Dari Petani Cabai hingga Nelayan Tuna, Mak Judess Menyatukan Banyak Harapan

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

Edward AS
Kecamatan Tamalanrea

Pagi baru saja membuka mata di kawasan Borong Taipa, Kelurahan Tamalanrea, Kota Makassar. Cahaya matahari belum sepenuhnya menembus halaman-halaman rumah warga, tetapi kesibukan sudah lebih dulu mengambil alih sebuah rumah sederhana di sudut kawasan tersebut.

Di dalam rumah itu, aroma cabai yang baru dihaluskan bercampur dengan harum rempah-rempah yang mulai dipanaskan. Di sisi lain ruangan, beberapa perempuan tampak sibuk membersihkan ikan tuna. Ada yang menimbang bahan, mengiris cabai, menyiapkan kemasan, hingga menyusun produk yang siap dikirim ke berbagai daerah.

Sesekali terdengar tawa di sela pekerjaan mereka. Suasana itu lebih menyerupai rumah yang dipenuhi keluarga besar dibanding sebuah tempat produksi. Namun dari tempat itulah, ribuan toples sambal diproduksi setiap bulan.

Di balik semua aktivitas itu berdiri Sri Wahyuni atau yang akrab disapa Ayu. Wajahnya tampak tenang sambil sesekali memperhatikan proses produksi. Baginya, rumah tersebut bukan hanya tempat usaha.

Di tempat itu, banyak kehidupan bergerak bersama. Setiap toples sambal yang keluar dari dapur Mak Judess bukan sekadar produk makanan. Di balik rasa pedasnya, terdapat cerita tentang petani yang menanam cabai, nelayan yang mencari tuna di laut Sulawesi, hingga ibu rumah tangga yang menggantungkan harapan dari pekerjaan tersebut.

Semua bermula pada tahun 2018. Saat itu Ayu melihat banyak ibu rumah tangga di lingkungan sekitarnya menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah. Mereka mengurus keluarga, menjaga anak, memasak, dan menyelesaikan berbagai pekerjaan domestik yang tak pernah selesai. Namun banyak dari mereka tidak memiliki penghasilan sendiri.

Pemandangan itu membuat Ayu terus berpikir. Ia merasa para perempuan itu memiliki kemampuan, tenaga, dan semangat. Yang belum mereka miliki hanyalah kesempatan.

“Saya hanya berpikir bagaimana caranya supaya ibu-ibu ini bisa ikut punya penghasilan. Mereka sebenarnya punya kemampuan, hanya mungkin belum punya wadah. Saya ingin mereka merasa bahwa mereka juga bisa berdaya,” ujar Ayu.

Dari kegelisahan sederhana itu, lahirlah sebuah ide yang awalnya juga sederhana: membuat sambal. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Di Sulawesi, sambal merupakan bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap hidangan terasa kurang lengkap tanpa rasa pedas. Selain itu, bahan bakunya juga mudah ditemukan.

Namun Ayu tidak ingin membuat sambal biasa. Ia memilih menggunakan tuna sebagai bahan utama. Keputusan itu lahir dari kedekatannya dengan kondisi Sulawesi yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil tuna terbesar di Indonesia.

“Tuna itu banyak di Sulawesi. Sayang kalau potensinya tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Sementara cabainya kami ambil dari petani lokal di Takalar,” katanya.

Bagi Ayu, memilih bahan baku lokal bukan hanya persoalan efisiensi atau keuntungan usaha. Ada harapan yang ingin ia bangun. Ketika cabai dibeli dari petani lokal, ada hasil panen yang terserap. Ketika tuna dibeli dari nelayan, ada hasil tangkapan yang memiliki nilai lebih tinggi. Ketika produksi meningkat, semakin banyak pula orang yang ikut memperoleh manfaat.

Pelan-pelan, rantai kecil itu mulai terbentuk. Yang awalnya hanya dimulai dari dapur sederhana dengan alat produksi terbatas, kini berkembang menjadi usaha dengan produksi mencapai sekitar 2,5 ton per bulan.

Varian produknya pun semakin bertambah. Mulai dari sambal tuna, sambal teri, sambal cumi, sambal udang, sambal bawang, abon tuna, hingga abon ayam.

Namun perjalanan menuju titik itu tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesar datang dari bahan baku.

Harga cabai yang sering berubah-ubah menjadi persoalan yang cukup berat. Di waktu tertentu, harga dapat melonjak tinggi dan stok menjadi terbatas. Hal yang sama juga terjadi pada ketersediaan tuna.

“Ada saat harga cabai naik sekali dan stoknya sulit didapat. Kalau seperti itu, mau tidak mau produksi harus dikurangi. Dampaknya juga berpengaruh ke distribusi dan penghasilan,” tutur Ayu.

Tetapi perempuan itu memilih untuk tidak berhenti. Ia mulai mencari berbagai cara agar usaha tetap bertahan. Salah satunya dengan menyimpan stok bahan baku saat musim panen tiba. Ia juga terus menjaga hubungan baik dengan para petani dan nelayan yang selama ini menjadi bagian penting dari usahanya.

Baginya, menjaga usaha berarti juga menjaga kehidupan orang-orang yang ikut bertumbuh di dalamnya. Hari demi hari, langkah kecil itu ternyata berkembang lebih jauh dari yang pernah dibayangkan.

Kini sambal Mak Judess tidak hanya dinikmati masyarakat lokal. Produk tersebut telah merambah pasar internasional hingga ke Nigeria, Mesir, Taiwan, Hongkong, dan Australia. Namun perjalanan ke pasar global itu juga menghadirkan tantangan baru.

Setiap negara memiliki karakter rasa yang berbeda. Ayu dan tim harus melakukan berbagai penyesuaian tanpa menghilangkan identitas asli produk mereka.

“Di Australia misalnya mereka cenderung lebih suka rasa yang manis dan tidak terlalu asin. Sementara di Hongkong justru lebih suka yang lebih asin dan agak berminyak. Jadi kami melakukan penyesuaian, tapi cita rasa khas Sulawesi tetap dipertahankan,” jelasnya.

Meski produknya kini telah menyeberangi lautan dan memasuki pasar internasional, Ayu mengaku ada kebahagiaan lain yang lebih besar dibanding sekadar peningkatan penjualan.

Baginya, pencapaian terbesar adalah melihat perubahan yang terjadi pada orang-orang di sekelilingnya. Melihat ibu rumah tangga yang kini memiliki penghasilan. Melihat petani yang hasil panennya terserap. Melihat nelayan yang memperoleh pasar lebih luas.

Karena dari awal, Mak Judess memang tidak dibangun hanya untuk menjual sambal. “Cita-cita saya sebenarnya sederhana. Saya ingin usaha ini terus berkembang dan membawa manfaat untuk lebih banyak orang. Kalau semakin banyak yang ikut merasakan manfaatnya, itu sudah membuat saya bahagia,” ucap Ayu.

Dalam perjalanan mengembangkan usahanya, Ayu mengaku tidak berjalan sendirian. Seiring pertumbuhan Mak Judess, dukungan dari berbagai pihak turut menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Ayu juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, yang turut membina dan membimbing Mak Judess dalam perjalanannya. Menurut Ayu, dukungan dari BRI sangat berarti, terutama dalam hal pendampingan usaha, akses pelatihan, dan dorongan untuk terus naik kelas sebagai pelaku UMKM.

“Saya benar-benar merasa sangat terbantu. Terima kasih kepada BRI yang sudah memberikan banyak peluang dan membuka jalan bagi kami untuk terus berkembang. Mereka tidak hanya membantu secara materi, tapi juga membekali kami dengan ilmu dan jaringan,” ungkap Ayu dengan suara penuh syukur.

Ia menilai pendampingan tersebut menjadi salah satu dorongan yang membuat Mak Judess dapat terus berkembang dan memperluas pasar. Berbagai pelatihan yang diikuti juga membantu dirinya memahami strategi pengembangan usaha, mulai dari peningkatan kualitas produk hingga memperluas pemasaran.

Bagi Ayu, dukungan yang diterima bukan sekadar tentang bertambahnya skala usaha. Akan tetapi juga tentang keyakinan untuk terus melangkah lebih jauh.

“Kadang pelaku UMKM itu bukan hanya butuh modal, tetapi juga butuh pendampingan dan orang yang percaya bahwa usaha kita bisa berkembang,” katanya.

Salah seorang pelanggan Mak Judess, Rina (35), mengaku pertama kali mengenal produk sambal tersebut dari rekomendasi rekannya sekitar dua tahun lalu. Sejak saat itu, ia mengaku mulai rutin membeli beberapa varian produk, terutama sambal tuna yang menurutnya memiliki rasa berbeda dibanding sambal kemasan lain yang pernah ia coba.

“Awalnya saya coba karena penasaran, karena teman bilang sambalnya punya rasa khas. Setelah saya coba ternyata memang berbeda. Pedasnya terasa, tapi bukan yang langsung menyengat. Rempah-rempahnya juga kuat, jadi rasanya lebih kaya. Saya paling sering beli sambal tuna karena cocok dimakan dengan apa saja, baik dengan ikan goreng, ayam, bahkan kadang cuma dengan nasi hangat saja sudah enak,” ujarnya.

Menurut dia, selain rasa, hal lain yang membuatnya kembali membeli produk tersebut adalah kesan sambal rumahan yang masih terasa pada setiap varian yang dipasarkan.

“Biasanya sambal kemasan itu rasanya terlalu seragam, tapi ini seperti sambal yang dibuat di rumah. Jadi ada rasa khas yang bikin orang ingin makan lagi,” katanya.

Pelanggan lainnya, Fajar (29), juga mengaku tertarik mencoba Mak Judess setelah melihat rekomendasi produk tersebut dari media sosial dan sejumlah temannya. Ia mengaku awalnya tidak memiliki ekspektasi tinggi, tetapi setelah mencoba salah satu varian, ia justru menjadi pelanggan tetap.

“Saya pertama kali coba sambal cuminya. Awalnya cuma penasaran saja karena banyak yang bilang enak. Ternyata setelah dicoba memang rasanya berbeda. Yang saya suka itu perpaduan rasa pedasnya pas, terus ada cita rasa seafood yang masih terasa kuat. Jadi tidak seperti sambal biasa,” tuturnya.

Menurut Fajar, kepraktisan produk juga menjadi nilai tambah, terutama bagi dirinya yang memiliki aktivitas cukup padat.

“Kadang kalau pulang kerja sudah capek, tinggal siapkan nasi dan lauk sederhana lalu tambah sambal ini sudah cukup. Praktis, tapi rasanya tetap seperti makanan rumahan. Itu yang menurut saya jadi kelebihannya,” ucapnya.

Koordinator Rumah BUMN Makassar, Ayu Anisela, mengatakan perkembangan Mak Judess menjadi salah satu contoh bagaimana pelaku UMKM lokal dapat tumbuh ketika memiliki produk yang kuat dan mendapatkan pendampingan yang berkelanjutan. Menurut dia, pelaku UMKM tidak hanya membutuhkan dukungan dari sisi permodalan, tetapi juga penguatan kapasitas usaha, mulai dari peningkatan kualitas produk, pengemasan, pemasaran, hingga perluasan jaringan pasar.

“Kami melihat Mak Judess memiliki potensi yang besar karena tidak hanya menghadirkan produk dengan cita rasa khas lokal, tetapi juga memiliki dampak sosial melalui pemberdayaan masyarakat sekitar. Hal seperti ini penting karena UMKM bukan hanya tentang pertumbuhan usaha, tetapi juga bagaimana memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, pendampingan terhadap UMKM diharapkan dapat membantu pelaku usaha untuk naik kelas dan memiliki daya saing lebih luas, termasuk menembus pasar nasional hingga internasional.

“Harapannya, semakin banyak UMKM lokal yang mampu berkembang dan menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lainnya untuk terus berinovasi dan berani memperluas pasar,” ulasnya. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ayah YTR Sebut Sedot Nanah di Kepala Putrinya Pakai Mulut hingga Setara 5 Gelas Besar
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Susunan Pemain Jepang vs Swedia: Samurai Biru Turunkan Kekuatan Terbaik, Viktor Gyokeres Jadi Andalan Blagult
• 15 jam lalumedcom.id
thumb
Kekayaan HNWI Global Tembus USD98,3 Triliun, BRI Private Dorong Pentingnya Perencanaan Waris
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Laba Bank Mandiri (BMRI) Tembus Rp23,3 Triliun hingga Mei 2026
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Live! Purbaya Sidak Pabrik Baja hingga ASN Tewas di Mobil Dinas
• 13 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.