REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Dukungan moral dari para tokoh senior Nahdlatul Ulama terus mengalir kepada Gus Hery Haryanto Azumi yang menyatakan kesiapan maju dalam kontestasi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar NU ke-35.
Setelah bersilaturahim dengan sejumlah masyayikh di berbagai daerah, Kamis (25/6/2026) malam Gus Hery bersama rombongan berkunjung ke kediaman Ketua Umum PBNU periode 2010–2021, Prof KH Said Aqil Siroj, di Ciganjur, Jakarta Selatan.
Baca Juga
Hubungan Memanas, AS Waspadai Spionase Intelijen Israel hingga Level Membahayakan
Ilusi Perang Irak, Suriah, Lebanon, dan Iran: Hentikan Segera Israel Raya Jika Ingin Dunia Damai
Gagalnya Kemenangan Mutlak Netanyahu yang Merugikan Militer Israel
Pertemuan berlangsung hangat dalam suasana penuh kekeluargaan. Selain membahas dinamika Muktamar NU ke-35, dialog juga menyoroti tantangan kepemimpinan Nahdlatul Ulama pada abad kedua, penguatan peran pesantren, serta pentingnya menjaga persatuan warga nahdliyin di tengah proses regenerasi kepemimpinan organisasi.
Turut hadir dalam silaturahim tersebut Pendiri, Sekretaris Jenderal sekaligus Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Alumni Penerima Beasiswa Super Semar (KMAPBS) periode 1986–2002, KH Taufik Rachman Abdul Syakur.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Organisasi ini memiliki sejarah panjang dalam kaderisasi nasional, termasuk pernah dipimpin Presiden Prabowo Subianto sebagai Ketua Majelis Pertimbangan KMAPBS periode 1990–2003.
Rombongan Gus Hery dipimpin Koordinator Tim Dr Fadli Yasir didampingi Dr Eng Akhmad Khusyaeri, Coach A Syarief C, Syaiful Anwar, serta Dr Waki Ats Tsaqofi.
Dalam kesempatan tersebut, KH Said Aqil Siroj menyampaikan doa sekaligus restunya atas ikhtiar Gus Hery untuk mengikuti kontestasi Ketua Umum PBNU.
Menurutnya, setiap kader Nahdlatul Ulama yang memiliki niat tulus mengabdi kepada jam'iyah patut diberikan kesempatan untuk mempersembahkan pengabdian terbaiknya.
"Semoga Allah SWT memberikan jalan terbaik. Jika memang Allah mentakdirkan amanah kepemimpinan itu kepada Gus Hery, semoga diberikan kemudahan, kekuatan, dan keistiqamahan untuk memimpin NU dengan penuh keikhlasan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab," doa Kiai Said.
Kiai Said menegaskan bahwa kepemimpinan NU membutuhkan sosok yang tidak hanya memahami tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi juga memiliki kemampuan merangkul seluruh elemen jam'iyah serta mampu menjawab tantangan zaman.
Dia mengingatkan yang terpenting bagi seorang pemimpin NU adalah keikhlasan berkhidmat, keteguhan menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, serta kemampuan merangkul seluruh elemen jam'iyah.