Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan akhir pekan Jumat (26/6/2026) seiring dengan menguatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures pada Pukul 09.05, rupiah dibuka melemah sebesar 0,28% ke level Rp17.993.
Pelemahan mata uang Garuda terhadap dolar AS juga diikuti oleh mayoritas mata uang di kawasan Asia lainnya. Pelemahan terbesar terhadap dolar AS dipimimpin oleh won Korea yang terdepresiasi sebesar 0,34%, disusul baht Thailand turun sebesar 0,26%, dolar Singapura turun sebesar 0,04%.
Selanjutnya, depresiasi terhadap dolar AS juga terjadi untuk mata uang yuan China sebesar 0,02%, diikuti dolar Hong Kong dan Yen Jepang terhadap dolar AS yang masing-masing melemah sebesar 0,01%.
Sementara itu penguatan terhadap dolar AS terjadi untuk mata uang oleh rupee India dan ringgit Malaysia. Keduanya naik sebesar 0,27%, disusul peso Filipina yang naik sebesar 0,13%, dan dolar Taiwan menguat 0,07%.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah berpotensi melanjutkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring menguatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga
- Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Jumat 26 Juni 2026
- LPS Waspadai Perlambatan Pertumbuhan Simpanan Rupiah hingga Kuartal III/2026
- Breaking! LPS Naikkan Bunga Penjaminan Simpanan Rupiah 25 Bps
Menurutnya, sentimen tersebut dipicu oleh data inflasi AS berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menunjukkan kenaikan inflasi inti ke level tertinggi sejak Oktober 2023. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa tekanan harga di AS masih belum sepenuhnya mereda.
"Kenaikan inflasi inti PCE AS menjadi sinyal bahwa proses disinflasi masih menghadapi tantangan. Hal ini mendorong pelaku pasar kembali mempertimbangkan peluang The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka ruang bagi kenaikan suku bunga lebih lanjut," ujarnya, Jumat (26/6/2026).
Selain data inflasi, nada hawkish yang disampaikan sejumlah pejabat The Fed turut memperkuat sentimen positif bagi dolar AS. Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee dan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams sama-sama menegaskan bahwa inflasi AS masih berada pada level yang terlalu tinggi untuk memberikan ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.
"Pernyataan para pejabat The Fed yang menilai inflasi masih terlalu tinggi semakin meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga yang ketat. Kondisi ini berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah," katanya.
Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.900-Rp18.050 per dolar AS, dengan kecenderungan melemah seiring meningkatnya permintaan aset-aset berbasis dolar.





