Bisnis.com, JAKARTA – Tiga pabrikan otomotif global, Toyota, Subaru, dan Lexus, menerbitkan perintah penarikan kembali (recall) massal yang mencakup hampir 21.000 unit mobil listrik setelah ditemukan adanya cacat perangkat lunak pada unit kontrol elektronik (ECU) baterai yang berisiko membuat kendaraan mati mendadak tanpa peringatan.
Kebijakan penarikan ini menjadi sorotan tajam bagi ekosistem kendaraan listrik (EV) mengingat dampaknya yang langsung melumpuhkan sistem penggerak utama di jalan raya.
Berdasarkan laporan dari Carscoops, Sabtu (27/6/2026) kendala teknis ini memaksa pemilik kendaraan segera mendatangi diler resmi guna mendapatkan pembaruan perangkat lunak demi menghindari risiko mogok total yang membutuhkan bantuan truk derek.
Secara terperinci, penarikan kembali ini berdampak pada 20.991 unit kendaraan di pasar Amerika Serikat. Jumlah tersebut mencakup 11.495 unit Toyota seri bZ, 4.739 unit Lexus RZ, dan 4,757 unit Subaru Solterra yang diproduksi dalam rentang waktu antara April 2025 hingga April 2026.
Menurut dokumen Part 573 yang diserahkan Toyota kepada National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), seluruh kendaraan yang terdampak menggunakan ECU baterai pasokan dari Denso yang dilengkapi dengan perangkat lunak khusus pemicu malafungsi tersebut.
Akar permasalahan ini berpusat pada sistem manajemen baterai. Toyota menjelaskan komponen ECU baterai memiliki dua sirkuit terintegrasi yang sewaktu-waktu dapat menimpa data (overwrite) pada lokasi memori yang sama. Jika proses tumpang tindih data ini terjadi secara berulang, sistem operasi ECU akan gagal melewati uji validasi operasional internal.
Baca Juga
- Pabrik Otomotif Pindah ke Vietnam, Toyota (TMMIN) Soroti Daya Saing RI
- Insentif Mobil Listrik Ditunda Lagi, Tak Masuk Stimulus Ekonomi Semester II/2026
- Penjualan Mobil Listrik di Amerika Utara Anjlok Setelah Insentif Pajak Dicabut
Sebelum sistem mati, pengemudi akan melihat pesan peringatan bertuliskan “EV System Malfunction” disertai dengan beberapa lampu indikator yang menyala di panel instrumen.
Jika kegagalan memori terus berlanjut, sistem penggerak listrik dapat mati sepenuhnya. Meskipun fungsi kemudi power steering dan asisten pengereman tetap aktif, mobil kehilangan daya dorong sama sekali.
Kasus ini memiliki lini masa investigasi yang cukup panjang. Pada tahun 2025, saat melakukan pengembangan model kendaraan plug-in hybrid, tim insinyur Toyota sebenarnya sempat mengidentifikasi kondisi tumpang tindih memori yang serupa. Namun, saat itu manajemen menyimpulkan masalah ini tidak akan memengaruhi lini kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) karena siklus pengoperasiannya yang dinilai berbeda.
Asumsi tersebut terbukti keliru pada April 2026. Melalui peninjauan berkala terhadap data diagnostik jarak jauh, para insinyur menemukan bukti adanya kerentanan yang sama pada unit BEV. Pengujian lanjutan menunjukkan konflik memori rentan terjadi di bawah kondisi tertentu, termasuk saat beban kerja CPU meningkat ketika kondisi daya baterai sedang rendah (low state-of-charge).
Hasil pengujian internal Toyota mendeteksi malafungsi sistem ini bisa terjadi pada tingkat kecepatan berapa pun. Dampaknya bahkan berpotensi mengganggu fungsi keselamatan lain seperti Pre-Collision System (PCS) serta Vehicle Stability Control (VSC).
Meski pabrikan baru menerima satu klaim garansi terkait masalah ini dan belum ada laporan kecelakaan di lapangan, konsumen diminta segera melakukan pembaruan sistem ke diler terdekat tanpa perlu menghentikan pemakaian kendaraan secara total.





