Guru Besar UMJ: Benahi dan prioritaskan MBG untuk kelompok rentan

antaranews.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Prof Sri Yunanto menilai Makan Bergizi Gratis (MBG) relevan dengan pembangunan sumber daya manusia, sehingga perlu dibenahi agar kembali dipercayai publik.

Sri Yunanto di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa MBG tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan manusia yang lebih luas, termasuk layanan kesehatan gratis, perbaikan sekolah, pengembangan Sekolah Rakyat, hingga pembangunan sekolah unggulan seperti Sekolah Garuda.

Meski demikian, dia menyebut pelaksanaan MBG menghadapi tantangan serius, terutama terkait tata kelola. Berbagai isu yang beredar di masyarakat, mulai dari dugaan pemotongan anggaran, prosedur yang tidak standar, hingga kasus hukum yang menyeret pejabat di lingkungan Badan Gizi Nasional (BGN), dinilai berpotensi merusak tujuan besar program tersebut.

Baca juga: BGN: Tujuan utama MBG untuk beri asupan gizi ibu hamil hingga balita

“Pak Prabowo melihat persoalan gizi sebagai isu penting, karena berkaitan dengan kualitas generasi Indonesia pada 2030 dan 2045. Kita juga masih menghadapi masalah stunting, sehingga kebutuhan nutrisi menjadi sangat penting untuk menciptakan generasi yang produktif,” katanya.

Menurut dia, pemerintah perlu segera mengambil langkah tegas untuk membersihkan pelaksanaan program prioritas nasional dari praktik korupsi maupun penyimpangan lainnya agar ide yang baik tidak jadi rusak, karena implementasi yang tidak baik.

"Yang harus dibenahi sekarang adalah tata kelola dan pengawasannya,” ujarnya.

Penegakan hukum, kata dia, harus berjalan beriringan dengan pembenahan sistem pengelolaan agar masyarakat kembali percaya terhadap program tersebut. Dia menilai pemerintah perlu menempatkan figur yang kompeten dan memiliki integritas untuk memimpin pelaksanaan program, sehingga berbagai persoalan di lapangan dapat segera diatasi.

Penghentian total program bukan pilihan yang tepat. Namun, katanya, kondisi fiskal yang sedang menghadapi tekanan perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan sasaran penerima manfaat.

Menurut dia, pemerintah dapat mengambil jalan tengah dengan melakukan refocusing atau penajaman target penerima manfaat kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan, seperti masyarakat miskin, wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), ibu hamil, serta kelompok rentan lainnya.

Pendekatan tersebut dapat menjaga tujuan utama program sekaligus mengurangi beban anggaran negara di tengah keterbatasan fiskal. Selain perbaikan tata kelola dan penajaman sasaran, dia menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap dampak program MBG yang telah berjalan sejak 2024.

Menurut dia, pemerintah harus mampu menunjukkan secara terbuka apakah program tersebut benar-benar berhasil meningkatkan status gizi masyarakat, mengurangi stunting, menciptakan lapangan kerja, serta menggerakkan sektor UMKM.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah bukti. Apakah status gizi meningkat, apakah lapangan kerja bertambah, apakah UMKM berkembang. Semua itu harus diukur secara objektif,” katanya.

Baca juga: IDAI: Prioritaskan keselamatan kelompok rentan penerima manfaat MBG

Baca juga: MBG untuk ibu hamil guna pastikan kecukupan gizi kelompok rentan

Dia menyarankan evaluasi dilakukan oleh lembaga independen dengan melibatkan akademisi, ahli gizi, ekonom, dan berbagai pihak terkait agar hasilnya dapat dipercaya publik.

Hasil evaluasi tersebut, lanjut dia, perlu dipublikasikan secara transparan sebagai bentuk akuntabilitas pemerintah sekaligus menjawab berbagai kritik yang berkembang.

Dia mengapresiasi keputusan pemerintah menghentikan sementara distribusi MBG selama masa libur sekolah. Menurutnya, kebijakan tersebut menunjukkan pemerintah bersedia merespons kondisi fiskal dan berbagai masukan yang berkembang di masyarakat.

Selain itu, dia mendorong BGN untuk membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan perguruan tinggi dan para ahli untuk melakukan evaluasi serta pengawasan program secara berkala.

Menurut dia, pendekatan yang terbuka akan membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan penggunaan anggaran negara benar-benar menghasilkan manfaat yang terukur.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menegangkan! Pria di Bandar Lampung Panjat Tower 52 Meter, Mau Turun usai Dibujuk Istri
• 20 jam lalurctiplus.com
thumb
Pelatih Hornbills Yakin Rebut Kemenangan di Laga Keempat Final IBL
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dedi Mulyadi Sebut Pemprov Jabar Akan Beri Beasiswa kepada 80 Ribu Pelajar SMA/SMK Swasta
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Wamendagri Dorong Kepala Daerah Perkuat Identitas Lokal
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Megawati Hangestri dan Jordan Wilson Bakal Ubah Gaya Bermain Hyundai Hillstate? Media Korea Ini Beberkan Alasannya
• 5 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.