Kelangkaan Biosolar di Jawa Timur Picu Antrean Panjang di SPBU

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

SURABAYA, KOMPAS — Kalangan sopir truk mengeluhkan antrean berjam-jam untuk membeli solar bersubsidi atau Biosolar di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jawa Timur, Kamis (25/6/2026).

Para sopir memilih membeli Biosolar karena harganya jauh lebih murah dibandingkan solar nonsubsidi. Biosolar dijual Rp 6.800 per liter, sedangkan Dexlite Rp 23.000 per liter dan Pertamina Dex Rp 24.800 per liter.

“Saya sudah dua hari keliling mencari Biosolar, baru dapat tadi di Aloha, Sidoarjo,” ujar Martono, sopir truk kontainer yang ditemui di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (25/6/2026) petang.

Sugianto, warga Surabaya yang menggunakan mobil pribadi berbahan bakar solar, mengaku mengalami kesulitan serupa sejak Rabu (24/6/2026). “Saya kebetulan kemarin ke arah Sidoarjo dan akhirnya bisa membeli di rest area (area rehat) Kilometer 754A Tol Surabaya-Gempol,” ujarnya.

Menurut sejumlah sopir, antrean untuk mendapatkan Biosolar terjadi di hampir seluruh wilayah Jawa Timur dalam dua hari terakhir. Mereka harus berpindah-pindah dari satu SPBU ke SPBU lainnya. Jika menemukan SPBU yang masih memiliki stok Biosolar, mereka tetap harus mengantre setidaknya satu hingga dua jam.

Baca JugaAntre Sehari Semalam demi Biosolar hingga Bengkak Biaya Operasional
Baca JugaKonsumsi Solar Subsidi Naik 15 Persen di Jawa Timur

“Tidak mungkin, Mas, pakai solar nonsubsidi karena ongkos perjalanan yang ditanggung hanya cukup untuk Biosolar,” kata Martono yang beroperasi dari dan menuju Pelabuhan Tanjung Perak.

PT Pertamina (Persero) juga membatasi konsumsi harian Biosolar. Untuk mobil pribadi, kuotanya 50-60 liter per hari. Mobil penumpang umum maksimal 80 liter per hari. Adapun kendaraan umum angkutan orang dan barang roda enam atau lebih, seperti bus dan truk, dibatasi maksimal 200 liter per hari.

Menurut Martono, potensi kelangkaan Biosolar mulai terasa dalam sepekan terakhir. Kondisi itu bertepatan dengan pemadaman listrik bergilir yang mulai terjadi di Jawa Timur sejak Rabu (17/6/2026).

“Sejak Kamis minggu lalu, mulai harus keliling ke beberapa SPBU kalau mau isi Biosolar,” kata Martono.

Secara terpisah, Kepala Unit 2 Satuan Patroli Jalan Raya (PJR) Polda Jawa Timur Ajun Komisaris Mulyani mengatakan, pihaknya mengerahkan personel untuk menangani dampak antrean kendaraan pembeli Biosolar di SPBU Rest Area 753B dan 754A Jalan Tol Surabaya-Gempol.

Menurut Mulyani, lalu lintas kendaraan di dalam area rehat bukan menjadi kewenangan Satuan PJR. Namun, antrean yang meluas hingga keluar area rehat berdampak pada kelancaran arus lalu lintas dan keselamatan pengguna jalan tol.

“Kami berkoordinasi dengan pengelola rest area untuk segera menginformasikan apabila terjadi kepadatan kendaraan,” kata Mulyani.

Dengan demikian, petugas dapat segera diterjunkan ke lokasi untuk mengatur arus kendaraan demi menjaga kelancaran lalu lintas dan keselamatan seluruh pengguna jalan tol.

Baca JugaAntrean Biosolar Mengular di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo
Baca JugaProgram Biosolar B35 Dimulai Februari, Serapan Minyak Sawit Meningkat

Sementara itu, Area Manager Communication, Relations, and Corporate Social Responsibility Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, Ahad Rahedi, mengatakan antrean kendaraan untuk membeli Biosolar umumnya terjadi pada awal pekan, yakni Senin hingga Rabu.

“Secara alamiah, konsumsi Biosolar memang meningkat pada awal pekan karena mobilitas masyarakat untuk bekerja serta aktivitas distribusi barang dan jasa juga meningkat,” ujarnya.

Di Jawa Timur, konsumsi harian Biosolar mencapai 7.000-7.500 kiloliter (KL) atau sekitar 7-7,5 juta liter. Untuk mengurangi potensi antrean pada hari-hari mendatang, Patra Niaga mengerahkan tambahan mobil tangki untuk memasok Biosolar ke SPBU dengan tingkat penyerapan tinggi. Lokasinya antara lain di sekitar pelabuhan, bandara, terminal, pintu masuk jalan tol, area rehat jalan tol, serta jalur nasional antarkota dan antarprovinsi.

“Di Surabaya Raya (Surabaya-Sidoarjo-Gresik), kami menyiapkan tambahan 12 mobil tangki untuk distribusi Biosolar,” ujar Ahad.

Mobil tangki tambahan tersebut beroperasi pada pukul 22.00-12.00 WIB untuk memperkuat distribusi ke jaringan SPBU dan menekan potensi antrean.

Patra Niaga juga berkoordinasi dengan berbagai asosiasi usaha untuk mengetahui apakah terdapat lonjakan konsumsi Biosolar yang dipicu faktor lain. Misalnya, peningkatan permintaan barang dan jasa dari dan menuju pelabuhan yang berdampak pada naiknya konsumsi Biosolar.

Selain itu, Pertamina juga mengkaji kemungkinan adanya korelasi antara pemadaman listrik yang terjadi sepekan terakhir dengan meningkatnya kebutuhan Biosolar untuk generator set (genset). “Fokus kami adalah memastikan kebutuhan Biosolar masyarakat terpenuhi dengan baik,” kata Ahad.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mengenal Istilah Rekonstruksi Wajah di Kasus Penyekapan Wanita di Bandung Selama 3 Tahun
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Oknum Anggota Bidang IT Polda NTB Jadi Tersangka Kasus Asusila
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kinerja Pertamina Moncer di 2025, Raup Pendapatan Rp1.167 Triliun
• 13 jam lalumedcom.id
thumb
3 Pengamen Diduga Bakar Pagar Rumah Warga di Bekasi, 1 Pelaku Ditangkap
• 6 jam laluokezone.com
thumb
Lalu Lintas Tol Jakarta Kamis Pagi: Cawang, Kuningan, hingga Tomang Padat
• 16 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.