"Stres Banget, Biaya Hidup Sultan Apa-apa Mahal, tapi Gaji di Bawah UMR"

kompas.com
6 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketika matahari belum sepenuhnya terbit, deretan kereta, bus, dan jalanan Jakarta sudah kembali dipenuhi orang-orang yang berjuang mencari nafkah untuk keluarga.

Di balik ritme kota yang tak pernah berhenti, banyak warga memikul beban tak kasat mata seorang diri.

Harga kebutuhan pokok yang terus melonjak, mahalnya biaya sewa rumah dan transportasi, hingga tuntutan memenuhi kebutuhan keluarga menjadi tekanan yang menggerus tenaga dan pikiran setiap hari.

Baca juga: Macet hingga Tekanan Ekonomi Picu Masalah Kesehatan Mental di Jakarta

Bagi sebagian besar warga Jakarta, stres bukan semata dipicu peristiwa besar, melainkan akumulasi tekanan ekonomi yang harus dihadapi setiap hari demi bertahan hidup di kota yang keras.

Tekanan Ekonomi Jadi Sumber Stres

Salah satu warga Jakarta Selatan, Anitia Arlatasya (25), mengaku tekanan ekonomi menjadi pemicu utama stres yang sering ia alami.

"Stres banget, biaya hidup sultan apa-apa mahal, tapi gaji di bawah UMR," ucap dia saat ditemui Kompas.com di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (24/6/2026).

Bekerja di sebuah restoran, ibu satu anak itu hanya menerima gaji sekitar Rp 2,5 juta per bulan. Sementara pengeluarannya untuk sewa rumah, makan, dan susu anak mencapai sekitar Rp 3 juta.

Penghasilan suaminya pun masih di bawah Rp 5 juta, jauh dari Upah Minimum Regional (UMR) Jakarta yang mencapai Rp 5,7 juta.

Kondisi ini memaksa mereka terus memutar otak agar kebutuhan hidup tetap terpenuhi setiap bulan.

Baca juga: Menjaga Harga Transportasi Publik Jakarta di Tengah Tekanan Ekonomi

Tak jarang, tekanan tersebut berdampak pada kondisi mentalnya.

"Sesekali terkadang putus asa, tapi ingat anak," sambung dia.

Keluhan serupa disampaikan warga Jakarta Utara, Syamsudin Ilyas (42).

Ia menyebut tekanan ekonomi sebagai sumber stres terbesar, terutama akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar.

"Persaingan pekerjaan juga, kemudian biaya ekonomi, apalagi sekarang harganya melambung tinggi, terutama ketika harga bensin naik drastis, seperti Pertamax," kata dia saat ditemui Kompas.com, Senin.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ilyas mengaku harus mengeluarkan sekitar Rp 150.000 per hari untuk kebutuhan makan keluarga jika memasak sendiri.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Moskow Dalam Tekanan! Ukraina Hancurkan Aset Vital Rusia dan Guncang PBB
• 6 jam laluerabaru.net
thumb
Curhatan Betrand Peto Jadi Sorotan, Praktisi Hukum Soroti Rencana Ruben Onsu Gugat Hak Asuh Anak
• 4 jam lalugrid.id
thumb
Goes To Campus, BPJS Cabang Bulukumba Gandeng HPMT Komisariat INTI Gelar Sosialisasi JKN
• 10 jam laluterkini.id
thumb
Hikmahanto Ingatkan Perjanjian Damai Iran-AS Baru Tahap Awal, Indonesia Harus Ikut Mengawal
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Dokter Tifa Batalkan Praperadilan Soal Penangkapan di PN Jaksel
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.