Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran. Teheran dtuding telah melanggar perjanjian gencatan senjata dengan menyerang kapal dagang di Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam dan memastikan akan memberikan respons atas insiden tersebut. Ia mengaku kecewa dengan dugaan serangan yang dilakukan musuh terhadap kapal komersial sehari sebelumnya.
Baca Juga: Ikuti Upaya 'Kudeta' Amerika, Militer Israel Suarakan Ketidaksukaan terhadap Netanyahu
"Saya tidak suka dengan fakta bahwa mereka melepaskan serangan kemarin. Mereka seharusnya tidak melakukan itu," ujar Trump, dikutip Sabtu (27/6).
Trump menegaskan negaranya akan merespons.
"Kami akan memberikan respons. Anda akan mengetahuinya," katanya.
Adapun Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM), tak lama setelah pernyataan tersebut, mengumumkan bahwa pasukannya telah menyerang sejumlah lokasi penyimpanan rudal, gudang drone serta fasilitas radar milik dari Iran.
Menurutnya, operasi tersebut merupakan respons atas dugaan serangan terhadap kapal kargo berbendera Singapura, M/V Ever Lovely. Ia disebut dihantam drone serang satu arah saat keluar dari Selat Hormuz di 25 Juni.
Militer Amerika menyebut serangan terhadap kapal dagang tersebut sebagai tindakan agresi yang tidak beralasan dan dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata, sekaligus mengancam kebebasan navigasi di salah satu jalur pelayaran terpenting dunia.
"CENTCOM terus memberikan koordinasi jalur pelayaran yang aman dan dukungan kepada kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz," demikian pernyataan resmi komando militer tersebut.
CENTCOM juga menegaskan pasukannya tetap disiagakan penuh untuk menjaga keamanan kawasan dan mengawal lalu lintas kapal dagang yang melewati perairan strategis tersebut.
Baca Juga: Kakak Yuvita Tak Mau Taufik Hidayat Dihukum Mati: Saya Pengen Dia Diserahkan ke Keluarga
Hingga kini, Iran belum memberikan tanggapan resmi terkait serangan terbaru Amerika Serikat. Sementara itu, ketegangan antara kedua negara kembali meningkat meski sebelumnya telah diumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata.





