Menakar Taji Produsen CPO Raksasa JARR, DSNG hingga LSIP Jelang Implementasi B50

katadata.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Pemerintah akan menerapkan mandatori biodiesel B50 pada 1 Juli 2026 dengan masa transisi selama tiga bulan. Kebijakan ini diperkirakan menjadi katalis baru bagi industri minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) terutama bagi emiten yang memiliki bisnis terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Salah satu perusahaan yang sudah mengintai proyek ini jauh-jauh hari adalah emiten milik pengusaha asal Kalimantan Selatan Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR).

Dalam paparan publik yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), JARR menargetkan peningkatan penggunaan CPO yang berasal dari kebun sendiri dari 17% pada 2025 menjadi 20%-25% pada 2026. Langkah ini diharapkan dapat menekan pembelian CPO dari pihak ketiga sehingga meningkatkan efisiensi biaya produksi biodiesel.

Manajemen JARR juga menargetkan peningkatan utilisasi pabrik biodiesel untuk memenuhi kebutuhan program mandatori biodiesel nasional.

"Meningkatkan utilisasi pabrik biodiesel untuk memenuhi kebutuhan program mandatori biodiesel nasional," tulis manajemen JARR dalam paparan publik yang dikutip Jumat (26/6).

Hingga kuartal pertama 2026, JARR telah mengolah 8.200 ton CPO internal atau sekitar 20% dari total 41.100 ton CPO yang diproses menjadi berbagai produk, termasuk biodiesel.

Seiring dengan prospek besar JARR dalam proyek B50, analis Panin Sekuritas Elandry Pratama menilai implementasi B50 dapat menjadi mesin pertumbuhan baru bagi JARR. Ia mematok target harga saham JARR di kisaran Rp 3.000-Rp 3.500 per saham dalam 12 bulan ke depan.

"Dengan catatan implementasi program B50 berjalan sesuai rencana dan mampu memberikan kontribusi yang nyata terhadap pendapatan perusahaan," ujar Elandry kepada Katadata, Jumat (26/6).

Selain JARR, sejumlah emiten sawit besar juga diperkirakan menikmati kenaikan permintaan CPO dari program B50. Di antaranya perusahaan dari Grup Astra PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) serta perusahaan Grup Triputra yang didirikan oleh pengusaha Theodore Permadi (TP) Rachma PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG).

Lalu emiten Grup Salim PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP). Selain itu ada emiten PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS).

Dari sisi operasional, LSIP membukukan produksi CPO sebesar 73 ribu metrik ton pada kuartal pertama 2026, meningkat 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 65 ribu metrik ton.

Sementara itu, DSNG mencatat produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 492 ribu ton, naik 2,7% secara tahunan. Kenaikan tersebut didorong oleh peningkatan produksi kebun plasma sebesar 6,2%, sementara produksi kebun inti tumbuh 1,8%.

Sejalan dengan itu, produksi CPO DSNG meningkat 2,1% menjadi 141 ribu ton, produksi palm kernel (PK) naik 2,9% menjadi 27 ribu ton, sedangkan produksi palm kernel oil (PKO) tumbuh 5,7% menjadi 8.500 ton. Perseroan juga membukukan Oil Extraction Rate (OER) sebesar 23,32% dengan kadar Free Fatty Acid (FFA) sekitar 3%.

Peluang dari implementasi B50 juga diincar PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT). Direktur Utama CBUT Rorry Christian Tobing mengatakan perseroan tengah menyelesaikan pembangunan pabrik Refinery & Fractionation II berkapasitas 1.500 ton per hari (TPD).

Fasilitas tersebut saat ini memasuki tahap commissioning dan ditargetkan rampung pada Juli 2026. Pabrik baru itu akan melengkapi fasilitas yang telah dimiliki CBUT, yakni refinery berkapasitas 2.500 TPD, kernel crushing plant 600 TPD, dan molding & filling plant 200 TPD.

Menurut Rorry, ekspansi tersebut dilakukan pada momentum yang tepat seiring dimulainya implementasi mandatori B50.

"Program B50 kami nilai sebagai katalis positif. Kebijakan ini menciptakan tambahan permintaan minyak sawit di dalam negeri dan menjaga stabilitas harga, yang sangat menguntungkan bagi CBUT sebagai pemain hilir terintegrasi," kata Rorry dalam keterangan resmi.

Mana yang Lebih Berpeluang?

Elandry menilai implementasi mandatori B50 berpotensi meningkatkan konsumsi domestik CPO untuk kebutuhan biodiesel. Kenaikan permintaan di pasar domestik juga berpotensi memperketat pasokan ekspor sehingga menjaga harga CPO tetap tinggi.

Menurut dia, kondisi tersebut tidak hanya mendukung ketahanan energi nasional, tetapi juga berpotensi menjaga margin produsen sawit, terutama emiten yang memiliki eksposur besar di bisnis hulu.

Meski demikian, ia mengingatkan pergerakan harga saham tetap akan bergantung pada realisasi implementasi program B50 serta perkembangan harga CPO global.

Untuk pilihan investasi, Elandry menjadikan SSMS dan DSNG sebagai saham unggulan karena valuasinya masih relatif menarik dengan potensi pertumbuhan laba yang kuat apabila harga CPO bertahan di level tinggi.

Sementara itu, AALI dan LSIP dinilai cocok bagi investor yang lebih konservatif karena memiliki kualitas aset perkebunan yang baik. Adapun SIMP diperkirakan ikut menikmati perbaikan sektor, meski kenaikan kinerjanya cenderung lebih bertahap.

Elandry memberikan target harga 12 bulan masing-masing sebesar Rp 1.400 untuk SSMS, Rp 1.300 untuk DSNG, Rp 8.000 untuk AALI, Rp 1.700 untuk LSIP, dan Rp 800 untuk SIMP.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Arsenal Tebus Piero Hincapie Rp815 Miliar, Bek Ekuador Teken Kontrak hingga 2031
• 15 jam lalumedcom.id
thumb
Tim Banteng Sulsel Matangkan Persiapan Menuju Liga Soekarno Cup 2026
• 22 jam laluterkini.id
thumb
[FULL] Blak-blakan! Eks Wakapolri Oegroseno Soroti Alasan Polisi Tangkap Roy Suryo-Tifa Kasus Ijazah
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Produsen Cina Bersaing Rancang PLTS yang Mampu Panen Sinar Matahari Terbanyak
• 22 jam lalukatadata.co.id
thumb
Media Vietnam Waspadai Dua Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia, Sebut Bikin Khawatir
• 5 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.