EtIndonesia.com Baru-baru ini, muncul kembali laporan bahwa popok bayi yang dijual di daratan Tiongkok diduga mengandung formamida (formamide), suatu senyawa kimia yang dianggap berpotensi membahayakan kesehatan. Isu ini memicu perdebatan luas di masyarakat.
Setelah muncul perselisihan antara jurnalis investigasi dan sejumlah merek terkait, pihak berwenang mengumumkan pembentukan tim investigasi gabungan, tetapi belum memberikan jadwal penyelesaian penyelidikan.
Pada 25 Juni, dua laporan pengujian lain yang beredar di internet kembali menunjukkan adanya kandungan formamida, sehingga memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat dan mendorong banyak warga Tiongkok pergi ke Hong Kong untuk membeli popok bayi.
Dua laporan pengujian beredar di internetMenurut laporan media Tiongkok Xin Huanghe pada 25 Juni, dua laporan uji yang diterbitkan oleh Lianxin Testing (Jiangsu) Co., Ltd. beredar luas secara daring.
Laporan pertama diajukan oleh Dalian Xintong Trading Co., Ltd. untuk produk popok bermerek Muzhi Angel (木织天使). Sampel diterima pada 22 Juni dan diuji pada 24–25 Juni menggunakan metode GC-MS (Gas Chromatography–Mass Spectrometry) dengan fokus pada kandungan formamida. Hasilnya menunjukkan kadar 384 mg/kg.
Laporan kedua berkaitan dengan popok merek Babycare Camellia (山茶花). Pengujian diminta oleh seorang individu, dengan sampel diterima pada 21 Juni dan diuji pada 23–24 Juni menggunakan metode yang sama. Hasil pengujian menunjukkan kandungan formamida sebesar 414 mg/kg.
Laboratorium membenarkan laporan, tetapi satu hasil diuji ulangKetika dikonfirmasi oleh media tersebut, pihak Lianxin Testing (Jiangsu) menyatakan bahwa kedua laporan tersebut memang diterbitkan oleh laboratorium mereka.
Namun, mereka juga menjelaskan bahwa laporan mengenai popok Muzhi Angel telah ditarik kembali pada 25 Juni pagi untuk dilakukan pengujian ulang, dan hasil terbaru masih belum tersedia.
Seorang staf perusahaan mengatakan bahwa pihak penjualan telah berkomunikasi dengan klien dan diperkirakan hasil pengujian baru baru akan tersedia pada malam hari atau keesokan harinya.
Sementara itu, laporan mengenai Babycare Camellia tidak ditarik kembali. Menurut pihak laboratorium, mereka hanya melakukan pengujian sesuai permintaan pelanggan terhadap parameter yang diminta.
Kontroversi yang terus berkembangPada 18 Juni, surat kabar Economic Information Daily (《经济参考报》) menerbitkan hasil investigasi yang menyatakan bahwa beberapa merek popok bayi di Tiongkok, termasuk Huggies (好奇), Babycare, dan Bibababy (碧芭宝贝), terdeteksi mengandung formamida yang disebut sebagai zat dengan potensi toksisitas terhadap sistem reproduksi.
Setelah laporan tersebut dipublikasikan, merek-merek yang disebutkan mengeluarkan hasil pengujian mereka sendiri untuk membantah tuduhan tersebut. Beberapa asosiasi industri juga menyampaikan klarifikasi yang mendukung posisi perusahaan. Selain itu, sebuah lembaga medis di Provinsi Shandong dan seorang ahli medis menyatakan bahwa mereka tidak pernah melakukan pengujian sebagaimana disebutkan dalam pemberitaan.
Keesokan harinya, jurnalis investigasi Wang Wenzhi, yang melaporkan kasus ini, mengunggah rekaman suara di media sosial dan mengklaim bahwa seorang pakar medis memberikan pernyataan bantahan karena mendapat tekanan.
Akibat munculnya berbagai klaim yang saling bertentangan, kasus ini menjadi semakin rumit dan menimbulkan kebingungan di kalangan publik.
Seruan penyelidikan resmiPada 21 Juni malam, Wang Wenzhi kembali menerbitkan surat terbuka berjudul: “Surat Terbuka kepada Otoritas Pengawas: Saya Hanya Membela Anak-anak yang Ditemukan Mengandung Formamida di Dalam Tubuh Mereka.”
Dalam surat tersebut, ia mendesak pemerintah Tiongkok untuk melakukan penyelidikan menyeluruh dan memberikan penjelasan kepada masyarakat.
Pada 22 Juni, Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar Tiongkok mengumumkan pembentukan tim investigasi gabungan yang melibatkan Administrasi Regulasi Pasar, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi, Komisi Kesehatan Nasional, serta Administrasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nasional untuk memverifikasi isu tersebut. Namun, pengumuman itu tidak menyebutkan batas waktu penyelidikan, dan produk-produk dari merek yang disebutkan masih dijual di pasaran.
Sejumlah analis berpendapat bahwa berulangnya persoalan keamanan pangan dan produk konsumen di Tiongkok mencerminkan tantangan dalam sistem pengawasan dan penegakan regulasi.
Warga Tiongkok membeli popok di Hong KongMenurut berbagai informasi yang beredar di internet, banyak orang tua di Tiongkok merasa khawatir dan enggan membeli popok di dalam negeri. Sebagian dari mereka memilih pergi ke Hong Kong untuk membeli produk tersebut.
Sejumlah pengguna internet menyebutkan bahwa di beberapa wilayah Hong Kong, seperti Sheung Shui, Tuen Mun, dan Sha Tin, yang banyak dikunjungi wisatawan dari Tiongkok daratan, popok tipe celana dan ukuran sedang hingga besar sempat mengalami kekurangan stok pada akhir pekan atau hari libur.
Beberapa toko ritel di kawasan perbatasan bahkan menerapkan pembatasan pembelian sebanyak dua hingga empat bungkus per pelanggan untuk memastikan ketersediaan barang bagi penduduk lokal.
Fenomena ini mengingatkan pada peristiwa tahun 2008, ketika skandal susu formula yang tercemar melamin di Tiongkok mendorong banyak orang tua pergi ke Hong Kong untuk membeli susu formula, sehingga sempat menyebabkan kelangkaan produk tersebut di wilayah itu.
Dilaporkan oleh Li Li / Diedit oleh Xu Gengwen – NTDTV.com





