Mahasiswa Belajar Fikih Hijau lewat Aksi Tanam 1.500 Mangrove di Bantul

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Mahasiswa Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menanam 1.500 pohon mangrove di kawasan Pantai Baros, Bantul, Sabtu, (20/6). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Project Fikih Hijau, implementasi Mata Kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang mendorong mahasiswa belajar agama melalui aksi sosial dan pelestarian lingkungan.

Penanaman melibatkan mahasiswa dari empat program studi: Psikologi, Manajemen, Akuntansi, dan Administrasi Publik. Ini menjadi salah satu kegiatan lapangan terbesar dalam kerangka pembelajaran AIK di UNISA Yogyakarta.

Dosen pengampu sekaligus penggagas Project Fikih Hijau, Nurdin Zuhdi, menyebut pendekatan ini lahir dari kegelisahan terhadap model pendidikan agama yang selama ini lebih menekankan aspek kognitif dibanding dampak sosial.

Ia menegaskan bahwa nilai-nilai keislaman seharusnya hadir sebagai energi perubahan nyata.

"Pembelajaran AIK jangan hanya berhenti secara teoritis di ruang-ruang kelas saja. AIK harus dibawa keluar kelas dalam bentuk gerakan praksis aplikatif. AIK harus berdampak," ujar Nurdin dalam keterangannya, Rabu (24/6).

Secara konseptual, program ini berangkat dari reinterpretasi teologi Al-Ma'un dalam tradisi Muhammadiyah. Nurdin memperluas tafsir tersebut agar relevan dengan tantangan lingkungan hidup masa kini.

"Al-Ma'un jangan hanya dimaknai secara sempit bahwa pendusta agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan enggan menganjurkan memberi makan fakir miskin. Salah satu pendusta agama di era kekinian adalah aktor-aktor perusak lingkungan," tegasnya.

Pemilihan mangrove sebagai fokus kegiatan memiliki dasar ekologis yang kuat. Selain berfungsi menahan abrasi pantai, mangrove berperan dalam penyerapan karbon, menjaga keanekaragaman hayati, dan menopang kehidupan ekonomi masyarakat pesisir.

Project Fikih Hijau sendiri, kata dia, bukan merupakan program ad hoc. Program ini merupakan hasil penelitian hibah kompetitif multiyears yang didanai Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM).

Gagasannya kemudian diadopsi dalam Pedoman Pengembangan Kurikulum AIK di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA) yang diterbitkan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan PP Muhammadiyah pada 2025.

Masuknya konsep ini ke dalam pedoman nasional menandai pergeseran arah pengembangan AIK, dari orientasi kesalehan individual menuju kesalehan sosial dan ekologis.

Nurdin berharap model ini dapat direplikasi di seluruh PTMA yang jumlahnya mencapai lebih dari 170 perguruan tinggi di Indonesia. Jika tiap PTMA menjalankan Project Fikih Hijau setiap semester, ia memperkirakan dampaknya bisa mencapai jutaan pohon yang tertanam secara nasional.

"Ini bukan hanya gerakan akademik, tetapi juga gerakan peradaban yang menunjukkan bahwa PTMA hadir untuk menjaga keberlanjutan bumi," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
FLEI Business Show 2026 Tumbuhkan Potensi Ekspansi ke Luar Negeri
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Dudung Abdurachman Mengajak Purnawirawan TNI-Polri Menjadi Teladan dan Mengawal Persatuan Bangsa
• 21 jam lalupantau.com
thumb
Penting, Moms! Ini Pertolongan Pertama untuk Menangani Anak Tersedak
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Mulai Safari dari Lampung, Jokowi Ingin PSI Jadi Mesin Politik Besar
• 6 jam laludetik.com
thumb
Full Atribut PSI, Jokowi Memulai Rangkaian Blusukan di Lampung
• 6 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.