Kedelai Amerika Serikat (AS) dan Brasil terus bersaing memikat China. Brasil mengandalkan kedekatan dengan China dalam BRICS, sedangkan AS mengikat China dengan komitmen dagang. Di tengah persaingan itu, Indonesia lagi-lagi memberikan subsidi kedelai impor bagi perajin tahu dan tempe.
Selama ini, China merupakan negara produsen sekaligus importir kedelai terbesar dunia. Pada tahun pemasaran 2025/2026 (1 September 2025-31 Agustus 2026), Departemen Pertanian AS (USDA) menempatkan China sebagai negara produsen kedelai terbesar keempat dunia setelah Brasil, AS, dan Argentina.
Pada periode tersebut, produksi kedelai di China diperkirakan sebanyak 20,9 juta ton. USDA juga memposisikan China sebagai negara importir kedelai nomor satu dunia dengan total impor sebanyak 111,83 juta ton atau sekitar 60 persen dari total impor kedelai dunia.
China menjadi incaran negara-negara pengekspor kedelai, termasuk AS dan Brasil.
China mengalokasikan sebagian besar kedelai produksi dalam negeri untuk bahan baku tahu, susu kedelai, dan sejumlah produk tradisional lainnya. Sementara itu, kedelai impor dijadikan bahan baku pakan ternak dan minyak nabati.
Tidak mengherankan jika China menjadi incaran negara-negara pengekspor kedelai, termasuk AS dan Brasil. Kedua negara tersebut selalu bersaing menjadi pemasok kedelai terbesar China. Dalam persaingan itu, Brasil yang merupakan sekutu China dalam BRICS selalu lebih unggul ketimbang AS.
Apalagi kala perang dagang AS-China mencuat pada 2018 dan 2025, kedelai Brasil kian mendominasi pasar China. Namun, di penghujung 2025, Presiden AS Donald Trump berupaya meruntuhkan dominasi kedelai Brasil dengan menorehkan kesepakatan dagang dengan China.
Merujuk hasil analisis ThinkChina pada 17 Desember 2025, pada 2016, Brasil memegang pangsa pasar kedelai impor China sebesar 46 persen, sedangkan AS 40 persen. Setelah perang dagang AS-China mencuat pada 2018, Brasil menyumbang 82 persen dari total impor kedelai China dan AS hanya 19 persen.
Dominasi Brasil itu terus berlanjut hingga 2024. Pada tahun tersebut, total impor kedelai China sebanyak 105 juta ton. Dari jumlah itu, Brasil memasok kedelai ke China sebanyak 74,55 juta ton (71,1 persen), sedangkan AS hanya sebanyak 22,14 juta ton (21,1 persen).
Tren tersebut terus berlanjut kala perang dagang AS-China kembali mencuat pada 2025. Pada tahun tersebut, Brasil menyumbang 73,6 persen dari total impor kedelai China, sedangkan AS hanya 15 persen.
Namun, pada 2026 hingga 2028, dominasi kedelai Brasil di pasar China diperkirakan bakal tergerus kedelai AS. Penyebab utamanya adalah kesepakatan dagang antara AS dan China pada Oktober 2025. Melalui kesepakatan itu, AS mengikat China untuk membeli produk pertanian AS senilai 17 miliar dolar AS.
Khusus kedelai, komitmen China adalah membeli kedelai AS sebanyak 12 juta ton pada November-Desember 2025 dan meningkat pembelian tersebut minimal menjadi 25 juta ton pada 2026, 2027, dan 2028. Dalam pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada 14-15 Mei 2026 di Beijing, komitmen pembelian kedelai tersebut tidak berubah.
CEO Dewan Ekspor Kedelai AS (USSEC) Jim Sutter, Minggu (21/6/2026), mengatakan, China diperkirakan bakal memenuhi janjinya untuk mengimpor kedelai dari AS sebanyak 25 juta ton pada 2026. Hal itu bakal membuat ekspor kedelai AS ke China pulih secara sifnifikan.
“Pengumuman terbaru AS perihal pengurangan tarif impor dari China merupakan sinyal positif. Kami berharap hal itu dimplementasikan secara konkret sehingga perdagangan bilatateral dapat menguntungkan kedua belah pihak,” kata Sutter jelang pembukaan China International Supply Chain Expo Ke-4 yang bakal digelar di Beijing, China pada 22-26 Juni 2026.
Ia menambahkan, China akan tetap menjadi salah satu pasar kedelai terpenting di dunia dalam jangka panjang. Merujuk proyeksi USDA, total impor kedelai China pada tahun pemasaran 2026/2027 (1 September 2026-31 Agustus 2027) bakal meningkat 2 juta ton dibandingkan 2025/2026 (China Daily, 21/6/2026).
Berdasarkan laporan USDA yang dirilis pada 18 Juni 2026, China telah membeli 132.000 ton kedelai AS untuk pengiriman selama tahun pemasaran 2026/2027. Hingga Januari-Mei 2026, AS telah mengekspor kedelai ke China sebanyak 8,38 juta ton atau turun 42,5 persen secara tahunan. Dalam perbandingan yang sama, ekspor kedelai Brasil ke China naik 6,7 persen menjadi 22,68 juta ton.
Subsidi kedelai RI
Di tengah persaingan kedelai AS-Brasil memikat China, Indonesia justru dilanda kenaikan harga kedelai impor. Hal itu membuat Pemerintah RI memberikan subsidi 250.000 ton kedelai impor senilai Rp 2.000 per kilogram (kg) bagi para perajin tahu dan tempe pada 2026.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan RI, per 25 Juni 2026, harga rerata kedelai impor di Indonesia Rp 18.709 per kg. Sejak awal 2026, harga rerata kedelai impor telah naik sebesar 1,41 persen.
Selama ini, Indonesia sensitif dengan kenaikan harga kedelai impor lantaran tingkat ketergantungan Indonesia terhadap impor komoditas itu sangat besar. Dari total kebutuhan kedelai di dalam negeri yang sekitar 2,74 juta ton per tahun, Indonesia hanya mampu memproduksinya sekitar 300.000-350.000 ton per tahun.
Berdasarkan data USDA, produksi kedelai Indonesia pada 2014-2023 rata-rata 498.000 ton dengan rerata pertumbuhannya minus 5 persen. Pada 2024, produksinya adalah 375.000 ton atau turun 4 persen secara tahunan.
Pada 2025 dan 2026, produksinya diperkirakan semakin turun, masing-masing menjadi 340.000 ton dan 320.000 ton. USDA menilai penurunan produksi kedelai itu terjadi lantaran banyak petani di lahan tadah hujan memilih menanam padi dan jagung yang harganya lebih menguntungkan.
Serial Artikel
Pemerintah Pertahankan HET Minyakita dan Kucurkan Subsidi Kedelai Impor
Ke depan, bantuan minyak goreng tidak lagi menggunakan Minyakita, tetapi produk minyak goreng dengan merek lain yang akan dikoordinasikan bersama produsen.
Sementara itu, BPS mencatat, volume impor kedelai Indonesia pada 2021-2025 berkisar 2,2 juta ton hingga 2,7 juta ton per tahun. Dalam kurun waktu itu, AS menjadi negara asal impor kedelai terbesar, yakni di kisaran 1,9 juta ton hingga 2,4 juta ton. Selain AS, Indonesia juga mengimpor kedelai dari Kanada, Argentina, dan Brasil.
Merujuk pada Proyeksi Neraca Pangan 11 Komoditas Tahun 2026, Badan Pangan Nasional (Bapanas) Ri memperkirakan, produksi kedelai nasional hanya sebanyak 249.352 ton. Dengan kebutuhan konsumsi kedelai sebanyak 2,74 juta ton, Indonesia berencana mengimpor kedelai sebanyak 2,64 juta ton.
Pengamat pertanian yang juga pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia, Khudori, Kamis (25/6/2026), mengatakan, kenaikan harga kedelai di Indonesia terjadi sejak perang AS-Israel melawan Iran meletus. Kenaikan harga itu dipicu melonjaknya harga kedelai global dan biaya logistik, serta pelemahan rupiah atas dolar AS.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, kenaikan harga kedelai yang tinggi itu selalu diikuti aksi mogok produksi produsen tahu-tempe. Setidaknya, aksi mogok produksi itu pernah terjadi pada 2008, 2010, 2012, 2013, 2015, 2021, dan 2022.
“Respons pemerintah juga sama, yakni memberikan subsidi kedelai impor setelah ada aksi mogok produksi tersebut,” katanya ketika dihubungi dari Jakarta.
Krisis kedelai itu kerap berulang lantaran pemerintah tidak merespons dengan kebijakan memadai.
Menurut Khudori, krisis kedelai itu kerap berulang lantaran pemerintah tidak merespons dengan kebijakan memadai. Dalam teori kebijakan publik, krisis berulang menandakan ada kealpaan dari otoritas pembuat kebijakan.
Pemerintah sebenarnya sudah amat paham akar penyebab krisis kedelai itu terus berulang. Pertama, pemerintah menyerahkan harga kedelai pada mekanisme pasar. Kedua, ketergantungan impor kedelai diirigi dengan gelombang ogah menanam kedelai di dalam negeri pada taraf yang akut.
Buktinya, lanjut Khudori, luas panen kedelai yang pada 1992 masih sekitar 1,66 juta hektar tinggal menjadi sekitar 135.000 hektar pada 2024. Dalam periode perbandingan yang sama, produksi kedelai nasional merosot dari 1,87 juta ton menjadi 0,23 juta ton atau hanya tersisa 12,3 persen.
Gelombang menjauhnya petani untuk menanam kedelai ini sepertinya akan terus berlanjut. Ini lantaran belum ada tanda-tanda serius dari pemerintah untuk mengoreksi problem tahunan tersebut dalam bentuk kebijakan konkret.
“Petani enggan menanam kedelai lantaran keuntungan usaha tani kedelai selama semusim--sekitar 3-4 bulan—kecil, yakni 11,95 persen. Keuntungan ini tak ada separuh dari keuntungan usaha tani padi dan jagung yang masing-masing sebesar 26,76 persen dan 29,06 persen,” katanya.
Sebelumnya, pada 15 Mei 2026, Menteri Pertanian yang juga kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menyatakan Kementerian Pertanian berkomitmen meningkatkan produksi kedelai nasional. Peningkatan produksi itu tengah dilakukan bersama TNI Angkatan Laut dan sejumlah pemerintah daerah, termasuk di Jawa Timur.
Amran menilai Jawa Timur menjadi salah satu wilayah paling potensial dalam upaya peningkatan produksi kedelai nasional. Dalam dua tahun terakhir, rerata produksi kedelai Jawa Timur sekitar 54.000 ton dengan luas tanam sekitar 28.100 hektar dan produktivitas 1,7 ton per hektar.
Kabupaten Nganjuk menjadi salah satu sentra penting dengan rerata produksi sekitar 8.000 ton dari luas tanam 3.249 hektar dan produktivitas mencapai 2,2 ton per hektar. Produksi tersebut telah memenuhi sekitar 72 persen kebutuhan kedelai daerah setempat.
Serial Artikel
Titiek Soeharto: Malu Kita Makan Tempe dari Kedelai Impor
Bangsa Indonesia merupakan bangsa pemakan tahu dan tempe. Semestinya, budidaya kedelai harus menjadi prioritas, bukan malah mendatangkannya dari negara lain.
Oleh karena itu, lanjut Amran, pada 2026, luas areal tanam kedelai di Nganjuk ditambah seluas sekitar 2.300 hektar, yakni di Kecamatan Rejoso, Wilangan, dan Bagor. Dari total luasan itu, produksi kedelai yang dihasilkan diperkirakan sekitar 3.400 ton.
Pemerintah juga menyalurkan bantuan benih bersertifikat varietas Grobogan sebanyak 100 ton, 20 traktor, dan bajak. Selain itu, Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) juga telah sepakat memberikan jaminan pembelian kedelai petani.
Amran juga mengakui, harga kedelai lokal di tingkat petani masih rendah, yakni berkisar Rp 8.000–Rp 9.000 per kg. Kondisi tersebut membuat minat petani menanam kedelai belum optimal. Oleh karena itu, pemerintah berencana menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) kedelai di tingkat petani sekitar Rp 13.500 per kg.
“Kami akan keluarkan keputusan itu dalam waktu singkat agar petani kedelai mendapatkan keuntungan yang layak seperti petani padi dan jagung,” kata Amran melalui siaran pers..





