Badan Pengawas Obat dan Makanan tengah menyiapkan jamu dan wisata medis sebagai mesin baru pariwisata Indonesia. Program ini menggandeng Kementerian Pariwisata. Secara global, nilai ekonomi wellness tourism atau wisata kebugaran diperkirakan lebih dari 1 triliun dolar AS pada 2026 dan terus tumbuh dalam satu dekade ke depan.
Sementara itu, sektor wisata medis juga menunjukkan pertumbuhan yang agresif seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat dunia terhadap layanan kesehatan berkualitas dengan biaya kompetitif. ”Nilai ekonomi dan potensi jamu untuk wisata sangat besar, tetapi potensi tersebut belum digarap dengan baik,” ujar Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar saat dihubungi, Rabu (24/6/2026).
Dalam konteks wisata kebugaran ataupun wisata medis, Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan biodiversitas, tradisi jamu, produk herbal, kosmetik berbahan alam, hingga potensi layanan kesehatan. Langkah strategis akan diperkuat dalam mendukung transformasi sektor pariwisata nasional melalui pengembangan ekosistem wellness tourism dan medical tourism yang aman, berkualitas, serta berdaya saing global.
Pada Selasa (23/6/2026), Kepala BPOM beraudiensi dengan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana di Jakarta. Pertemuan yang mengusung tema Sinergi Pengawasan Obat dan Makanan pada sektor pariwisata itu menjadi momentum memperluas kolaborasi antara BPOM dan Kementerian Pariwisata. Kolaborasi diperlukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional berbasis kesehatan, kebugaran, dan produk unggulan lokal.
Apalagi, saat ini tren pariwisata dunia telah mengalami pergeseran. Wisatawan kini tidak lagi hanya mencari destinasi yang indah, tetapi juga pengalaman yang memberikan manfaat bagi kesehatan, kebugaran, dan kualitas hidup.
Di sisi lain, pariwisata yang maju tidak dapat dilepaskan dari jaminan keamanan dan kualitas produk yang dikonsumsi ataupun digunakan wisatawan, mulai dari pangan lokal, produk spa, kosmetik herbal, hingga layanan kesehatan.
Hal ini membutuhkan pengawasan yang kuat agar mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat dan wisatawan. Melihat peluang tersebut, BPOM menegaskan komitmen untuk menjadi bagian dari penguatan ekosistem wisata kesehatan Indonesia. Peran itu diwujudkan melalui pengawasan obat dan makanan yang efektif, pembinaan pelaku usaha, percepatan layanan perizinan, serta pendampingan UMKM agar mampu memenuhi standar keamanan dan mutu yang berlaku.
Sejumlah program telah dijalankan BPOM sebagai wujud dukungan terhadap sektor pariwisata. Program pendampingan, misalnya, digelar di Desa Wisata Jamu Kiringan di Bantul, Desa Wisata Wonolopo di Semarang, hingga pengembangan kawasan wisata herbal di Sumba Timur yang memadukan pelestarian tanaman obat dengan aktivitas wisata berbasis masyarakat.
BPOM juga mendorong perluasan pendampingan UMKM pangan, jamu, dan kosmetik di sejumlah desa wisata. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kualitas produk lokal sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat di sekitar destinasi wisata.
Selain itu, BPOM mengintegrasikan Program Desa Pangan Aman dengan sejumlah desa wisata untuk memastikan produk kuliner yang disajikan kepada wisatawan memenuhi standar keamanan pangan. Pendekatan tersebut tidak hanya melindungi konsumen, tetapi juga meningkatkan nilai tambah dan daya saing destinasi wisata lokal.
BPOM secara konsisten mendorong promosi produk jamu, obat bahan alam, kosmetik, dan layanan kebugaran melalui berbagai program kolaboratif. Salah satunya melalui penyelenggaraan Wellness Festival (Wellfest) yang menjadi wadah promosi sekaligus penguatan jejaring pelaku industri kebugaran nasional.
Selain wisata kebugaran, BPOM turut mengambil peran dalam pengembangan medical tourism melalui dukungan regulasi dan layanan perizinan. Salah satu implementasi konkret dilakukan melalui mekanisme Special Access Scheme (SAS) untuk mendukung kebutuhan layanan kesehatan di kawasan ekonomi khusus (KEK), termasuk Bali International Hospital di KEK Sanur.
BPOM memastikan akses terhadap obat-obatan tertentu dapat dilakukan secara cepat, terukur, dan tetap berada dalam koridor pengawasan yang ketat guna menjamin keamanan, mutu, serta keselamatan pasien. Taruna menegaskan, kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting dalam mewujudkan Indonesia sebagai destinasi wisata kesehatan kelas dunia.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu) Jony Yuwono menegaskan, Indonesia menjadi negara dengan mega biodiversivitas terbesar di dunia. Indonesia memiliki 75 persen atau 30.000 dari 40.000 spesies tanaman yang tercatat di dunia. Meskipun memiliki potensi besar, wisata jamu belum tergarap. Saat ini, industri besar obat tradisional dan farmasi hanya memanfaatkan sekitar 500 spesies tanaman obat.
Pada 2021, GP Jamu sudah membentuk tim riset untuk menyusun berkas nominasi ”Budaya Sehat Jamu” (Jamu Wellness Culture) yang ditujukan kepada UNESCO melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada 6 Desember 2023, UNESCO telah menetapkan ”Budaya Sehat Jamu” sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia (Intangible Cultural Heritage).
”Pengakuan ini menekankan bahwa Indonesia tidak hanya memiliki kekayaan alam (benda), tetapi masyarakat Indonesia memiliki budaya dan pengetahuan (tak benda) untuk mengolah kekayaan alam kita untuk kesehatan dalam bentuk jamu,” tambah Jony yang juga merupakan pemilik PT Sinde Budi Sentosa yang salah satu produknya adalah larutan penyegar Cap Badak.
Namun, masyarakat masih cenderung beranggapan bahwa jamu itu sebagai obat atau minuman herbal yang cenderung dikonsumsi ketika sakit. Padahal, jika ditelusuri sejarah dan filosofinya, kata jamu berasal dari bahasa Jawa Kuno, ’jampi’, yang berarti ’doa’, dan ’usodo’ yang berarti ’kesehatan’; jamu sebagai ’doa kesehatan’.
Jony menambahkan, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Pemanfaatan Jamu, jamu didefinisikan secara luas dan mengarahkan berbagai kementerian untuk mengembangkan jamu. Selain Kementerian Kesehatan, ada pula Kementerian Pariwisata, Pertanian, Perdagangan, Perindustrian, Pendidikan dan Kebudayaan, dan sebagainya.
”Atas dasar tersebut, GP Jamu terlibat aktif dalam berkolaborasi bersama berbagai instansi pemerintah untuk mengembangkan jamu lebih luas lagi. Apalagi dengan tren dunia setelah pandemi Covid-19 yang mengarah ke arah wellness, jamu berada di posisi yang sangat strategis untuk menjawab kebutuhan dunia,” tambahnya.
Dukungan untuk mendongkrak wisata jamu juga diungkapkan oleh Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk Irwan Hidayat. ”Saya mendukung, saya terima kasih kepada pemerintah melalui BPOM. Selama ini, sebenarnya kami juga sudah melakukan. Bahkan, kami melakukannya itu sudah dari tahun 2002,” ujar Irwan.
Sido Muncul, antara lain, membuka pabriknya untuk kunjungan masyarakat umum. Di samping bisa menyaksikan proses produksi jamu seperti Tolak Angin, masyarakat juga bisa melihat koleksi tanaman obat. Selain mahasiswa, rombongan guru hingga karyawan perusahaan swasta juga pernah melakukan kunjungan ke pabrik Sido Muncul.
Setiap bulan, pabrik Sido Muncul di Jawa Tengah dikunjungi sekitar 8.000 orang. Irwan berharap Jawa Tengah bisa menjadi pintu wisata untuk wisata jamu di Indonesia. Banyak perajin jamu yang bisa dijumpai di Jateng. Jateng juga memiliki Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) di Tawangmangu yang menarik untuk wisata.
Pariwisata diyakini akan berdampak mendongkrak pamor jamu karena pariwisata cenderung tidak mengeksploitasi dan memberikan tambahan penghasilan. ”Dinas pariwisata harus memanfaatkan potensi keberadaan Sido Muncul, B2P2TOOT, dan pabrik jamu lain untuk mempromosikannya kepada masyarakat internasional,” ujar Irwan.
Sekretaris Jenderal GP Jamu Muhammad Fajaruddin menambahkan, komitmen pemerintah untuk pengembangan wisata jamu selaras dengan apa yang disiapkan GP Jamu. Ia menegaskan, jamu sangat potensial dikembangkan menjadi mesin baru pariwisata. Saat ini, GP Jamu menaungi pelaku usaha jamu mulai dari jamu gendongan hingga pengusaha skala industri.
Selain desa wisata jamu, Pasar Nguter di Sukoharjo, misalnya, juga sangat menarik sebagai magnet wisata karena hanya menjual komoditas jamu. Kafe jamu modern hingga taman jamu pun terus berkembang dan bisa mewadahi tamu-tamu dari beragam negara.
”Kita bisa memperkenalkan jamu dan memberikan mereka wawasan bagaimana caranya membuat jamu, sekaligus bisa memperoleh pengetahuan bahwa produk-produk jamu yang disajikan sudah memiliki izin dan layak dibawa pulang,” tambah Fajaruddin.





