Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Pada sabtu 20 juni 2026, Selat Hormuz yang menjadi 20% jalur perdagangan minyak yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, kembali ditutup lagi oleh pemerintah Iran. Bagi sebagian orang, peristiwa yang terjadi puluhan ribu kilometer dari Indonesia ini mungkin belum banyak sadari seberapa pentingnya Selat Hormuz ini. Namun, dalam ekonomi global yang saling terhubung, apa yang sudah terjadi di selat tersebut dapat dengan cepat merambat ke perekonomian indonesia, salah satunya melalui pelemahan nilai tukar rupiah dan naiknya harga bahan bakar.
Mengapa Selat Hormuz Begitu Penting
Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa. Pada titik tersempitnya, lebar selat ini hanya puluhan kilometer, tetapi melaluinya mengalir sekitar seperlima kebutuhan minyak mentah dunia setiap harinya. Banyak negara-negara penghasil minyak besar diantara seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab yang sangat bergantung pada Selat Hormuz ini sebagai satu-satunya pintu keluar bagi kapal yang mengakut minyak ke pasar internasional.
Ketika jalur vital ini terganggu, baik karena blokade militer, ancaman serangan terhadap kapal tanker, maupun ketidakpastian keamanan pelayaran, pasokan minyak dan gas alam cair ke pasar dunia ikut tersendat. Hal ini menimbulkan kepanikan bagi sebagian sebagian negara yang memang tidak memiliki banyak cadangan minyak dan juga masih bergantung pada impor.
Mekanisme Efek Domino
Kenaikan harga minyak dunia yang cukup signifikan tidak berhenti di pasar energi saj. Pertama, biaya produksi di berbagai industri ikut naik karena energi merupakan komponen biaya yang signifikan, mulai dari transportasi, manufaktur, hingga penerbangan. Kedua, ketidakpastian geopolitik mendorong investor global mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas atau surat utang negara maju, sehingga terjadi pergerakan modal keluar dari pasar negara berkembang. Ketiga, mata uang dolar Amerika Serikat malah semakin menguat di tengah situasi krisis semacam ini karena dollar sebagai mata uang cadangan utama dunia.
Bagi negara seperti Indonesia, yang masih bergantung pada impor minyak mentah untuk memenuhi sebagian kebutuhan domestik, kombinasi ketiga faktor tersebut menciptakan tekanan berlapis. Bukan hanya harga minyak saja yang mengalami kenaikan, melainkan juga nilai tukar yang harus digunakan untuk membayar impor tersebut ikut melemah.
Dari Harga Minyak ke Pelemahan Rupiah
Mekanisme pelemahan rupiah dalam situasi semacam ini dapat dijelaskan melalui beberapa tahap. Ketika harga minyak dunia naik akibat ditutupnya kembali Selat Hormuz, kebutuhan devisa untuk membiayai impor minyak dan produk turunannya turut meningkat. Permintaan dolar Amerika Serikat yang lebih tinggi ini menambah tekanan pada pasokan rupiah di pasar valuta asing.
Selain faktor impor, sentimen risiko global yang terus meningkat membuat investor asing cenderung menarik dananya dari instrumen keuangan domestik, baik di pasar saham maupun pasar obligasi, untuk dialihkan ke aset yang lebih aman. Aliran modal keluar atau yang sering disebut capital outflow ini juga menambah tekanan jual terhadap rupiah. Sebagai gambaran, dalam beberapa episode ketegangan terkait Selat Hormuz sepanjang tahun ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tercatat melemah hingga menyentuh di angka tujuh belas ribu rupiah lebih, hal ini membuat beban biaya impor dan pembayaran utang luar negeri berdenominasi dolar.
Pelemahan rupiah saat ini di sebut sebagai inflasi impor atau imported inflation. Barang-barang dengan komponen bahan baku impor, termasuk bahan bakar minyak, menjadi lebih mahal dalam denominasi rupiah. Tekanan ini pada akhirnya yang dirasakan oleh masyarakat melalui kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya logistik, sekaligus membebani anggaran pemerintah yang harus menanggung subsidi energi lebih besar dari yang direncanakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Respons Bank Indonesia dan Pemerintah
Menghadapi tekanan tersebut, Bank Indonesia tidak hanya tinggal diam saja. Sebagai otoritas moneter, Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar valuta asing melalui berbagai instrumen, baik di pasar spot domestik maupun melalui transaksi non-deliverable forward di luar negeri, untuk menahan pelemahan rupiah agar tidak terlalu tajam. Bank Indonesia juga memperkuat daya tarik instrumen rupiah seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia guna menahan aliran modal keluar, serta melakukan pembelian surat berharga negara di pasar sekunder secara terukur untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Di sisi fiskal, pemerintah dihadapkan pada dilema antara menjaga daya beli masyarakat melalui subsidi energi dan menjaga kesehatan anggaran negara. Ketika harga minyak dunia bertahan tinggi dalam waktu lama, beban subsidi dapat membengkak secara signifikan, sehingga pemerintah perlu melakukan penyesuaian belanja di pos lain atau mencari sumber pembiayaan tambahan.
Penutup: Pelajaran bagi Ketahanan Ekonomi Nasional
Krisis Selat Hormuz tahun ini sekali lagi menegaskan bahwa ekonomi Indonesia sangat berpengaruh terhadap geopolitik global, sekecil apa pun jaraknya secara geografis. Ketergantungan pada impor minyak membuat Indonesia rentan terhadap kenaikan harga minyak. Efek domino dari penutupan Selat Hormuz hingga pelemahan rupiah memperlihatkan betapa cepat dan luasnya dampak suatu peristiwa geopolitik dapat menjalar ke perekonomian domestik.
Kedepanya hal ini menjadi evaluasi dan pengingat akan pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi sumber pasokan dan pengembangan energi terbarukan, sekaligus menjaga kredibilitas kebijakan moneter dan fiskal agar perekonomian Indonesia memiliki daya tahan yang lebih kuat ketika kajadian serupa kembali terjadi di masa mendatang.





