HARIAN.FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Fabio Cannavaro patut waspada. Lawan mereka di partai terakhir babak penyisihan Grup K tidak ringan, Republik Demokratik Kongo.
Kualitas Les Leopards tidak sembarangan. Mereka tampaknya bakal menjadi lah satu kuda hitam di perhelatan sepak bola paling bergengsi ini. Perjalanan mereka tidak ringan, semua dimulai dari babak grup zona Afrika.
Kala itu mereka tergabung di dalam grup B bersama nama-nama besar, seperti Nigeria, Senegal, Sudan, juga Sudan Selatan, dan Togo. Sepanjang fase grup, mereka sukses keluar sebagai runner up bersama Senegal sebagai juara grup.
Selama fase grup mereka mencatatkan tujuh kemenangan, satu kali imbang, dan dua kali kalah. Mereka menutup fase grup dengan torehan 22 poin, hanya tertinggal dua poin dari Senegal.
Menariknya, mereka sukses menyingkirkan Nigeria, yang notabenenya merupakan salah satu nama unggulan untuk mewakili Afrika. Termasuk juga Jamaika, yang mereka singkirkan dalam babak play off antar benua.
Tidak berhenti di situ, mereka terus memberi kejutan dengan menahan imbang Portugal 1-1 pada laga pembuka Grup K di putaran final. Kemudian, mereka juga hanya kalah tipis 1-0 dari Kolombia pada laga kedua. Hasil ini menempatkan mereka bertengger di peringkat tiga klasemen sementara dengan koleksi satu poin.
- Kombinasi Spirit dan Pengalaman
Pengalaman Arthur Masuaku sebagai pemain senior tentu tidak bisa dinafikan lagi. Itu sudah terbukti dalam dua laga babak penyisihan grup K Piala Dunia kali ini.
Sebagai wing back kiri, dia benar-benar stabil dalam memainkan perannya. Solid dalam membendung serangan lawan, juga lihai dalam menobrak-abrik barisan pertahanan lawan.
Pada laga kontra Portugal, pemain Sunderland yang dipinjamkan ke RC Lens itu menjadi pemain yang cukup menonjol. Berkali-kali menghalau serangan CR7 dan kolega. Selain itu, dia juga menjadi penyumbang assist kepada Yoane Wissa pada menit ke-45+5, untuk menyamakan kedudukan.
Kemudian pada laga kontra Kolombia, dia juga tampil sangat baik. Mampu menahan gempuran James Rodriguez dan kolega, bahkan sempat sukses melakukan offside trap pada gol pertama Kolombia.
Namun dia tidak bermain ful. Pada menit ke-72 dia ditarik keluar dan digantikan oleh Joris Kayembe. Nahasnya, hanya berselang empat menit setelah dia ditarik keluar, RD Kongo kebobolan dan itu terjadi dari lini yang ditinggalkan Masuaku.
Sementara Noah Sadiki, dia jelas memiliki spirit dan motivasi besar. Sebagai pemain muda, mobilitasnya cukup tinggi dalam menjaga keseimbangan lapangan tengah.
Dia juga sudah terlibat dalam dua laga Kongo di Piala Dunia kali ini. Hanya saja, dia memang selalu masuk sebagai pemain pengganti, untuk menjaga lapangan tengah tetap stabil.
Pada laga kontra Portugal dia masuk pada menit ke-57 menggantikan Ngal’ayel Mukau. Penampilannya baik, dengan catatan 100 persen umpan sukses, dua tekel dan satu di antaranya sukses.
Kemudian pada laga kontra Kolombia dia masuk pada awal babak kedua, juga menggantikan Ngal’ayel Mukau. Selama 45 menit di atas lapangan, tingkat keberhasilan umpannya mencapai 81,3 persen, satu crossing sukses, dan dua tekel dengan catatan bersih dari pelanggaran.
Jika kedua pemain tersebut diturunkan bersamaan pada laga kontra Uzbekistan, bukan tidak mungkin RD Kongo tampil lebih beringas, sekaligus mengunci kemenangan.
Noah Sadiki. IST- Berpeluang Menggeser Portugal
Pada laga terakhir babak penyisihan Grup K Piala Dunia 2026, RD Kongo akan menghadapi wakil Asia, Uzbekistan.
Ini tentu menjadi momentum bagi mereka untuk bisa mengunci jatah ke fase gugur. Bahkan Kongo bisa saja keluar sebagai runner up menggeser Portugal.
Akan tetapi hal ini baru bisa terjadi dengan catatan mereka mampu mengalahkan Uzbekistan dan Portugal kalah atas Kolombia. Selain itu, produktivitas gol juga tentu akan menjadi penentu.
Namun jika Portugal menang atau bermain imbang kontra Kolombia, kemudian mereka memenangkan laga kontra Uzbekistan, maka mereka akan lolos sebagai peringkat tiga terbaik dengan koleksi empat poin.
Itu sebabnya, Uzbekistan harus waspada kepada RD Kongo, tidak terkecuali dua punggawa Sunderland, Arthur Masuaku dan Noah Sadiki. Mereka kerap luput dari pengawasan, tetapi tidak berhenti menebar ancaman.
Jika mereka berhasil lolos dari fase grup, maka RD Kongo akan melampaui capaian mereka pada Piala Dunia 1974 silam. Sebab saat itu, mereka tersingkir di fase grup dan gagal melaju ke babak knockout. (wid)




