Ringkasan Berita
- Batu Cinta di Ngancar menjadi destinasi wisata alam yang viral di media sosial.
- Hutan ini dijuluki “Djawatan Kediri” karena lanskapnya menyerupai Djawatan Banyuwangi.
- Pengunjung datang untuk berburu foto, menikmati udara sejuk, hingga berkemah.
- Lokasinya berada di kawasan HGU Sumberlumbu yang dikelola PT SGN KSO Kebun Dhoho.
Kediri (beritajatim.com) – Di balik hamparan perkebunan tebu di Desa Margourip, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, tersembunyi kawasan hutan rindang yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.
Warga mengenalnya sebagai Batu Cinta, sementara banyak warganet menjulukinya “Djawatan Kediri” karena suasananya dinilai menyerupai kawasan hutan wisata Djawatan di Banyuwangi.
Berada di kawasan Hak Guna Usaha (HGU) Sumberlumbu yang dikelola PT SGN KSO Kebun Dhoho, lokasi ini dipenuhi pepohonan trembesi dan mahoni berukuran besar. Kanopi pepohonan yang saling bertaut membentuk lorong-lorong alami sehingga menghadirkan suasana teduh, sejuk, dan menjadi daya tarik bagi pencinta wisata alam.
Lokasinya juga tidak jauh dari kawasan Sumberlumbu atau yang dikenal masyarakat sebagai Sumber 2028. Kedekatan tersebut membuat Batu Cinta menjadi salah satu tujuan alternatif bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana alam tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Salah satu pengunjung, Dina (20), warga Pare, mengaku sengaja datang setelah melihat banyak unggahan mengenai Batu Cinta di media sosial.
“Taunya dari TikTok kak, ngide kesini karena penasaran parah,” ujarnya.
Menurutnya, keindahan kawasan tersebut sesuai dengan ekspektasi yang ia bangun setelah melihat berbagai video di internet. Deretan pohon-pohon besar menciptakan latar alami yang menarik untuk fotografi maupun pembuatan konten video.
“Tempatnya bagus buat yg suka mengabadikan momen lewat foto/video. Hawane yaa sejuk udara masih asri,” katanya.
Bagi warga sekitar, popularitas Batu Cinta bukanlah hal baru. Tun, atau yang akrab disapa Mak Tun, mengatakan kawasan itu telah lama menjadi tempat favorit masyarakat untuk bersantai menikmati suasana alam.
“Sudah lama ramai. Orang sini menyebutnya Batu Cinta, karena banyak batu-batu besar, trus banyak muda-mudanya,” katanya.
Menurut Mak Tun, sebagian besar pengunjung datang pada sore hari untuk menikmati udara yang lebih teduh di bawah rindangnya pepohonan. Namun tidak sedikit pula yang memilih berkunjung sejak pagi ketika udara masih segar.
Selain menjadi tempat rekreasi, Batu Cinta juga kerap dimanfaatkan sebagai lokasi berkemah, kegiatan komunitas, hingga sesi foto pranikah. Lanskap alami dengan pepohonan besar yang menjulang tinggi menjadi daya tarik tersendiri bagi para pencinta fotografi.
“Sering yang camping disitu tapi akhir-akhir ini jarang. Kalau mau camping ijin dulu ke pabriknya. Kapan hari orang Sambi juga foto prewed disitu,” imbuh Mak Tun.
Keasrian alam yang masih terjaga membuat Batu Cinta menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan destinasi wisata buatan. Suasana hening, udara yang sejuk, serta lorong pepohonan yang membentuk panorama alami menjadi alasan banyak pengunjung datang untuk melepas penat sekaligus mengabadikan momen.
Di balik aktivitas perkebunan tebu yang mengelilinginya, Batu Cinta membuktikan bahwa Kabupaten Kediri masih menyimpan ruang hijau yang memikat. Julukan “Djawatan Kediri” yang disematkan warganet pun semakin memperkenalkan kawasan ini sebagai salah satu destinasi wisata alam yang layak dikunjungi bagi pencinta fotografi maupun penikmat suasana hutan yang tenang. [nm/beq]




