal kita juga belum tercapai,'" ujar Cassidy kepada wartawan.
Sementara itu, Kepala Keuangan Pentagon, Jules Hurst, bulan lalu memperkirakan perang Iran telah menghabiskan biaya sekitar USD29 miliar. Namun, sejumlah analis pertahanan dan anggota Kongres menilai angka tersebut belum mencerminkan keseluruhan biaya konflik.




