Dari permukaan, Nagoya tampak seperti kota modern pada umumnya. Gedung-gedung bertingkat menjulang, kereta melintas nyaris tanpa jeda, dan jutaan orang menjalani aktivitas setiap hari. Namun, di bawah kota itu terbentang dunia lain yang jarang terlihat: jaringan perpipaan raksasa yang mengalirkan air bersih ke rumah-rumah penduduk sekaligus mengumpulkan air limbah untuk diolah kembali. Sistem itulah yang memungkinkan siklus air terus berlangsung tanpa henti di Nagoya dan banyak kota lain di Jepang.
Di ”Negeri Sakura”, air tidak hanya dimurnikan. Air dikelola sepanjang siklus kehidupannya, mulai dari saat diambil dari alam, dimurnikan, digunakan oleh penduduk, hingga dikembalikan lagi ke lingkungan.
Gambaran tentang pentingnya air mulai terekam saat Kompas mengunjungi Nagoya Water Festival di kawasan Instalasi Pengolahan Air Nabeyaueno, Minggu (7/6/2026). Di tengah rintik hujan, ribuan warga berdatangan bersama keluarga mereka. Anak-anak mengikuti berbagai permainan edukatif, sementara orangtua mengajak mereka mengenal proses penyediaan air bersih dan pengolahan air limbah yang menopang kehidupan kota.
Di tengah keramaian itu, Yoshida Takuji, Asisten Direktur Divisi Promosi Kemitraan Biro Air Kota Nagoya, ikut menemani. Kami berkeliling di area festival yang digelar di kompleks instalasi pengolahan air yang telah beroperasi sejak 1914 tersebut. Dari museum air hingga arena permainan anak-anak, pesan yang ingin disampaikan tampak sama: air bukan sekadar komoditas yang mengalir dari keran, melainkan sumber kehidupan yang harus dijaga bersama.
Hari Senin (8/6/2026), pesan serupa kembali mengemuka dalam pertemuan di Balai Kota Nagoya bersama anggota staf Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia dan Chubu. Yoshida menjelaskan bagaimana kota berpenduduk 2,33 juta itu Nagoya mengelola air bersih dan air limbah sebagai satu sistem yang terhubung. Air yang diambil dari alam harus dapat dimanfaatkan masyarakat secara aman, lalu dikembalikan lagi ke lingkungan tanpa mencemari ekosistem.
Seluruh sistem itu bermula dari Sungai Kiso. Dari aliran sungai yang berhulu di pegunungan Prefektur Nagano tersebut, air dialirkan menuju instalasi pengolahan sebelum akhirnya mengalir ke jutaan keran di Kota Nagoya. Selama lebih dari satu abad, Sungai Kiso menjadi nadi yang memasok kebutuhan air bersih bagi kota metropolitan itu.
Jaringan perpipaan yang membentang di bawah Nagoya tidak hanya mengalirkan air bersih ke rumah tangga, sekolah, kantor, rumah sakit, dan kawasan industri, tetapi juga mengumpulkan kembali air limbah untuk diolah sebelum dilepas ke lingkungan. Semua itu berjalan berdampingan dengan berbagai infrastruktur lain, mulai dari jaringan kereta api, kabel listrik, hingga utilitas perkotaan lainnya.
Namun, di balik berbagai penjelasan tersebut, satu pertanyaan terus mengusik: bagaimana sebenarnya perjalanan air itu dimulai sebelum akhirnya mengalir ke jutaan rumah warga?
Rasa penasaran itulah yang membawa Kompas ditemani anggota staf JICA Indonesia dan Chubu meninggalkan Nagoya menuju Hamamatsu, sebuah kota di Prefektur Shizuoka yang berjarak sekitar 45 menit perjalanan dengan Shinkansen. Jika Nagoya memperlihatkan bagaimana air dikelola setelah memasuki kehidupan kota, Hamamatsu menawarkan kesempatan untuk melihat dari dekat bagaimana air baku diambil dari alam, dijernihkan, diuji, lalu didistribusikan kepada masyarakat.
Setiba di kompleks pengolahan air milik Pemerintah Kota Hamamatsu, kami diterima dengan ramah oleh Direktur Senior Hamamatsu City Water Services Department Hidehiko Nakatsugawa. Nakatsugawa memaparkan gambaran umum sistem penyediaan air bersih yang melayani kota tersebut. Setelah itu, ia meminta sejumlah anggota staf mendampingi saya melihat langsung tahapan pengolahan air di lapangan.
Tur lapangan dipandu oleh Ayato Iwagaya, Shinichi Ose, dan Yamada. Dari bak penerima air baku hingga unit filtrasi, mereka menjelaskan fungsi setiap fasilitas dengan rinci. Menariknya, Ose dan Yamada ternyata pernah menjadi instruktur dalam program pelatihan bagi petugas Perumda Tirtawening Kota Bandung pada 2025. Di sela-sela penjelasan mengenai sistem air Hamamatsu, keduanya beberapa kali mengenang pengalaman mereka di Bandung dan berbagai diskusi mengenai tantangan pengelolaan air perkotaan di Indonesia.
Di kompleks pengolahan air Hamamatsu, perjalanan air dimulai dari sebuah bak penerima raksasa. Air itu bersumber dari Sungai Tenryū yang berhulu di Danau Suwa. Sebelum masuk ke tangki berdiameter 10 meter dan berkedalaman 7,5 meter, laju air diperlambat dan distabilkan. Air yang masih keruh dan membawa berbagai partikel alam seolah ”ditenangkan” terlebih dahulu sebelum diproses lebih lanjut.
Dari sana, air mengalir menuju kolam pencampuran. Di sini, bahan-bahan pengolah ditambahkan dan diaduk secara mekanis agar partikel-partikel halus yang melayang di dalam air menggumpal dan lebih mudah dipisahkan. Tahap berikutnya membawa air ke kolam pengendapan. Lumpur dan material yang tidak diinginkan perlahan turun ke dasar, sementara air yang lebih jernih bergerak menuju proses berikutnya.
Seorang petugas kemudian menunjukkan tiga botol plastik sederhana. Botol pertama berisi air baku berwarna kecoklatan yang baru tiba di instalasi. Botol kedua memperlihatkan air setelah melalui pengendapan. Pada botol ketiga, air telah berubah bening seperti yang keluar dari keran rumah warga. Tiga botol itu merangkum perjalanan panjang yang biasanya tidak terlihat oleh masyarakat.
Perjalanan air belum selesai. Setelah pengendapan, air memasuki unit filtrasi. Di sinilah air disaring melalui lapisan media penyaring untuk menangkap partikel-partikel yang masih tersisa. Menariknya, fasilitas ini juga memperlihatkan bagaimana media penyaring tersebut dirawat. Sebuah diagram menjelaskan mekanisme pencucian pasir filter secara berkala menggunakan aliran air dan udara bertekanan.
Bahkan, alat yang digunakan untuk membersihkan air pun harus dibersihkan secara rutin agar tetap bekerja optimal. Mekanisme itu ingin memastikan bahwa sepanjang siang dan malam air yang dikonsumsi 778 ribu jiwa penduduk Kota Hamamatsu sudah melewati proses sarigan yang ketat.
Salah satu pemandangan yang paling membekas justru berada di ruang penyimpanan material residu pengolahan. Di sana tampak tumpukan besar kerak dan lumpur hasil pengendapan yang telah dipisahkan dari air baku. Material berwarna abu-abu kehitaman itu menjadi bukti fisik dari kotoran yang berhasil disingkirkan sebelum air dialirkan ke rumah-rumah warga.
”Tumpukan kerak ini biasa dibeli pengusaha yang bergerak di pertamanan. Sebetulnya ini residu yang bernilai ekonomi, tapi itu bukan tujuan utama,” kata salah seorang anggota staf di Hamamatsu.
Selama ini masyarakat hanya melihat hasil akhirnya berupa air jernih yang keluar dari keran dan langsung bisa diminum. Hamamatsu memperlihatkan proses panjang yang membuat kejernihan itu menjadi mungkin.
Namun, yang menarik dari Hamamatsu bukan hanya teknologinya. Pada hari kunjungan itu, sekitar dua bus siswa sekolah dasar datang ke kompleks instalasi air. Mereka berkeliling mengikuti penjelasan petugas, mengamati bak-bak pengolahan, melihat contoh perubahan air dari keruh menjadi jernih, serta mempelajari bagaimana penyaringan berlangsung.
Di salah satu titik, anak-anak itu berkerumun di dekat tabung raksasa penampung air baku sebelum proses filtrasi. Sebagian mengangguk, sebagian lain mengajukan pertanyaan kepada petugas. Bagi mereka, kunjungan tersebut mungkin hanya bagian dari kegiatan belajar di luar kelas. Namun, pemandangan itu memperlihatkan bagaimana kesadaran tentang pentingnya air ditanamkan sejak dini. Ini adalah sebuah aktivitas wisata bernilai edukasi.
Pemandangan ini mengingatkan berbagai praktik pendidikan yang Kompas amati selama berada di Jepang, awal Juni lalu. Jika dalam shokuiku anak-anak diajarkan menghargai makanan dan memahami asal-usul pangan yang mereka konsumsi, di Hamamatsu mereka diajak memahami perjalanan air yang menopang kehidupan sehari-hari. Kesadaran itu tidak muncul ketika seseorang sudah dewasa, tetapi harus ditanamkan sejak usia sekolah.
Apa yang terekam di Nagoya dan Hamamatsu sesungguhnya memperlihatkan gambaran utuh tentang cara Jepang menghargai air. Di Hamamatsu, penghargaan itu tampak dalam ketelitian mengolah setiap tetes air sebelum dialirkan ke rumah-rumah warga. Di Nagoya, penghargaan yang sama hadir dalam upaya mengumpulkan, mengolah, dan mengembalikan air bekas pakai ke lingkungan secara aman. Meski berada di dua kota dan dua prefektur berbeda, keduanya memperlihatkan pandangan yang sama: air adalah sumber kehidupan yang harus dijaga sepanjang siklusnya. Kesadaran itu telah dibangun sejak lebih dari seabad lalu dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Pengalaman itu terasa dekat dengan Indonesia. Hamamatsu, misalnya, telah menjalin kerja sama dengan Kota Bandung dalam bidang pengelolaan air sejak 2014. Dalam hal ini, berlangsung transformasi teknologi dari Hamamatsu dan Kota Bandung yang saat ini sudah memasuki kerja sama tahap kedua. Salah satu aspek yang ditekankan adalah dukungan pengembangan kapasitas untuk perawatan pipa yang berkelanjutan.
Saat memaparkan hal ini, Shinichi Ose dan Yamada menunjukkan sejumlah sampel pipa dan perangkat sambungannya yang digunakan di Jepang. Perangkat itu lentur terhadap pergerakan tanah dan tahan korosi. ”Dijamin tak akan lepas dari sambungannya ketika ada sentakan tanah bergerak, termasuk gempa, serta tidak berkarat,” kata Ose.
Keterlibatan Jepang dalam sektor air di Indonesia sesungguhnya jauh lebih luas daripada hubungan Hamamatsu dan Bandung. Melalui JICA, berbagai proyek penyediaan air bersih dan pengelolaan air limbah telah dijalankan sejak tahun 1990-an di sejumlah daerah.
Jejak kerja sama tersebut dapat ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia. Di Bali, JICA mendukung pengembangan sistem pengelolaan air limbah perkotaan melalui Denpasar Sewerage Development Program. Di Jakarta, kerja sama serupa diwujudkan melalui pembangunan sistem sewerage dan peningkatan layanan air minum. Bahkan, di Sulawesi Selatan, JICA ikut terlibat dalam pengembangan Instalasi Pengolahan Air Somba Opu yang memasok kebutuhan air bersih bagi kawasan Makassar dan sekitarnya.
Jejak-jejak kerja sama tersebut menunjukkan bahwa pengalaman yang tampak di Nagoya dan Hamamatsu sesungguhnya tidak sepenuhnya asing bagi Indonesia. Sebagian pengetahuan, teknologi, dan tata kelola yang dikembangkan Jepang telah lama diperkenalkan ke sejumlah daerah di Tanah Air.
Meski demikian, tantangan besar masih membayangi sektor air minum nasional. Menurut data Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi), tingkat kehilangan air (non-revenue water/NRW) secara nasional masih berada di angka 33 persen. Di sejumlah daerah, angkanya bahkan dapat berkisar 50-70 persen. Artinya, dari setiap 100 liter air yang diproduksi dan diolah, sebagian tidak pernah sampai menjadi layanan yang efektif bagi pelanggan karena hilang akibat kebocoran jaringan, ketidakakuratan meter, pencurian air, ataupun persoalan administrasi.
Karena itu, akademisi Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) belakangan menaruh perhatian besar pada pengalaman Hamamatsu. Dalam kunjungan mereka ke kota tersebut, Mei lalu, tim ITB mencatat tingkat kehilangan air di Hamamatsu dapat ditekan hingga di bawah 10 persen. Kunjungan mereka diunggah melalui saluran media sosial resmi.
Menariknya, menurut mereka, keberhasilan tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh teknologi. Yang lebih menentukan adalah kepemimpinan yang kuat, tata kelola yang konsisten, pembiayaan yang berkelanjutan, serta pemanfaatan data dan digitalisasi dalam pengelolaan sistem air minum.
Pandangan itu terasa masuk akal setelah melihat langsung apa yang terjadi di Hamamatsu dan Nagoya. Air tidak hanya diproses dan didistribusikan, tetapi juga terus dipantau, diukur, diuji, dan dijaga agar tidak hilang sia-sia. Bahkan, media penyaring yang digunakan untuk membersihkan air pun dibersihkan secara berkala agar tetap bekerja optimal.
Yang lebih menentukan adalah kepemimpinan yang kuat, tata kelola yang konsisten, pembiayaan yang berkelanjutan, serta pemanfaatan data dan digitalisasi dalam pengelolaan sistem air minum.
Dalam perspektif tersebut, setiap tetes air yang berhasil diselamatkan sesungguhnya sama berharganya dengan menemukan sumber air baru. Di balik pipa, pompa, laboratorium, kolam pengolahan, instalasi air limbah, dan jaringan bawah tanah yang membentang di kota-kota Jepang, tersimpan sebuah keyakinan sederhana: menjaga air berarti menjaga kehidupan itu sendiri.





