Rupiah Melemah Hampir ke Rp 18.000 Meski Pemerintah Tebar Optimisme soal Pasokan Minyak & Ekonomi RI

viva.co.id
9 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.942 pada Kamis, 25 Juni 2026. Posisi rupiah itu menguat 13 poin dari kurs sebelumnya di level 17.955 pada perdagangan Rabu, 24 Juni 2026.

Baca Juga :
Bebas Visa Kunjungan Perkuat Daya Saing Pariwisata Indonesia di Tengah Kompetisi Global
Anggota DPR: Ketahanan Energi Jadi Faktor Penentu Stabilitas Ekonomi Negara

Sementara perdagangan di pasar spot pada Jumat, 26 Juni 2026 hingga pukul 09.02 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.987 per dolar AS. Posisi itu melemah 44 poin atau 0,25 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.943 per dolar AS.

Ilustrasi rupiah dan dolar
Photo :
  • VIVA/Davro

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, di awal mula konflik geopolitik di Timur Tengah pecah akhir Februari 2026 lalu, pemerintah telah melakukan berbagai skenario analisis dampak perang untuk rentang waktu 5 bulan, 6 bulan, hingga 10 bulan, dan semua bisa dilalui dengan baik.

Ketergantungan impor minyak Indonesia terhadap kawasan Timur Tengah kini hanya berada di level 20 persen. Langkah diversifikasi pasokan telah dilakukan dengan menyasar negara-negara Afrika seperti Nigeria dan Gabon.

"Selain itu, pemenuhan energi juga ditopang oleh komitmen pembelian dari AS dan Venezuela, melalui skema Agreement on Reciprocal Tariff (ART)," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Jumat, 26 Juni 2026.

Karenanya, pemerintah meyakini kondisi perekonomian Indonesia 2026 masih terjaga dengan baik. Apalagi kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencatatkan pertumbuhan yang impresif sebesar 5,61 persen.

Angka ini, berada di atas rata-rata negara G20 maupun pertumbuhan ekonomi global. Ketahanan makro juga tercermin dari posisi cadangan devisa yang bertengger di level US$144,9 miliar per akhir Mei 2026.

Sementara realisasi investasi yang mencapai angka Rp 498,8 triliun pada kuartal I-2026, serta Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur yang masih tertahan di zona ekspansi marjinal pada level 50. 

Di balik capaian tersebut, ada catatan khusus terkait kinerja neraca perdagangan. Meski berhasil mencatatkan surplus selama 72 bulan berturut-turut, tren surplus tersebut kian menyusut. Dengan kondisi yang semakin menipis, pemerintah terus menggenjot sektor-sektor yang bisa menghasilkan devisa. Salah satunya adalah pariwisata yang menjadi low hanging fruit.

Baca Juga :
Staf Ahli TP PKK Yane Ardian Dukung Kelor NTT Jadi Komoditas Unggulan Bernilai Gizi dan Ekonomi
Ganggu Pasokan Minyak RI, Bahlil Sebut Ketidakpastian Geopolitik Global Ibarat Malaria
Rupiah Lanjut Melemah ke Rp 17.976 Meski Pemerintah Bakal Beri Stimulus Ekonomi di Semester II-2026

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Berawal dari Lorong Gersang, Senang dan Tenang Tercipta
• 11 jam lalukompas.id
thumb
Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jasa Marga Gencarkan Green Toll Road
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
KPK Ungkap Alasan Belum Menahan Eks Sekjen MPR Ma'ruf Cahyono
• 9 jam lalurctiplus.com
thumb
Bosowa Peduli Salurkan 295 Pasang Sepatu bagi Pelajar Sulsel-Sulteng
• 23 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Ini Modus Pengamen yang Nekat Bakar Pagar Rumah Warga di Bekasi
• 23 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.