Jakarta: Strabismus atau yang akrab dikenal sebagai mata juling masih sering disalahpahami oleh sebagian besar masyarakat. Banyak yang menganggap kondisi ini hanya persoalan estetika atau dapat membaik dengan sendirinya seiring bertambahnya usia.
Padahal, strabismus merupakan kelainan medis ketika posisi kedua mata tidak sejajar. Jika tidak diperiksa dan ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat memengaruhi fungsi penglihatan, termasuk kemampuan melihat tiga dimensi, memperkirakan jarak, serta meningkatkan risiko ambliopia atau mata malas.
Menyadari hal tersebut, JEC Eye Hospitals & Clinics melalui kampanye "Strabismus : From Stigma to Confidence" gencar mengedukasi masyarakat mengenai kelainan mata juling. Kampanye ini dilakukan melalui berbagai kanal, mulai dari edukasi digital dan media sosial, seminar kesehatan mata, talkshow radio, podcast, publikasi media, hingga kegiatan offline seperti skrining mata dan program sosial operasi mata juling gratis.
JEC Eye Hospitals & Clinics meraih penghargaan Marketeers OMNI Brands of the Year 2026 untuk kategori Impactful Omnichannel Social Campaign atas kampanye ini pada Selasa, 23 Juni 2026.
Direktur Pengembangan & Pendidikan JEC Group Prof Tjahjono Gondhowiardjo menyampaikan kampanye ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini strabismus.
"Melalui kampanye strabismus ini, JEC Eye Hospitals & Clinics ingin mengajak orang tua dan masyarakat untuk memahami bahwa mata juling bukan sekadar persoalan estetika, melainkan kondisi medis yang perlu diperiksa. Semakin dini diketahui, semakin besar peluang anak mendapatkan tata laksana yang sesuai dan hasil yang lebih optimal," ujar Prof Tjahjono di Jakarta, Kamis, 25 Juni 2026.
Deteksi dini menjadi sangat penting. Pada bayi, mata yang tampak tidak sejajar dapat terjadi karena koordinasi saraf mata yang belum matang. Namun, apabila kondisi tersebut menetap setelah usia enam bulan, orang tua disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter mata.
Gejala strabismus juga tidak selalu tampak jelas sepanjang waktu. Pada beberapa kasus, mata juling dapat muncul sesekali, misalnya saat anak lelah, mengantuk, melamun, atau sedang kurang sehat. Ada pula strabismus yang tidak tampak dalam aktivitas sehari-hari dan baru dapat terdeteksi melalui pemeriksaan mata yang lebih teliti.
Di JEC Eye Hospitals & Clinics, tata laksana strabismus dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Pemeriksaan menyeluruh menjadi langkah awal untuk mengetahui penyebab mata juling.
Koreksi dengan kacamata dapat membantu memperbaiki fokus dan posisi mata. Pada kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan terapi patching, vision therapy, hingga tindakan bedah apabila diperlukan.
Kampanye edukasi ini menunjukkan hasil yang positif. Berdasarkan data, tindakan strabismus meningkat 29 persen pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini menjadi indikasi bahwa edukasi yang berkelanjutan dapat membuka kebutuhan masyarakat yang sebelumnya tersembunyi akibat minimnya pemahaman maupun stigma sosial.
"Bagi kami, edukasi kesehatan mata tidak hanya bertujuan menyampaikan informasi, tetapi juga membantu masyarakat mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kualitas penglihatan. Kami berharap kampanye ini dapat terus mendorong deteksi dini, mengurangi stigma, dan membantu lebih banyak pasien mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan medisnya," tambah Prof Tjahjono.




