Tantangan ini menuntut penggunanya untuk menghitung ulang setiap tetes bahan bakar yang masuk ke dalam ruang bakar. Di satu sisi, pengguna membutuhkan performa dan ketangguhan yang tidak berkurang. Namun di sisi lain, efisiensi dan kehematan kini telah bergeser dari sekadar pilihan, menjadi sebuah keharusan untuk bertahan.
Di sinilah dilema dan tantangan terbesar bagi masa depan diesel muncul. Bagaimana teknologi diesel masa kini dan nanti mampu menjawab tantangan harga bahan bakar yang semakin mahal, tanpa harus mengorbankan DNA ketangguhannya?
Forum Sidkom (Sidak Komunitas) dari OtoHub.co pun menggelar diskusi panel untuk mengelaborasi dan menjawab semua itu. Di diskusi panel ini menghadirkan praktisi yang membawa riset ilmiah, pabrikan yang memegang teknologi masa kini dan masa depan. Baca Juga:
Tak Cuma Mobil Bekas, OLX Tambah Fitur Pencarian Mobil Baru
Kemudian ada produsen pelumas yang menjaga performa tetap optimal, teknisi yang berpengalaman, dan spesialis mobil bekas yang memahami denyut nadi pasar riil. Di forum diskusi panel ini dihadirkan juga komunitas otomotif.
Di antaranya dari perwakilan Innova Community, SUV Brotherhood, D-Cab ID, ID42NER Bogor, dan Raize Indonesia Club. Komunitas bagian dari pengguna langsung yang merasakan suka dan duka memiliki mobil bermesin diesel.
Beberapa poin diskusi pun mengatakan bahwa mesin diesel akan menghasilkan tenaga lebih besar, konsumsi bahan bakar lebih hemat, dan emisi rendah. Tentunya dengan syarat penggunaan bahan bakar yang direkomendasi secara teknis secara tepat.
Kemudian juga mobil bermesin diesel diciptakan sebagai mesin yang tangguh. Ratusan ribu kilometer bermula dari perawatan yang benar hari ini. Performa maksimal, efisien, dan umur komponen lebih bukanlah kebetulan. Melainkan hasil dari kedisiplinan dalam merawat mobil diesel.
Produksi diesel dari pabrikan kendaraan bukan reaksi terhadap pasar. Tapi, ini eksekusi dari strategi yang direncanakan. Mesin diesel tetap digemari karena ada pengguna yang memang menyukai karena mesin tangguh dan bahan bakar efisien. Baca Juga:
Memahami Perbedaan Rest Area Tipe A, B Dan C di Jalan Tol
Ke depannya teknologi diesel harus semakin bersih dan mesin lama mulai tergantikan oleh modern diesel. Dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr.-Ing. Ir. Tri Yuswidjajanto Zaenuri mengatakan bahwa awalnya mesin diesel diciptakan sebagai mesin yang tangguh.
"Prinsipnya mesin diesel memiliki daya yang tinggi dengan konsumsi bahan bakar yang hemat dan rendah emisi. Syarat ini bisa tercapai dengan pemakaian bahan bahar dengan Cetane Number (CN) atau angka setana yang direkomendasi sesuai kebutuhan mesin. Angka setana semakin tinggi akan mempercepat proses pembakaran," ujar Prof Yus, sapaan akrabnya.
Ia melanjutkan bahwa di Indonesia bahan bakar untuk mesin yang memiliki CN tinggi ada CN53, contohnya Pertamina Dex. CN53 diperuntukan mesin diesel generasi terbaru (common rail direct injection) yang dampaknya untuk usia filter bahan bakar dan injektor lebih panjang.
"Penggunaan bahan bakar CN53 akan membuat penggunaan pelumas juga lebih panjang. Sebaliknya kalau mobil diesel generasi baru menggunakan bahan bakar CN51, contohnya Bio Solar, akan memperpendek usia filter dan injektor. Jarak penggantian pelumas akan lebih pendek."
Senior Analys PCO & Specialties PT Pertamina Lubricants, Mulianto menyambung bahwa bicara mesin diesel, bicara mesin tangguh. Tapi, ratusan ribu kilometer mesin diesel yang tangguh bermula dari perawatan yang benar hari ini. Baca Juga:
Perbandingan Biaya Cas di Rumah BYD M6 dan Wuling Darion EV
"Performa maksimal, efisien, dan umur komponen lebih bukanlah kebetulan. Melainkan hasil dari kedisiplinan dalam merawat kendaraan. Salah satu yang sangat penting untuk pemilik mesin diesel mengenal fungsi pelumas di mesin diesel," ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa di pasaran tersedia oli mineral dan sintentis untuk mesin diesel. Oli mineral maksimal penggunaannya sampai 5.000 km. Oli sintetis bisa dipakai 7.500 km-10.000 km. Kelebihan oli sintetis bisa meredam panas ekstrem dari mesin, dibanding pendinginan oli mineral.
Disambung oleh CEO Inchcape GWM Indonesia, Bagus Susanto bahwa di Indonesia sejak pertengahan 2025 sampai 2026 mobil bermesin diesel menunjukan permintaan yang positif. Bahkan, mobil dengan teknologi mesin diesel diminati di Indonesia. Dari data komposisi penjualan Januari-Mei 2026, permintaan mobil diesel mendominasi, 67% mesin diesel, 21% BEV dan hybrid 12%.
"Fakta yang lain pertumbuhan permintaan Year on Year (YOY) varian diesel tumbuh 1,2% dibanding mobil bensin -7,1%. Sepertinya stabilnya pasar mobil mesin diesel karena banyaknya penggemar mesin diesel. Mesin diesel juga dikenal dengan ketangguhan, kuat, dan bahan bakar efisien," papar Bagus Susanto.
Namun semua pemateri kunci ini sepakat bahwa mobil bermesin diesel masih punya masa depan di Indonesia. Bahkan dikatakan oleh beberapa narsum bahwa memilih BBM diesel juga bukan hal yang salah. Ini hanya salah satu dari pilihan yang tepat selama penggunaan jenis BBM-nya jelas.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(UDA)





