Dalam sepekan terakhir, gelombang panas yang memecahkan rekor melanda berbagai wilayah Eropa. Di selatan Spanyol, suhu sempat mencapai 45°C, sementara pada 24 Juni, suhu maksimum di Paris mencapai 40,9°C, mencetak rekor suhu tertinggi untuk bulan Juni di kota tersebut. Gelombang panas ini telah menyebabkan lebih dari 40 kematian di Prancis.
EtIndonesia.com Pada 25 Juni, suhu di Paris masih bertahan di sekitar 40°C. Berbagai pusat pendinginan darurat hampir penuh oleh warga yang mencari perlindungan dari panas ekstrem. Pemerintah setempat bahkan mengubah aula pernikahan dan berbagai fasilitas umum lainnya menjadi tempat penyejukan sementara yang dibuka untuk masyarakat.
Untuk menghadapi cuaca ekstrem, objek wisata terkenal seperti Menara Eiffel dan Museum Louvre mempersingkat jam operasionalnya. Banyak wisatawan mengaku panas yang menyengat tidak hanya membuat kondisi fisik mereka tidak nyaman, tetapi juga mengacaukan rencana perjalanan.
Seorang wisatawan, Eddie Hong, mengatakan: “Kami benar-benar tidak bisa keluar pada siang hari. Bahkan saat malam tiba, cuacanya tetap tidak terasa sejuk.”
Wisatawan lain, Keegan Cronin, menuturkan: “Kami sebenarnya berencana pulang lebih awal karena cuacanya benar-benar terlalu panas.”
Menurut Badan Meteorologi Prancis, pada Rabu suhu rata-rata nasional mencapai 30°C, sementara suhu di Paris sempat menyentuh 40,9°C, menjadi rekor tertinggi untuk bulan Juni.
Yang lebih mengejutkan, beberapa wilayah di Prancis bahkan mencatat suhu 44,4°C, sedangkan wilayah selatan Spanyol mencapai 45°C. Prancis, Italia, Spanyol, dan Inggris telah mengeluarkan peringatan merah, yaitu tingkat kewaspadaan tertinggi untuk cuaca panas.
Ratusan Kematian Diduga Berkaitan dengan Gelombang PanasData menunjukkan bahwa di Spanyol, antara 21 hingga 24 Juni, terdapat 212 kasus kematian yang diduga berkaitan dengan gelombang panas.
Di Prancis, tiga anak ditemukan meninggal dunia di dalam mobil. Selain itu, sedikitnya 48 orang meninggal, dengan 40 diantaranya tenggelam ketika mencoba mendinginkan diri di air.
Kementerian Kesehatan Italia juga menetapkan Roma sebagai salah satu dari 16 kota dengan status peringatan merah akibat suhu ekstrem. Para ahli meteorologi memperkirakan kondisi akan semakin memburuk dalam beberapa hari mendatang, terutama di Italia bagian tengah dan utara, dengan puncak gelombang panas diperkirakan terjadi pada Minggu hingga Senin.
Fenomena “Heat Dome” Menjadi PenyebabPara ahli menjelaskan bahwa gelombang panas kali ini berkaitan dengan fenomena “heat dome” (kubah panas), yaitu kondisi ketika sistem tekanan tinggi menjebak udara panas di suatu wilayah sehingga panas terus terakumulasi dan suhu meningkat drastis.
Mereka juga menyoroti bahwa iklim musim panas di Eropa selama ini relatif lebih sejuk, sehingga banyak sekolah dan rumah tinggal tidak dilengkapi pendingin udara (AC). Jika suhu tinggi terus berlangsung, kondisi tersebut dapat menimbulkan risiko kesehatan yang serius bahkan mematikan.
Di Inggris, suhu 36,1°C yang tercatat pada Rabu juga menjadi rekor tertinggi untuk bulan Juni. Menghadapi panas berkepanjangan, serikat pekerja di negara itu melancarkan aksi yang dijuluki “mogok kerja karena panas”, mendesak pemerintah menetapkan standar suhu maksimum di tempat kerja serta mendorong perusahaan memasang pendingin udara atau mengambil langkah lain untuk melindungi keselamatan para pekerja.
Reporter NTD Television, Liu Jiajia, melaporkan.





