Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan militer. Washington, pada Jumat (26/6), menuduh Teheran telah melanggar gencatan senjata dengan menyerang sebuah kapal kargo di Selat Hormuz.
Situasi terbaru ini mengancam kesepakatan damai awal, yang mengatur gencatan senjata di kawasan Timur Tengah sembari negosiasi lanjutan dilakukan untuk mengakhiri konflik secara permanen.
Komando Pusat AS (CENTCOM), seperti dilansir AFP, Sabtu (27/6/2026), mengatakan bahwa serangan AS merupakan respons terhadap "agresi yang tidak beralasan oleh pasukan Iran terhadap pelayaran komersial" yang "secara jelas melanggar gencatan senjata".
CENTCOM mengumumkan bahwa pasukan AS menargetkan lokasi penyimpanan rudal dan drone, serta posisi radar pesisir, milik Iran.
"Respons tegas terhadap serangan kemarin terhadap sebuah kapal komersial yang sedang melintasi Selat Hormuz," tegas CENTCOM dalam pernyataannya.
Televisi pemerintah Iran, dengan mengutip salah satu reporternya di Sirik, melaporkan bahwa sebuah ledakan terdengar pada Jumat (26/6) tengah malam di dermaga Taherouyeh di bagian selatan kota pelabuhan tersebut.
Seorang sumber militer setempat menyebut ledakan itu disebabkan oleh hantaman sebuah proyektil di area tersebut.
Presiden AS Donald Trump mengecam apa yang disebutnya sebagai serangan drone Iran terhadap sebuah kapal kargo. "Jelas sekali, ini adalah pelanggaran bodoh terhadap perjanjian gencatan senjata kita," sebutnya.
(nvc/dhn)





